Connect with us

Ekonomi

Pasar Keuangan Tertekan Hebat, Rupiah Terlempar ke Atas Rp17.000 dan IHSG BEI Terperosok

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pasar Keuangan Tertekan Hebat, Rupiah Terlempar ke Atas Rp17.000 dan IHSG BEI Terperosok

Tekanan hebat menimpa nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga masuk zona merah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan Senin (6/4/2024). (AI/Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia tertekan hebat di awal pekan pertama April 2026. Nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai memerah Senin (6/4/2024) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.

Melemahnya kurs rupiah dan IHSG yang sempat menguat di akhir pekan lalu,  dipicu oleh kekhawatiran global terhadap lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga : Pasar Keuangan Memerah Lagi: Rupiah Lewati Rp17.000 dan IHSG Anjlok 2% Terimbas Pernyataan Trump

Rupiah Cukup Mengkhawatirkan

Tekanan hebat dari situasi global membuat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cukup mengkhawatirkan. Rupiah kembali terlempar ke atas Rp17.000 per dolar AS sehingga  melewati level psikologis baru.

Rupiah sudah loyo sejak pembukaan perdagangan valuta asing Senin pagi ketika dibuka melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.996 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.

Advertisement

Tekanan terus menerpa rupiah sehingga pada penutupan perdagangan ditutup makin melemah sampai 55 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.035 per dolar AS.

Bahkan pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.037 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.015 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir Kontan, menyebutkan pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang sama-sama menekan pergerakan mata uang Garuda.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti memburuknya kondisi fiskal yang tercermin dari pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga : Bukan April Mop! Rupiah dan IHSG Sama-sama Perkasa Melesat Menguat Gara-gara Trump

Hingga Maret 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB.

Advertisement

Menurutnya, pelebaran defisit ini dipicu lonjakan belanja negara yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penerimaan.

Tercatat, total belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan (year on year/yoy), sementara penerimaan negara baru mencapai Rp 574,9 triliun.

“Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp 574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% dari Maret tahun lalu yakni Rp 404,7 triliun,” ujar Ibrahim, Senin (6/4/2026).

Selain faktor domestik, sentimen global juga turut membebani pergerakan rupiah. Untuk perdagangan Selasa (7/4/2026), pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Ibrahim mengungkapkan, investor tengah fokus pada tenggat waktu yang diberikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Advertisement

Baca Juga : Penutup Kuartal I 2026 Memerah: Sama-sama Terpeleset, Rupiah Makin Terpuruk, IHSG BEI Loyo

“Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika ketegangan meningkat dan mengganggu distribusi energi global, maka hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak serta memperburuk sentimen pasar terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada Selasa (7/4/2026) masih akan berada dalam tekanan, yakni di Rp 17.030–Rp 17.080 per dolar AS.

IHSG Terperosok ke Level 6.900

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 37,35 poin atau 0,53 persen ke posisi 6.989,43. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,82 poin atau 0,95 persen ke posisi 707,76.

Advertisement

Sejak pembukaan pagi tadi, indeks sudah menunjukkan tren bearish dengan IHSG dibuka melemah 25,22 poin atau 0,36 persen ke posisi 7.001,56. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,05 poin atau 0,43 persen ke posisi 711,53.

Baca Juga : Pasar Keuangan Indonesia Memerah, Rupiah Lewati Rp17.000 dan IHSG BEI Menegangkan

Pelemahan ini didominasi oleh rontoknya harga saham di sektor infrastruktur dan konsumen non-siklikal. Tercatat sebanyak 412 saham terkoreksi, sementara hanya 187 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Beberapa saham big caps yang menjadi pemberat indeks (laggards) antara lain:

  • DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk): Anjlok 9,34%
  • BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk): Turun 9,17%
  • MAPI (PT Mitra Adiperkasa Tbk): Melemah 4,98%

Di sisi lain, saham sektor energi seperti AMMN dan BUMI justru menguat di tengah kenaikan harga komoditas global.

Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut menjadi sentimen negatif yang menekan indeks. Presiden Trump mengeluarkan ancaman untuk menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur Iran mulai Selasa (7/4/2026) jika Iran tidak membuka sepenuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun secara terpisah, Trump menyatakan berharap ada peluang untuk mencapai kesepakatan pada Senin (6/4/2026).

Baca Juga : Akhir Pekan Kelabu: IHSG dan Rupiah Ambruk di Tengah Badai Global

Namun Iran menolak ultimatum tersebut dan menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya jika diberikan kompensasi kerusakan akibat perang.

Advertisement

“Investor global berada pada posisi yang tidak menentu di antara mengharapkan adanya kesepakatan yang mengakhiri perang dan eskalasi signifikan yang membuat harga minyak mentah terus menguat,” ungkap Analis Phintraco Sekuritas dikutip dari riset hariannya, Senin. Phintraco Sekuritas menambahkan, ada juga sentimen negatif dari beberapa saham yang masuk dalam daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per bulan Maret 2026. Di mana diantaranya adalah saham dengan kapitalisasi pasar yang besar, turut membebani pelemahan indeks.

“Ini karena kekhawatiran investor bahwa dalam saham-saham tersebut berpotensi akan dikeluarkan dari indeks MSCI pada rebalancing Mei 2026 mendatang,” lanjut Phintraco Sekuritas seperti dikutip dari VIVA.

Seperti dilaporkan investor.id IHSG diprediksi masih akan menguji level 6.900, pada perdagangan Selasa (7/4/2026).

“Secara teknikal, diperkirakan IHSG masih akan menguji level 6.900,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Senin (6/4/2026).

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham RAJA, RATU, DOOH, PSAB dan HRTA untuk trading, Selasa (7/4/2026).

Advertisement

Baca Juga : Fenomena Menarik, Rupiah Perkasa Menguat, IHSG Justru Terkapar di Zona Merah

Faktor Membuat Pasar Keuangan Membara

Analis menilai ada tiga faktor utama yang menyebabkan aksi jual masif (sell-off) oleh investor pada hari ini:

  1. Harga Minyak Dunia Tembus 100 dolar AS: Ketegangan antara AS-Israel vs Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Harga minyak yang melambung di atas 100 dolar AS per barel meningkatkan risiko inflasi tinggi (stagflasi).
  2. Capital Outflow: Investor asing cenderung menarik modal dari emerging markets seperti Indonesia dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas dan dolar AS.
  3. Sentimen Domestik: Pelaku pasar masih mencermati rilis data ekonomi kuartal I-2026 dan dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai terasa pada daya beli masyarakat.

Di tengah volatilitas yang tinggi, para investor dapat memilih:

  • Wait and See: tidak terburu-buru melakukan average down pada saham yang sedang terjun bebas.
  • Diversifikasi: mempertimbangkan aset yang tahan inflasi seperti emas (meskipun harga emas Antam hari ini juga terkoreksi tipis ke Rp 2.831.000/gram, secara jangka panjang tetap menjadi pelindung nilai).
  • Cermati Sektor Energi: Saham-saham batu bara dan mineral biasanya mendapat sentimen positif saat harga komoditas naik. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement