Olahraga
Big Question Menuju Goa, PB Gabsi Di Mana? Indonesia Mau Bertandingan atau Sekadar Jadi Penonton?

Ironi menjelang Asia Bridge Cup Goa, di saat negara lain didukung penuh federasinya, Indonesia justru mengandalkan kantong pribadi. (Ist)
Oleh : Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Ini bukan lagi soal strategi.
Ini soal harga diri.
Asia Bridge Cup akan digelar di Goa, India. Negara-negara lain sudah bersiap, mengirim tim terbaik, membangun kekuatan sejak jauh hari.
Indonesia?
Sampai hari ini…
belum ada satu pun tim resmi yang terdaftar.
Ya, Anda tidak salah baca.
Negara yang pernah berjaya, yang pernah menjadi juara umum, justru terancam datang tanpa representasi.
LEBIH MENYAKITKAN: YANG BERGERAK JUSTRU BUKAN FEDERASI
Di tengah kevakuman ini, muncul kabar yang ironis sekaligus menyedihkan.
Ada desas-desus bahwa:
- Ivory Aces akan berangkat di nomor beregu putri dengan biaya sendiri
- Bhineka Bridge Club juga berencana turun di nomor mixed—juga dengan biaya sendiri
Artinya apa?
Yang masih punya semangat juang adalah komunitas.
Bukan institusi.
Di saat negara lain didukung penuh federasinya,
Indonesia justru mengandalkan kantong pribadi.
PB GABSI DI MANA?
Pertanyaan ini tidak bisa lagi dihindari.
Apa yang sedang dilakukan PB Gabsi untuk event sebesar ini?
Tidak ada roadmap yang jelas.
Tidak ada gebrakan.
Tidak ada tanda-tanda kesiapan.
Padahal ini bukan turnamen kecil.
Ini adalah Asia Bridge Cup—
panggung yang menentukan posisi Indonesia di kawasan.
Kalau di momen sebesar ini saja tidak ada gerakan,
lalu kapan?
Jangan lupa, Indonesia Juara Umum tahun 2022 saat jadi tuan rumah.
INI BUKAN SEKADAR KETERTINGGALAN—INI KEMUNDURAN
Kita tidak sedang kalah di meja.
Kita kalah bahkan sebelum duduk bermain.
Negara lain sibuk menyiapkan kemenangan.
Indonesia sibuk… entah apa.
Dan yang paling berbahaya:
👉 Kita mulai terbiasa tidak hadir
👉 Kita mulai menganggap absennya Indonesia sebagai hal biasa
Di situlah kehancuran dimulai—diam-diam.
GOA AKAN JADI CERMIN PALING JUJUR
Kalau Indonesia benar-benar datang hanya melalui:
- tim swadaya
- inisiatif klub
- tanpa dukungan federasi
maka satu hal pasti:
Indonesia bukan lagi kekuatan.
Indonesia hanya tamu.
Dan tamu… tidak pernah ditakuti.
MASIH ADA WAKTU—TAPI TIDAK BANYAK
Situasi ini belum terlambat—tapi sudah sangat memalukan.
Masih ada kesempatan bagi PB Gabsi untuk:
- mengambil alih kendali
- mengirim tim resmi
- menunjukkan bahwa Indonesia masih serius
Tapi kalau tidak ada perubahan…
maka Goa bukan sekadar kehilangan medali.
Goa akan menjadi simbol bahwa Indonesia menyerah—tanpa perlawanan.
KESIMPULAN: INI SOAL MARTABAT, BUKAN TURNAMEN
Ini bukan soal kalah atau menang.
Ini soal:
apakah Indonesia masih peduli pada kejayaannya sendiri.
Karena kalau untuk sekadar hadir saja tidak mampu,
maka jangan bicara soal juara. ***














