Connect with us

Ekonomi

Fenomena Menarik, Rupiah Perkasa Menguat, IHSG Justru Terkapar di Zona Merah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah membuat kejutan dengan melawan arus dengan tampil perkasa menguat dalam perdagangan valuta Kamis (26/3/2026) sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), melemah.

Rupiah membuat kejutan dengan melawan arus dengan tampil perkasa menguat dalam perdagangan valuta Kamis (26/3/2026) sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), melemah. (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Fenomena menarik muncul pada pasar keuangan domestik hari ini, Kamis (26/3/2026). Ketika nilai tukar rupiah perkasa mengaut terhadap dolar Amerika Serikat (AS), justru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), melemah terkapar di zona merah.

Kontradiksi ini menarik perhatian para pelaku pasar, mengingat biasanya penguatan mata uang seringkali menjadi katalis positif bagi bursa saham.    

Apalagi penguatan rupiah terhadap dolar AS tergolong istimewa karena terjadi di saat mayoritas mata uang Asia lainnya, seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand, justru sedang “loyo” dihantam mata uang Negeri Paman Sam.

Berbanding terbalik dengan rupiah, IHSG justru mengalami hari yang kelabu karena sempat dibuka optimis di zona hijau namun kemudian  kehilangan tenaga dan ditutup merosot tajam ke zona merah.

Rupiah Melawan Arus

Advertisement

Di pasar spot, Rupiah berhasil menutup hari dengan senyuman. Mata uang Garuda menguat tipis 7 poin atau 0,04% ke level Rp16.904 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.911 per dolar AS

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp16.903 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.905 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah sudah perkasa sejak  pembukaan perdagangan Kamis pagi, ketika bergerak menguat 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.889 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.911 per dolar AS.

Meski tipis, penguatan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah tekanan global yang cukup masif.

Intervensi  Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dinilai menjadi benteng utama yang menahan gempuran sentimen global. Langkah taktis Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing (valas) dan pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) dinilai efektif menjaga stabilitas agar Rupiah tidak terperosok lebih dalam ke zona psikologis Rp17.000.

Advertisement

Kemudian kebijakan BI yang tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dipandang sebagai jangkar yang kuat untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing.

Sentimen De-eskalasi Timur Tengah juga ikut memberi dorongan rupiah. Adanya kabar mengenai draf proposal perdamaian antara AS dan Iran memberikan sedikit napas lega bagi pasar. Kabar ini turut memicu penurunan harga minyak mentah, yang secara langsung mengurangi kekhawatiran terhadap beban subsidi energi di APBN kita.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir liputan6 menilai penguatan rupiah diiringi sinyal diplomatik sementara dari Iran yang meninjau proposal AS untuk negosiasi damai.

“Pasar mempertimbangkan sinyal diplomatik sementara dari Tehran, di mana para pejabat dilaporkan sedang meninjau proposal yang didukung AS yang bertujuan untuk menghentikan permusuhan,” katanya Kamis (26/3/2026).

Pasar juga memantau harga minyak yang sangat fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir karena konflik tersebut mengganggu aliran energi dari Teluk, wilayah penting bagi pasokan minyak mentah global. Minyak mentah Brent telah melonjak di atas 119 dolar AS per barel awal bulan ini karena kekhawatiran gangguan pasokan.

Advertisement

Kontras dengan Tetangga Asia

Performa Rupiah hari ini terbilang unik. Jika kita melirik negara tetangga, kondisinya justru berbalik arah. Berikut adalah perbandingannya:

Mata UangPergerakan
Rupiah IndonesiaMenguat 0,04%
Ringgit MalaysiaMelemah 0,73%
Baht ThailandMelemah 0,30%
Won Korea SelatanMelemah 0,28%
Yuan ChinaMelemah 0,02%

IHSG Terpeleset dari Level Psikologis

Sayangnya, penguatan mata uang tidak menular ke pasar saham BEI. IHSG justru harus rela parkir di zona merah. IHSG pada Kamis sore, ditutup turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia, seiring dengan ketidakpastian negosiasi gencatan senjata antara AS dengan Iran.

IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 138,03 poin atau 1,89 persen ke posisi 7.164,09. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 14,72 poin atau 1,97 persen ke posisi 731,73

Advertisement

Padadal saat pembukaan IHSG sempat dibuka menguat 11,54 poin atau 0,16 persen ke posisi 7.313,66. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,42 poin atau 0,06 persen ke posisi 746,87.

Setelah itu IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Tekanan jual yang besar di sesi sore membuat indeks kehilangan tenaga setelah sempat dibuka menghijau di awal perdagangan.

IHSG harus terpeleset ke zona merah diantaranya karena Aksi Ambil Untung (Profit Taking) dimana investor mulai merealisasikan keuntungan di sektor energi yang sebelumnya melesat.

Kemudian sektor energi rontok sehingga menjadi beban terberat dengan koreksi sedalam 2,91%.

Advertisement

Tidak ketinggalan sentimen ketidakpastian geopolitik meskipun ada sinyal damai di Timur Tengah, pasar tetap waspada terhadap potensi inflasi global yang belum sepenuhnya jinak.

Efek MSCI juga ikut berperan. Isu mengenai perubahan bobot atau perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia oleh MSCI kembali mencuat, membuat investor asing cenderung bersikap selektif dan berhati-hati.

Head of Research and Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menjelaskan pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh profit taking di tengah ketidakpastian adanya negosiasi untuk gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Pasar tengah kesulitan memahami pernyataan yang kontradiktif antara AS dan Iran selama 48 jam terakhir mengenai status perundingan perdamaian,” tulisnya dalam riset yang dirilis pada Kamis (26/3/2026), seperti dilansir kontan. 

Ini tercemin dari pergerakan bursa global. Di pasar saham Asia bergerak bervariatif. Misalnya, indeks Nikkei 225 yang ditutup melemah 0,27% dan Shanghai Composite ditutup turun 1,09%.

Advertisement

Secara keseluruhan, sebanyak 380 saham melemah, berbanding terbalik dengan 292 saham yang menguat. Nilai transaksi total hari ini tergolong sangat ramai, menembus angka Rp32,34 triliun.

Rangkuman Pergerakan Sektor

Hampir seluruh sektor “babak belur” hari ini, kecuali satu yang berhasil menjadi hero:

SektorPergerakanKeterangan
Transportasi+2,96%Satu-satunya yang Menghijau
Energi-2,91%Penurunan Terdalam
Perindustrian-2,79%Tertekan Biaya Logistik
Barang Baku-2,27%Mengikuti Harga Komoditas
Keuangan-0,64%Saham Perbankan Big Caps Terkoreksi

Perbandingan Performa Hari Ini

InstrumenPosisi PenutupanPerubahanStatus
RupiahRp16.904 / USD+0,04%Menguat
IHSG7.164,09-1,89%Melemah

Perkiraan Esok Hari

Advertisement

Secara teori, rupiah yang kuat biasanya membuat aset Indonesia lebih murah bagi asing. Namun, analis menilai pelemahan IHSG hari ini lebih dipicu oleh faktor internal sektoral dan penyesuaian portofolio menjelang akhir kuartal (Window Dressing yang tertunda).

Sementara itu, Rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh intervensi kebijakan moneter BI yang sangat disiplin.

Para analis memperkirakan untuk esok hari, rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung stabil di kisaran Rp16.850 – Rp16.950 per dolar AS, bergantung pada perkembangan geopolitik global dan data ekonomi terbaru dari AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong seperti dikutip dari kotan memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Hal ini seiring dengan kenaikan harga minyak dunia serta ketidakpastian terkait prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah yang masih membayangi pasar.

Untuk perdagangan Jumat (27/3/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam tekanan. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS.

Advertisement

Sementara itu meskipun IHSG hari ini terkoreksi cukup dalam, penguatan rupiah bisa menjadi “bantalan” agar indeks tidak terjun bebas lebih jauh pada perdagangan esok hari.

Menurut Head of Research and Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan dari sisi analisis teknikal, meskipun IHSG ditutup melemah namun histogram negatif MACD berlanjut menyempit dan Stochastic RSI mengarah di pivot area.

“IHSG masih bertahan di atas MA5 sehingga IHSG diperkirakan bergerak sideways pada kisaran level 7.050 sampai dengan 7.250,” jelas Valdy. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement