Connect with us

Ekonomi

Pasar Keuangan Indonesia Memerah, Rupiah Lewati Rp17.000 dan IHSG BEI Menegangkan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis baru, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berada dalam kondisi menegangkan pada perdagangan, Senin (30/3/2026).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis baru, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berada dalam kondisi menegangkan pada perdagangan, Senin (30/3/2026). (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan domestik mengalami tekanan hebat sehingga memerah pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis baru, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berada dalam kondisi menegangkan pada perdagangan, Senin (30/3/2026).

Kombinasi sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan moneter global menjadi pemicu utama aksi jual investor di pasar modal maupun pasar valas.

Rupiah Lewati Level Rp17.000

Berdasarkan data pasar spot, nilai tukar rupiah resmi melewati angka Rp17.000 terhadap dolar AS. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,13% atau turun 22 poin ke level Rp17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate(JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.993 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.957 per dolar AS.

Advertisement

Sejak pembukaan pagi, Rupiah sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan dengan dibuka

melemah 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.981 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.

Ada beberapa sentimen negatif yang saling berkelindan menghantam posisi rupiah hari ini:

  1. Ketegangan Geopolitik: Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia.
  2. Harga Minyak Melambung: Harga minyak mentah dunia yang mendekati 100 dolar AS per barel menambah beban subsidi energi pemerintah dan memperlebar defisit transaksi berjalan.
  3. Suku Bunga The Fed: Inflasi di Amerika Serikat yang masih sulit turun membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) kian menjauh.
  4. Aliran Modal Keluar (Outflow): Kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia menunjukkan peningkatan persepsi risiko, sehingga investor asing memilih melakukan aksi jual.

Pelemahan Rupiah hingga ke level Rp17.000 ini tentu menjadi alarm bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Harga barang-barang elektronik hingga kebutuhan pokok yang memiliki komponen impor berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat.

Kini, perhatian pasar tertuju pada Bank Indonesia (BI). Pelaku usaha menantikan langkah intervensi dari bank sentral, baik melalui pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) maupun intervensi langsung di pasar spot untuk menahan depresiasi Rupiah agar tidak merosot lebih dalam di bulan April mendatang.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi seperti dilansir mediaindonesia mengatakan pelemahan ini dipicu eskalasi perang Iran pascakelompok Houthi membuka front baru dalam perang.

Advertisement

“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Dari dalam negeri, Ibrahim melihat bahwa rupiah dibayangi sentimen efisiensi anggaran. “Maka dari itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri tunggal untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan,” kata Ibrahim.

Adapun untuk besok (31/3/2026), Ibrahim menilai dinamika eskalasi masih turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (31/3/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.000 – Rp 17.040 per dolar AS.

IHSG Sempat Anjlok

Advertisement

Kondisi bursa saham tidak kalah menegangkan. IHSG dibuka melemah 76,53 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.020,53. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 11,00 poin atau 1,53 persen ke posisi 707,96.

Bahkan IHSG sempat anjlok lebih dari 1% ke level terendah 6.945,50 pada sesi pagi, sebelum akhirnya berhasil menipiskan ketertinggalan di akhir perdagangan.

Saat penutupan, IHSG ditutup melemah 5,39 poin atau 0,08 persen ke posisi 7.091,67. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,47 poin atau 0,20 persen ke posisi 717,49.

Meskipun indeks secara keseluruhan melemah, sektor energi justru menjadi penyelamat dengan penguatan signifikan sebesar 2,18%. Kenaikan harga minyak dan komoditas global menjadi angin segar bagi emiten-emiten di sektor ini di tengah rontoknya sektor keuangan dan bahan baku.

Faktor Pemicu Pelemahan Pasar:

Advertisement
  1. Eskalasi Geopolitik: Konflik antara AS-Israel dengan Iran yang kian memanas meningkatkan persepsi risiko di pasar berkembang (emerging markets).
  2. Ketidakpastian The Fed: Inflasi AS yang masih membandel memicu ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer).
  3. Harga Minyak Melambung: Risiko gangguan suplai di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah naik, yang berdampak pada beban subsidi energi domestik.
  4. Sentimen Fiskal: Kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia menunjukkan peningkatan persepsi risiko gagal bayar yang membuat investor asing cenderung keluar (outflow).
  5. Tekanan Nilai Tukar: Rupiah yang sempat menembus angka Rp17.000 per dolar AS memberikan sentimen negatif bagi emiten yang memiliki beban utang valas tinggi.
  6. Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Investor cenderung mengamankan aset tunai di tengah ketidakpastian awal pekan.

Para pelaku pasar kini menantikan langkah antisipatif dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terus terdepresiasi lebih dalam di bulan April mendatang.

Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada namun tidak panik. Fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan emiten yang memiliki eksposur ekspor komoditas bisa menjadi strategi jitu menghadapi volatilitas pasar di sisa pekan ini.

“Secara teknikal, pembentukan histogram MACD cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak dikisaran level 7.000-7.200 pada perdagangan Selasa (31/3/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Senin (30/3/2026).

Seperti dilansir investor.id, broker efek itu menjelaskan, pemerintah sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga WFH sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan ekonomi domestik.

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham BUMI, DEWA, MAPI, MBMA, dan SMDR untuk trading, Selasa (31/3/2026).

Sementara itu Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai bursa global dan regional Asia yang mayoritas terkoreksi juga menjadi beban bagi pergerakan IHSG. Selain itu, memanasnya konflik di Timur Tengah juga memengaruhi gerak IHSG. Keterlibatan Houthi Yaman dalam eskalasi konflik dinilai turut mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Advertisement

“Untuk besok, kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support di 7.053 dan resistance di 7.118. Timur Tengah masih menjadi cermatan dari pelaku pasar dan investor,” ujar Herditya seperti dikutip dari kontan.

Herditya merekomendasikan investor untuk mencermati sejumlah saham, di antaranya AGII dengan target harga Rp 3.600–Rp 3.780, ESSA di kisaran Rp 805–Rp 830, serta PTBA dengan target harga Rp 3.220–Rp 3.300 per saham. ***

Statistik IHSG Senin, 30 Maret 2026:

  • Penutupan:091,67 (Turun 0,08%)
  • Level Tertinggi:104,64
  • Level Terendah:945,50
  • Saham Turun: 428 saham
  • Saham Naik: 280 saham

Lanjutkan Membaca
Advertisement