Ekonomi
Hari Ini Disahkan jadi Gubernur BI, Deretan Tugas Berat Menanti Destry Damayanti

Gungde Ariwangsa SH – Pemimpin Redaksi Faktual Indonesia, Ketua Siwo PWI Pusat 2018 – 2023, Pembina Yayasan IPO
Oleh: Gungde Ariwangsa SH
FAKTUAL INDONESIA: Hari ini, Selasa (1/8/2026), jika tidak ada aral melintang, Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) akan mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia. Dengan pengesahan itu resmi sudah Bank Indonesia mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya Bank Sentral Republik Indonesia akan dipimpin oleh perempuan.
Pada Kamis (27/8/2026), Rapat internal Komisi XI DPR RI melahirkan keputusan penting: menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS), serta Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur (DG) untuk periode 2026–2031. Keputusan yang diambil secara musyawarah mufakat ini menandai babak baru kepemimpinan otoritas moneter Indonesia.
Destry akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI pada 25 Juli 2026. Sementara kursi DGS BI yang sebelumnya ditempati Destry akan diisi Aida S. Budiman.
Sebelum menetapkan secara mulus Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai DGS, dan Solikin M. Juhro sebagai DG, Komisi XI menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terhadap para calon pimpinan BI selama dua hari. Pada Rabu (26/08/2026), agenda itu dilakukan terhadap Destry sebagai calon Gubernur BI dan Aida sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI. Keduanya merupakan calon tunggal yang diajukan pemerintah melalui Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI.
Kemudian pada Kamis (27/08/2026) siang, Komisi XI menggelar fit and proper test untuk memilih Deputi Gubernur BI. Dua nama yang diajukan pemerintah adalah Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori. Komisi XI akhirnya memilih Solikin M Juhro untuk menduduki posisi tersebut.
Lancarnya proses pemilihan itu menunjukkan pilihan nyaman berbasis kontinuitas: Pilihan Komisi XI DPR jatuh pada nama-nama yang sudah sangat familier di lingkungan BI dan Kementerian Keuangan. Destry Damayanti (sebelumnya DGS BI) serta Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro bukanlah figur asing.
Strategi menghadirkan “muka lama dengan peran baru” ini memberi sinyal kuat bahwa pasar tidak akan mengecap kejut kebijakan (policy shock). Fleksibilitas serta kesinambungan program moneter di tengah ketidakpastian global menjadi prioritas utama.
Selain itu DPR menekankan pendalaman pada aspek sinergi kebijakan BI dengan pemerintah. Meski harmonisasi kebijakan moneter dan fiskal sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,
Tugas Berat
Acara pengesahan dalam Rapat Paripurna DPR hari ini akan menjadi formalitas penutup prosedur ketatanegaraan. Namun bagi masyarakat dan pelaku pasar, proses tersebut merupakan titik mula untuk menagih janji dan mengawal komitmen kepemimpinan baru BI dalam membawa perekonomian nasional tetap berdaya tahan.
Di balik mulusnya proses musyawarah tersebut, terdapat sejumlah catatan strategis yang menarik untuk dicermati. Meskipun harmonisasi BI dan pemerintahan sangat dibutuhkan namun ini akan menjadi ujian independensi otoritas moneter. Publik tetap akan menyoroti sejauh mana integritas dan independensi BI terjaga. Kemampuan jajaran pimpinan baru dalam menjaga jarak aman dari tekanan politik anggaran akan menjadi ujian konsistensi utama.
Setelah keluar dari ruang Fit and Proper Test dan Rapat Paripurna DPR, Selasa mendatang, tantangan riil sudah menanti. Visi dan gagasan yang dipaparkan selama dua hari uji kelayakan kini menanti pembuktian di lapangan. Nakhoda baru BI dihadapkan pada deretan tugas berat:
- Stabilitas Nilai Tukar: Menjaga keperkasaan Rupiah di tengah dinamika suku bunga global.
- Sistem Pembayaran Digital: Memperkuat keamanan dan inklusivitas infrastruktur transaksi keuangan nasional.
- Transisi Ekonomi Hijau: Mendorong pembiayaan berkelanjutan tanpa mengorbankan pertumbuhan sektor riil.
Meskipun belum resmi disahkan oleh Rapat Paripurna DPR namun sudah hampir pasti Destry akan menjadi orang nomor satu BI. Untuk itu ucapan selamat bertugas pantas dilayangkan dan dukungan diberikan dengan harapan nakhoda baru BI mampu melaksanakan tugas utama dan tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Mampu membawa nilai tukar (kurs) rupiah yang kini, Jumat (28/8/2026) pagi, tercatat Rp17.718 per dolar Amerika Serikat (AS) akan semakin menguat. Bukan saja mencapai target yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, menembus Rp16.500 per dolar AS namun lebih dari itu.
Semua kini mengimpikan rupiah akan semakin kuat. Kekuatan rupiah selanjutkan bisa dipergunakan sebagai pondasi memperkuat ekonomi dan kehidupan rakyat Indonesia. ***
- Gungde Ariwangsa SH – Pemimpin Redaksi Faktual Indonesia, Ketua Siwo PWI Pusat 2018 – 2023, Pembina Yayasan IPO
- E-mail: aagwaa@yahoo.com














