Kesehatan
TCK Kemenkes Tembus Tebing, Jurang Curam dan Laut Jangkau Masyarakat Terdampak Gempa NTT

Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam tidak menghentikan langkah tenaga kesehatan (nakes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjangkau masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Kemenkes)
FAKTUAL INDONESIA: Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI batch pertama di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak surut melangkah menempuh jalur ekstrem untuk menjangkau masyarakat terdampak gempa.
Tenaga kesehatan (nakes) bukan saja harus melalui jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, namun juga perjalanan laut selama dua jam.
Seperti dilansir laman Kemenkes, di tengah keterbatasan akses dan sejumlah fasilitas kesehatan yang belum dapat berfungsi optimal, para nakes bersama relawan kesehatan terus bergerak dari desa ke desa untuk memastikan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pelosok, tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.
Salah satunya dilakukan oleh dr. Halik Malik. Bersama tiga relawan lainnya, yakni dua bidan dan satu apoteker, dr. Halik ditugaskan sebagai bagian dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI batch pertama di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende. Wilayah kerja puskesmas tersebut mencakup delapan desa dengan sebagian besar wilayah memiliki akses yang sulit.
“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar dr. Halik.
Salah satu perjalanan paling menantang dilakukan saat tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak (mobile clinic) ke Desa Nila. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau motor, kemudian berjalan kaki mendaki selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.
Perjalanan pulang pun tidak kalah menantang. Untuk memangkas waktu, tim memilih jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing dan jurang, para relawan langsung naik ke kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende untuk kembali ke puskesmas.
“Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal,” tuturnya.
Perjalanan panjang tersebut dilakukan karena masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, sementara sejumlah fasilitas kesehatan belum dapat berfungsi optimal akibat dampak gempa.
Di lapangan, tim menemukan masyarakat yang masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri di depan rumah. Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik serta menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.
Kondisi tersebut mulai memunculkan berbagai masalah kesehatan. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal atau nyeri persendian, serta gangguan tidur. Pasien dengan penyakit kronis juga mengalami kondisi yang lebih berat karena akses terhadap layanan kesehatan terganggu pascabencana.
Selain masalah kesehatan fisik, sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi.
“Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan,” kata dr. Halik.
Tim juga menemukan sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas, termasuk melakukan rujukan apabila pasien membutuhkan layanan lebih lanjut.
Menurut dr. Halik, pola pelayanan dengan mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara efektif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan selama fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam proses pemulihan.
“Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,” ujarnya.
Kedatangan tim medis mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Keterbatasan layanan membuat warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pengobatan, sementara sejumlah pustu di wilayah terdampak belum dapat berfungsi optimal.
Di Kabupaten Ende, dari 28 puskesmas yang ada, sedikitnya 12 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes RI. Dukungan diberikan untuk memperkuat tenda pelayanan kesehatan serta membantu pelayanan kesehatan dari desa ke desa di wilayah kerja puskesmas terdampak.
“Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,” jelas dr. Halik.
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Jalur pegunungan dengan jurang dan tebing curam diperberat dengan kerusakan jalan dan longsor di sejumlah titik. Gempa susulan juga membuat masyarakat maupun tenaga kesehatan harus tetap waspada. ***














