Ekonomi
IHSG BEI Jumat 28 Agustus 2026: Terperosok Tipis di Sesi Akhir, Pekan Depan Menguat Tipis

Aksi profit taking (aksi ambil untung) pemodal pada sejumlah sektor kunci membuat langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tertahan di akhir perdagangan sehingga ditutup melemah Jumat (28/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan koreksi tipis.
Sebenarnya IHSG mengawali perdagangan Jumat pagi dengan menjanjikan setelah sehari sebelumnya melesat menguat. IHSG langsung menapak di zona hijau dengan bergerak menguat 13,97 poin atau 0,21 persen ke posisi 6.535,72. Bahkan kemudian melaju mulus di zona hijau hingga penutupan Sesi I. Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif pada rentang rentang 6.495,73 hingga 6.566,90.
Namun IHSG berbalik tertekan di akhir sesi II dan ditutup melemah 3,63 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.518,12 pada Jumat (28/8/2026).
Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga mengawali perdagangan dengan naik 1,99 poin atau 0,31 persen ke posisi 643,06. Pada penutupan indeks LQ45 naik 0,75 poin atau 0,12 persen ke posisi 641,82.
Memantau bursa saham kawasan Asia, pelemahan IHSG BEI serupa tapi tak sama dengan indeks Shanghai yang melemah 0,11 ersen ke 3.952,18, dan indeks Kospi yang terkoreksi 1,79 persen ke 6.788,88.
Sedangkan yang mencatat bullish antara lain indeks Nikkei menguat 0,38 persen ke 66.385,00, indeks Hang Seng naik 0,07 persen ke 25.548,79, dan indeks Straits Times mencetak penguatan 0,28 persen ke 5.699,93.
Pidato Ketua Fed
Dinamika perdagangan hari ini ditandai oleh pelaku pasar yang menunggu hasil penyelenggaraan Simposium Jackson Hole oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed.
“Sebagian besar pelaku pasar menantikan pidato Ketua The Fed di tengah kebuntuan diplomatik AS dengan Iran,” kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus atau Nico di Jakarta, Jumat, seperti dilansir Metrotv.
Nico menyebut pidato tersebut menjadi petunjuk tentang prospek suku bunga AS. Diperkirakan akan kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun 2026, dengan probabilitas tetap di atas 70 persen.
Sementara itu, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid berpendapat kebijakan moneter tersebut tidak menghambat perekonomian.
Sebagian besar pelaku pasar mengabaikan ancaman sanksi AS dan buntunya perundingan dengan Iran. setelah AS menolak untuk menghidupkan kembali ketentuan perjanjian Juni dan mengatakan bahwa mereka saat ini tidak bernegosiasi dengan Iran.
Sementara itu, di Indonesia, pelaku pasar telah terdapat kepastian soal Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru. Komisi XI DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI untuk masa jabatan 2026-2031.
Prediksi Senin, 31 Agustus 2026
Mengawali pekan sekaligus hari terakhir di bulan Agustus pada Senin, 31 Agustus 2026, arah gerak pasar saham diperkirakan akan diwarnai aksi konsolidasi menjelang rilis data ekonomi penting di awal bulan September.
Analis memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin (31/8/2026) akan bergerak fluktuatif (mixed) cenderung menguat terbatas menguji level support di 6.480 dan area resistance terdekat pada rentang 6.560 – 6.580.
Phintraco Sekuritas menjelaskan, investor diperkirakan akan cenderung berhati-hati pada periode efektif rebalancing indeks MSCI pada 31 Agustus 2026, serta menjelang memasuki bulan September yang secara historis pergerakan saham cenderung lebih volatil.
“Secara teknikal, diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran level 6.400-6.600 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Jumat, seperti dikutip dari investor.id.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan masih berpeluang menguat ke rentang area 6.599-6.666. Cermati area koreksi IHSG yang diperkirakan berada pada rentang 6.289-6.352.
MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham AMRT, BUMI, INDF, dan LSIP untuk trading pekan depan.
Faktor Penggerak Utama Pasar:
- Sentimen Makro & Inflasi: Investor cenderung bersikap wait and see menantikan rilis data inflasi domestik awal bulan serta penyesuaian skema Kebijakan Insentif Likuiditas Moneter (KLM) Bank Indonesia yang mulai berlaku 1 September.
- Sinyal Pasar Global & Regional: Pergerakan bursa Wall Street akhir pekan serta tren pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menjadi patokan arah modal asing (foreign flow) di bursa domestik.
Dua Sisi Pergerakan Sektor
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, empat sektor menguat. Sektor keuangan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,79 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik sebesar 0,70 persen serta sektor barang konsumen nonprimer sebesar 0,39 persen.
Sementara itu, tujuh sektor melemah. Sektor industri mencatat penurunan terdalam sebesar 0,90 persen, diikuti sektor kesehatan sebesar 0,60 persen dan sektor energi sebesar 0,59 persen.
Saham yang mengalami penguatan harga terbesar antara lain LABA, SSTM, BIKE, BAPA, dan PYFA. Sedangkan saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni RGAS, TMPO, VTNY, EMMI, dan NAYZ.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.992.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 34,41 miliar lembar saham senilai Rp15,13 triliun. Sebanyak 290 saham naik, 348 saham turun, dan 328 saham tidak bergerak.
Langkah IHSG yang tertahan di akhir pekan dipicu oleh aksi profit taking (aksi ambil untung) pemodal pada sejumlah sektor kunci:
- Sektor Penekan: Pelemahan terbesar dipimpin oleh sektor industri yang merosot 1,41 persen, disusul sektor kesehatan (-0,71 persen), energi (-0,65 persen), dan teknologi (-0,58 persen).
- Sektor Penahan Jatuh: Sektor keuangan menguat 0,67 persen bersama konsumer primer (+0,52 persen) yang berhasil menahan koreksi IHSG agar tidak merosot lebih dalam. Saham big cap seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut menjadi penopang utama perdagangan hari ini. ***













