Internasional
Iran Segera Umumkan Zona Terlarang di Teluk, Ancam Serang Aset-aset Energi Amerika

Iran makin memperkuat cengkraman terhadap Selat Hormuz dengan segera mengumumkan zona terlarang di Teluk dan mengancam menyerang aset enerdi Amerika Serikat yang rentan posisinya. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Iran segera mengumumkan zona terlarang baru di Teluk dalam beberapa hari mendatang, bersamaan dengan peta koridor pelayaran baru melalui Selat Hormuz.
Selain itu Iran juga mengicar aset-aset energi Amerika Serikat di Teluk yang dinilai mudah untuk diserang.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah pada hari Minggu bahwa zona terlarang akan dimulai di titik di mana blokade AS terhadap pelabuhan Iran dimulai dan meluas ke Teluk.
Menurut lansiran AL MONITOR, Rezaei melanjutkan bahwa setiap kapal yang memasuki zona tersebut akan ditambahkan ke daftar sanksi, namun hanya memberikan sedikit detail lain tentang rencana tersebut.
Ia juga mengatakan bahwa peta untuk rute transit baru melalui Selat Hormuz akan segera disetujui, setelah berminggu-minggu melakukan pembicaraan dengan Oman untuk menyepakati kerangka kerja.
“Peta koridor internasional baru yang terletak di perairan Iran dan Oman, di mana Iran akan memiliki kendali, telah disepakati dan akan ditandatangani dalam beberapa hari mendatang,” kata Rezaei.
Selat Hormuz adalah jalur energi penting yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang. Jalur air ini hampir sepenuhnya tertutup sejak konflik AS-Israel-Iran dimulai pada 28 Februari.
Iran menutup selat tersebut setelah Israel dan Amerika Serikat mulai menyerang negara itu, dan Iran membalas dengan serangan terhadap Israel, negara-negara Teluk tetangga, dan kapal-kapal yang melintasi jalur air tersebut. Washington memberlakukan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas ke dan dari pelabuhan Iran pada bulan April, dan menyerang kapal tanker Iran.
Kesepakatan perdamaian sementara yang dicapai pada bulan Juni gagal menghasilkan gencatan senjata yang langgeng, dengan Iran dan Amerika Serikat kembali melanjutkan serangan balasan dalam beberapa hari terakhir.
“Kami hanya akan berkomitmen untuk membuka Selat Hormuz ketika mereka [Amerika] menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” kata Rezaei.
Iran dan Oman, negara-negara pesisir yang berbatasan dengan jalur air tersebut, telah bernegosiasi mengenai kesepakatan pengelolaannya selama beberapa minggu. Kesepakatan tersebut kini berada pada tahap akhir dan akan mencakup rute aman sementara melalui titik rawan tersebut, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, kepada wartawan di Teheran pada hari Senin.
Langkah ini dapat semakin memperketat kendali Teheran atas jalur perairan tersebut, di mana kapal-kapal komersial sebelumnya dapat melintas dengan bebas sebelum perang. Iran telah menjajaki kemungkinan memberlakukan biaya pada kapal-kapal yang menggunakan selat tersebut, sementara Washington menyerukan agar jalur perairan tersebut tetap terbuka untuk navigasi bebas.
Meskipun Teheran mengatakan rute tersebut akan mencakup biaya transit, menteri luar negeri Oman mengatakan pada pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk pada 25 Juni bahwa pengaturan di masa mendatang tidak akan mencakup biaya tol.
Kedua negara mengeluarkan pernyataan bersama pada 25 Agustus yang mengumumkan kerangka kerja tersebut, dan menyatakan bahwa mereka sedang berupaya menuju koridor navigasi sementara bersama melalui Hormuz, operasi pembersihan ranjau bersama, dan selanjutnya negosiasi tentang koridor navigasi permanen.
Pemerintahan Trump telah menyatakan tidak akan mengakui perjanjian Iran-Oman tentang Selat Hormuz. Mereka menolak kendali Iran atas selat tersebut dan segala bentuk pungutan untuk melintasi jalur air itu. Presiden AS Donald Trump sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat mengendalikan selat tersebut.
Selat Hormuz menyaksikan beberapa serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS mengatakan pada hari Sabtu bahwa pasukan Amerika menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu di lepas pantai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, menyusul serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap kapal perang AS di wilayah tersebut.
CENTCOM mengidentifikasi kapal-kapal tersebut sebagai kapal tanker minyak mentah IRGC M/T Downy, di lepas Pulau Kharg, dan M/T Stark 1, di dekat Jask, sebuah pelabuhan Iran di Teluk Oman tepat di luar Selat Hormuz.
“Sebuah kapal induk AS dan kapal perusak rudal berpemandu berhasil menghindari beberapa serangan Iran yang tidak beralasan. Tidak ada personel Amerika yang terluka,” kata CENTCOM.
Mudah Untuk Diserang
Sementara itu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan pada hari Senin bahwa aset energi AS di Teluk dan sekitar Selat Hormuz rentan terhadap pembalasan Iran jika Washington menyerang infrastruktur minyak dan gas Teheran.
“Sederhana saja: rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika di seluruh perairan dan fasilitas ini memiliki kerentanan yang sama,” kata Qalibaf di perusahaan media sosial AS, X, seperti dilansir Anadolu Agency.
“Serang aset kami dan Anda akan terkena dampaknya. Kami sudah membuktikannya. Tanyakan pada pangkalan-pangkalan yang sudah tidak layak lagi,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peringatan AS bahwa kapal tanker minyak Iran dapat menjadi sasaran sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan angkatan laut Amerika.
Pada tanggal 5 September, Komando Pusat AS (CENTCOM) membagikan rekaman yang merinci penargetan kapal-kapal Iran dan mengutip komandannya, Laksamana Brad Cooper, yang memperingatkan Teheran agar tidak menyerang kapal-kapal AS.
“Pesan untuk IRGC harus jelas: Jika kalian menembak dua kapal kami, kami akan memberikan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar — menghancurkan tiga kapal kalian,” kata Cooper.
“Kami tidak akan ragu untuk membela pasukan Amerika, dan jika perlu, menghancurkan armada minyak Iran yang terbatas dan rentan,” tambahnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian memposting ulang rekaman CENTCOM di X dan menambahkan peringatannya sendiri.
“Sederhana saja: jika Iran menembak kapal-kapal AS, kami akan menghancurkan (dan menenggelamkan) kapal tanker minyak mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah tidak menembak Angkatan Laut AS,” kata Hegseth.
“Armada kapal tanker minyak Iran tidak berdaya — Iran tidak memiliki angkatan laut atau angkatan udara. Pesawat, kapal, dan kapal selam kita dapat menyerang mereka semua,” tambahnya. ***














