Connect with us

Lapsus

Kapan Anak Siap Calistung Mengingat Pascapandemi?

Avatar

Diterbitkan

pada

calistung

Kapan Anak Siap Calistung Mengingat Pascapandemi? (Foto Ilustrasi: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Seperti yang kita ketahui, bahwa membaca, menulis, dan menghitung merupakan kemampuan paling mendasar, karena bukan hanya untuk berinteraksi dengan lingkungan, tetapi juga mempercepat proses penyerapan dan mendapatkan ilmu pengetahuan itu sendiri (Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, 2020).

Bahkan tiga kemampuan inilah yang merupakan acuan bagi negara kita untuk menjadi negara yang maju. Dibuktikan dengan adanya kegiatan wajib literasi. Nah, selanjutnya kita akan mengenal lebih dalam terkait calistung.

Apa itu Calistung?

Kemampuan membaca, menulis, dan menghitung atau yang biasa kita sebut calistung (Wawan S. Suherman, 2010) adalah kemampuan dasar yang ditempuh setiap manusia diawal pendidikan. Sugiono dan Kuntjojo dalam konteks kurikulum anak usia menyatakan bahwa membaca dan menulis disebut dengan keaksaraan atau literasi yang termasuk dalam pengembangan bahasa sedangkan berhitung merupakan pengembangan kogitif  (Sugiono, 2016).

Meskipun kemampuan kognitif berkembang secara dramatis selama tahap praoperasional, Piaget mencatat bahwa proses berpikir anak masih sangat terbatas dan khawatir akan membuat anak terbebani secara mental (Nevid, 2021).

Tetapi banyak ahli yang bertolak belakang dari pendapat tersebut, seperti seorang peneliti Dr. Marian Diamond (Mike Lawler, 2005) berpendapat bahwa sejak manusia lahir sampai meninggal duniapun akan sangat mungkin untuk meningkatkan mentalitas melalui rangsangan lingkungan, dan Elisabeth G. Hainstock salah satu tokoh dari teori Montessori yang berpendapat bahwa puncak perkembangan otak anak adalah pada usia prasekolah (Murtie, 2013).

Advertisement

Dari pendapat-pendapat para ahli, dapat kita simpulkan bahwa kemampuan dasar calistung boleh diperkenalkan kepada semua usia dengan catatan sesuai dengan tahapan perkembangan. Tetapi, orang tua dan guru memberikan pengetahuan dasar tentang membaca, menulis dan berhitung tanpa harus memaksa anak untuk menguasainya, yaitu dengan memperkenalkan anak calistung melalui kegiatan bermain (isnaini, 2022).

Menurut Iman Nurjaman 2018, salah satu metode yang dapat diterapkan oleh orang tua atau guru dalam mengenalkan calistung pada anak adalah dengan Metode CAEM (Cepat, Aktif, Efektif, Menyenangkan), yang mana metode ini sudah diuji coba kepada anak didik disalah satu PAUD terpadu dengan tahapan dan jenjang usia yang sudah disesuaikan

Beberapa ragam kegiatan CAEM yang akan dijelaskan pada pembahasan secara terpisah, yakni:
(1) Mengenal bunyi awal benda, (2) Bernyanyi sambil membaca, (3) Belajar melalui bercerita, (4) Bermain sambil membaca (Maksuroh, 2020).

Metode-metode seperti ini tentunya membutuhkan media pembelajaran menarik yang mendukung aspek perkembangannya, seperti media yang penuh dengan warna, bentuk ataupun gambar. (Mardiyanti, 2021) Dapat diperkenalkan juga dengan simbol-simbol yang melatih persiapan membaca, menulis, dan menghitung pada anak (Saripudin A., 2021).

Kesimpulan

Calistung menjadi kemampuan dasar perkembangan kognitif anak dalam berpikir, yang dapat kita terapkan sesuai pada tahap perkembangan anak. Calistung sendiri dapat diperkenalkan kepada anak dengan usia berapapun, tang tentunya dengan tahap perkembangan sesuai usia anak.

Advertisement

Dalam pengenalan calistung juga tidak diperbolehkan adanya paksaan yang beresiko akan membuat anak tidak memiliki inisiatif dalam dirinya (Rezka Arina Rahma, Madiun). Supaya anak tidak jenuh dalam mengenal calistunng, para orang tua ataupun guru bisa memakai metode CAEM (Cepat, Aktif, Efektif, dan Menyenangkan).

Metode ini dapat diaplikasikan kepada anak usia dini, diperkenalkan melalui permainan dengan perpaduan yang menarik minat anak dalam mengenal huruf maupun angka.

Daftar Pustaka

Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M. (2020). Pendidikan Islam anak usia dini : pendidikan Islam dalam menyikapi kontroversi belajar membaca pada anak usia dini. Sanabil.

Iman Nurjaman, N. R. (2018). Bisa dan Biasa Membaca dengan Metode CAEM (Cepat, Aktif, Efektif, Menyenangkan). Yogyakarta: Deepublish.

isnaini, d. j. (2022). Sosialisasi Belajar Calistung Pada Anak Usia Dini Bersama Orang. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3.

Advertisement

Maksuroh. (2020). Prmbelajaran CALISTUNG (Studi Kasus Pembelajaran Tambahan di RA Hidayatullah Surabaya). Surabaya: Kementrian Agama UIN Sunan Ampel Surabaya.

Mardiyanti, T. (2021). Pengembangan Model Stimulasi CALISTUNG pada Sentra Persiapan bagi Anak Usia Dini di TK Islam Integral Darul Fikri Kota Bengkulu. Bengkulu: Kementrian Agama Institut Agama Islam Negeri Bengkulu.

Mike Lawler, R. N. (2005). La Crescenta. Chicago: Arcadia Publishing.

Murtie, A. (2013). Mengajari Anak CALISTUNG Sejak Dini Dengan Bermain (Panduan Praktis untuk Orangtua. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Nevid, J. S. (2021). Perkembangan Anak: Konsepsi dan Aplikasi Psikologi. Indonesia: NUSAMEDIA.

Advertisement

Novan Ardy Wiyani, B. (2017). Format PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). In B. Novan Ardy Wiyani, Format PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) (p. 5). Jakarta: Ar-Ruz Media.

Rezka Arina Rahma, d. (Madiun). Pembinaan Guru Raudhatul Athfal (RA) Muslimat Dalam Penyelenggaraan Program Parenting Education. 2021: CV. Bayfa Cendekia Indonesia.

Saripudin A., F. I. (2021). Model Edutainment Dalam Pembelajaran PAUD. Depok: PT. RajaGrafindo Persada.

Sugiono, K. (2016). Pengembangan Model Permainan Pracalistung Anak Usia Dini. Pendidikan Anak Usia Dini, 262.

Tumiwa-Bachrens, I. (2021). Belajar Tanpa Batas. In I. Tumiwa-Bachrens, seni parenting dan pendidikan mindful (pp. 48-52). jakarta selatan: PT. Kawan Pustaka.

Advertisement

Wawan S. Suherman, E. S. (2010). Pemanfaatan Pragmatisme John Dewey Dalam Pembelajaran Di Taman Kanak-kanak. WUNY, 3-11.*** (Nurhaliza)

Lanjutkan Membaca