Ekonomi
Rupiah di Kisaran 18 Ribu, BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Jaga Rupiah

Nila tukar rupiah makin terpuruk, capai angka 18 ribuan. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang saat ini makin melemah berada di kisaran Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat.
Perry mengatakan sinergi antara pemerintah dan BI selama ini berjalan erat dan akan terus ditingkatkan agar mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
“Koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat erat. Kami bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan,” ujar Perry usai menghadiri pertemuan dengan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Pertemuan tersebut juga dihadiri Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurut Perry, fokus utama koordinasi saat ini adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui dua langkah strategis. Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar kembali menarik minat investor asing dan mendorong masuknya aliran modal ke pasar keuangan Indonesia.
Ia menjelaskan, kenaikan suku bunga di sejumlah negara maju telah memicu arus keluar modal dari berbagai instrumen investasi dalam negeri, mulai dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Masuknya kembali dana asing ke pasar domestik diyakini dapat memperkuat pasokan devisa dan membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Selain itu, langkah kedua yang ditempuh adalah memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang terkoordinasi dengan kebijakan moneter BI.
Perry menilai pengelolaan likuiditas yang terintegrasi akan membuat kebijakan fiskal dan moneter berjalan searah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Dengan penguatan koordinasi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia berharap gejolak yang berasal dari faktor global dapat diredam sehingga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah tetap terjaga.***










