Connect with us

Olahraga

Mamuju, Bridge, dan Masa Depan Sport Tourism Indonesia

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Di saat banyak destinasi besar mulai kehilangan karakter karena overkomersialisasi, Mamuju justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: keaslian pengalaman. (Ist)

Di saat banyak destinasi besar mulai kehilangan karakter karena overkomersialisasi, Mamuju justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: keaslian pengalaman. (Ist)

Oleh: Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Indonesia terlalu lama memandang event olahraga sebagai kegiatan selesai pakai: datang, bertanding, pulang. Tidak ada jejak. Tidak ada dampak berkelanjutan. Tidak ada cerita.

Padahal dunia sudah berubah.

Hari ini, olahraga bukan lagi sekadar kompetisi. Ia adalah alasan orang bepergian, bagian dari industri besar bernama sport tourism. Negara-negara maju sudah memahami ini sejak lama. Mereka tidak menjual event—mereka menjual pengalaman.

Dan di tengah perubahan itu, sebuah peluang besar muncul di tempat yang mungkin belum banyak diperhitungkan: Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat.

 

Advertisement

Momentum yang Tidak Boleh Gagal

Penyelenggaraan Kejurnas Bridge ke-60 dan Kongres GABSI ke-19 di Mamuju bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini adalah momentum strategis.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah ini hanya akan menjadi turnamen biasa?

Atau menjadi titik balik?

Advertisement

Jika hanya berhenti pada pertandingan, maka Mamuju akan berlalu seperti kota-kota lain yang pernah menjadi tuan rumah—ramai sesaat, lalu dilupakan.

Namun jika dikemas sebagai sport tourism, dampaknya bisa jauh lebih besar:

ekonomi bergerak, citra daerah terangkat, dan yang paling penting—bridge mendapatkan panggung baru.

 

Mamuju Punya Semua yang Dibutuhkan

Advertisement

 

Tidak semua kota memiliki kombinasi yang dimiliki Mamuju.

Di satu sisi, ada kualitas destinasi:

  • Pulau Karampuang dengan terumbu karang yang masih terjaga
  • Anjungan Pantai Manakarra dengan panorama senja dan Gong Perdamaian Nusantara
  • Pantai Ara yang tenang
  • Taman Wisata Gentungan yang hijau dan asri

Di sisi lain, ada suasana yang justru menjadi kekuatan:

Mamuju belum “ramai”. Belum jenuh. Belum kehilangan keaslian.

Ini bukan kelemahan. Ini nilai jual.

Advertisement

Di saat banyak destinasi besar mulai kehilangan karakter karena overkomersialisasi, Mamuju justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: keaslian pengalaman.

 

Bridge Harus Keluar dari Zona Nyaman

Di sinilah letak persoalan sebenarnya.

Selama ini, bridge terlalu sering terjebak dalam eksklusivitasnya sendiri. Turnamen digelar untuk pemain, oleh pemain, dan hanya dinikmati oleh pemain.

Advertisement

Akibatnya, bridge berjalan di tempat.

Padahal, bridge memiliki semua elemen untuk menjadi bagian dari sport tourism:

  • durasi event yang panjang
  • komunitas yang loyal
  • mobilitas pemain yang tinggi
  • serta kebutuhan interaksi sosial yang kuat

Menggabungkan semua itu dengan destinasi seperti Mamuju adalah langkah logis. Bahkan—seharusnya—menjadi keharusan.

 

Dampak Nyata: Lebih dari Sekadar Juara

Jika Kejurnas Bridge ke-60 dan Kongres GABSI ke-19 dikemas dengan pendekatan sport tourism, maka efeknya langsung terasa:

Advertisement
  • Hotel dan penginapan terisi penuh
  • Kuliner lokal hidup
  • Transportasi bergerak
  • UMKM mendapatkan pasar baru

Namun yang lebih penting dari itu semua adalah efek jangka panjang:

👉 Mamuju masuk dalam peta destinasi nasional

👉 Bridge naik kelas dari olahraga “sunyi” menjadi bagian dari gaya hidup

👉 Event berikutnya punya standar baru yang lebih tinggi

 

Belajar dari Dunia, Bukan Mengulang Masa Lalu

Advertisement

Kita tidak kekurangan contoh.

Beberapa kota di dunia berhasil mengangkat diri melalui event olahraga yang terintegrasi dengan pariwisata. Mereka tidak menunggu populer—mereka menciptakan popularitas itu.

Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang sama.

Dan justru karena belum terlalu besar, Mamuju adalah tempat yang ideal untuk memulai.

 

Advertisement

Taruhannya Jelas: Berani atau Biasa Saja

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan penyelenggara, pemerintah daerah, dan komunitas bridge itu sendiri.

Apakah Kejurnas ini akan:

  • sekadar menjadi agenda tahunan,

atau

  • menjadi tonggak perubahan?

Karena satu hal yang pasti:

event seperti ini tidak datang dua kali dengan momentum yang sama.

 

Advertisement

Penutup

Jika kita terus menjalankan event dengan cara lama,

maka hasilnya juga akan tetap sama: biasa saja.

Namun jika berani mengubah cara pandang—

maka dari sebuah kota di tepi Teluk Mamuju,

Advertisement

Indonesia bisa memulai sesuatu yang baru.

Bridge tidak harus selalu dimainkan di ruang tertutup.

Ia bisa menjadi alasan orang datang, tinggal, dan jatuh cinta pada sebuah kota.

Dan jika itu terjadi,

maka Mamuju tidak hanya menjadi tuan rumah.

Advertisement

Ia menjadi sejarah. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement