Connect with us

Ekonomi

Pasar Keuangan Memerah Lagi: Rupiah Lewati Rp17.000 dan IHSG Anjlok 2% Terimbas Pernyataan Trump

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali tembus level psikologis dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok terimbas panasnya geopolitik mewarnai pasar keuangan domestik Kamis (2/4/2026). (AI/Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali tembus level psikologis dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok terimbas panasnya geopolitik mewarnai pasar keuangan domestik Kamis (2/4/2026). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Keceriaan yang menyelimuti pasar keuangan Indonesia sehari sebelumnya langsung berubah menjadi awan mendung hari ini, Kamis (2/4/2026, setelah nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama terjerembah ke zona merah.

Pasar keuangan domestik memerah lagi  dengan nilai tukar rupiah dan IHSG  ditutup melemah tajam pada Kamis (2/4/2026).

Kurs rupiah bahkan melewati nilai Rp17.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di penutuan pasar valuta asing. Sedangkan IHSG anjlok melemah  2,19 persen ke posisi 7.026,78 pada penutupan perdagangan saham.

Sentimen negatif dari eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi jual massal oleh para investor. Terutama gara-gara pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak konsisten tentang perang  melawan Iran di Teluk Persia.

Rupiah Tembus Level Psikologis Baru

Advertisement

Berdasarkan data pasar spot, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,12% ke level Rp17.002 per dolar AS. Angka ini menandai pertama kalinya rupiah menembus level psikologis Rp17.000 dalam periode terakhir.

Padahal saat pembukaan perdagangan Kamis pagi,  rupiah sempa menguat 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.982 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.983 per dolar AS.

Namun setelah itu rupiah bergerak negatif sehingga pada  penutupan perdagangan Kamis sore, ditutup melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.983 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.015 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.002 per dolar AS.

Pelemahan ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) seiring dengan pernyataan keras Trump terkait konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian global membuat investor global berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke mata uang safe haven.

Advertisement

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sepeeti dilansir inpotnews, mencatat bahwa indeks dolar AS menguat hari ini dipicu oleh retorika agresif dari Washington.

“Presiden Donald Trump memberikan pernyataan mengejutkan terkait eskalasi militer di Timur Tengah yang langsung memicu ketidakpastian global. Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa militer AS hampir menyelesaikan tujuannya, namun serangan akan diintensifkan dalam waktu dekat,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Selain faktor itu, pasar juga tengah bersiap menanti rilis data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam. Serangkaian data ekonomi akan dirilis akhir pekan ini, termasuk Klaim Pengangguran Awal mingguan AS yang akan dirilis malam ini, dilanjutkan dengan Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian (NFP) yang akan dirilis besok hari Jumat.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kekhawatiran melambungnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) akibat kenaikan harga minyak dunia. “Pemerintah memproyeksikan defisit bisa melebar ke angka 2,9% terhadap PDB, mendekati batas aman 3%, jika harga minyak konsisten di level US$100 per barel,” ungkap Ibrahim.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan akan dipengaruhi sejumlah faktor. Seperti dilansir kontan, Amru mengemukakan, dari sisi global, pelaku pasar akan fokus pada arah kebijakan moneter The Fed, rilis data ekonomi AS seperti Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi. Serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi sentimen pasar dan arus modal. Selain itu, pergerakan harga komoditas terutama minyak juga menjadi faktor penting yang berdampak pada mata uang emerging markets.

Advertisement

Sementara itu, dari sisi domestik, penurunan inflasi Indonesia ke level 3,48% secara year on year (YoY) pada Maret 2026 memberikan sinyal meredanya tekanan harga, meskipun dampaknya terhadap penguatan rupiah relatif terbatas.

Amru memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan rupiah bergerak bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp 16.950 – Rp17.100 per dolar AS.

IHSG Babak Belur

Kondisi serupa terjadi di lantai bursa. IHSG ditutup anjlok 157,66 poin atau 2,19% ke posisi 7.026,78. Sepanjang hari, indeks bergerak di zona merah dengan tekanan jual yang masif pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Kalau rupiah sempat memberikan harapan dengan dibuka menguat saat pembukaan perdagangan maka IHSG sudah loyo sejak Kamis pagi.

Advertisement

Pada pembukaan perdagangan saham, IHSG dibuka melemah 31,33 poin atau 0,44 persen ke posisi 7.153,11. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,32 poin atau 0,18 persen ke posisi 725,47.

Selanjutnya IHSG tidak mampu bangkit sehingga ditutup melemah 157,66 poin atau 2,19 persen ke posisi 7.026,78. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,21 poin atau 1,68 persen ke posisi 714,58.

Berikut adalah poin-poin penting penutupan IHSG hari ini:

  • Sektor Terlemah: Sektor bahan baku memimpin pelemahan dengan penurunan drastis mencapai 4,86%, diikuti sektor infrastruktur yang merosot 3,96%.
  • Statistik Saham: Tercatat sebanyak 558 saham melemah, sementara hanya 184 saham yang berhasil menguat, dan 216 saham lainnya stagnan.
  • Nilai Transaksi: Total transaksi hari ini mencapai Rp12,76 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 23,93 miliar saham.
  • Penyebab Utama: Faktor Eksternal dan Harga Minyak

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai pelemahan IHSG tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah yang dipicu pernyataan Trump.

“IHSG melemah setelah harga minyak mentah berbalik menguat akibat pidato Presiden Trump mengenai perang Iran,” jelasnya.

Di sisi lain, pelaku pasar domestik juga cenderung bersikap wait and see menjelang periode libur panjang, sehingga turut menekan aktivitas perdagangan.

Advertisement

Untuk perdagangan awal pekan depan, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas.

Secara teknikal, ia memproyeksikan support IHSG berada di level 6.892 dan 7.005. Sementara itu, resistance berada di kisaran 7.117 hingga 7.222.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa depresiasi rupiah dan kejatuhan IHSG saat ini lebih disebabkan oleh tekanan eksternal yang sangat kuat. “Sumber guncangan datang dari dolar yang kuat, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan perpindahan dana ke aset aman akibat ancaman geopolitik,” ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz memberikan tekanan tambahan bagi neraca perdagangan Indonesia, yang memicu kekhawatiran akan membengkaknya subsidi energi di APBN. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement