Connect with us

Kesra

Pesan Tahun Baru 1448 H, Menag Nasaruddin Ungkap Bagaimana Mengukur Apakah Kita Beragama atau Tidak?

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat penyambutan Tahun Baru Hijriah 1448 H di Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026). (Kemenag)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat penyambutan Tahun Baru Hijriah 1448 H di Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026). (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Ada yang menarik dan penting dari pesan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menghadiri penyambutan Tahun Baru Hijriah 1448 H di Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026).

Dalam pesannya, Menag Nasaruddin mengungkapkan bagaimana kita mengukur apakah kita beragama atau tidak.

Pada kesempatan itu Nasaruddin mengajak umat Islam tidak sekadar memaknai Tahun Baru 1448 H sebagai pergantian kalender, melainkan sebagai momentum untuk melakukan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Semangat hijrah harus diwujudkan dalam aksi konkret yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Hijrah itu bukan sekadar perpindahan tempat dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah transformasi spiritual dan sosial menuju pribadi yang lebih baik. Semangat hijrah kita saat ini harus tecermin dari seberapa peduli kita kepada sesama, bagaimana kita menjaga lingkungan, serta komitmen kita untuk selalu menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat,” kata  Menag.

Di hadapan ribuan jemaah yang hadir, Nasaruddin menegaskan bahwa esensi dari beragama adalah menebarkan kasih sayang, bukan permusuhan. Ia mengingatkan agar narasi agama tidak disalahgunakan untuk memecah belah bangsa.

Advertisement

“Kalau kita mau mengukur apakah kita beragama atau tidak, lihatlah seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesama. Kalau ada orang berbicara tentang agama tetapi mengumbar kebencian, maka sesungguhnya ia sedang menjauh dari substansi ajaran agama itu sendiri,” tutur Nasaruddin seperti dilansir laman Kemenag.

Selain refleksi personal, Menag Nasaruddin juga menyerukan restrukturisasi peran masjid di era modern. Merujuk pada sejarah penetapan kalender Hijriah di masa Khalifah Umar bin Khattab, momentum hijrah Nabi Muhammad SAW adalah awal dari pembangunan peradaban baru. Pada masa itu, masjid berfungsi multisektoral.

“Masjid harus terus menjadi pusat peradaban yang menghadirkan manfaat bagi umat dan memperkuat persatuan serta kepedulian sosial,” ungkapnya.

Menurutnya, masjid tidak boleh pasif dan hanya menjadi tempat ibadah ritual, melainkan harus hidup sebagai pusat pendidikan, musyawarah, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Patrikan Hati kepada Masjid

Advertisement

Senada dengan Menag, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan bahwa megahnya bangunan tempat ibadah seperti Masjid Al Jabbar harus berdampak lurus pada kedisiplinan dan kepedulian sosial jemaahnya. Syiar Islam, menurut Dedi, tidak boleh berhenti di dalam dinding masjid saja.

“Masjid Al Jabbar bukan hanya berdomisili di Bandung, tetapi harus hadir dalam setiap hati jamaah yang datang ke sini,” kata Dedi.

Perayaan Tahun Baru Hijriah ini diharapkan menjadi titik balik bagi umat Islam untuk memperkuat persaudaraan dan membawa dampak positif bagi lingkungan dan sesama. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement