Internasional
Trump Tegaskan Tidak Ada Negosiasi, Fokus Perang Ekonomi, Iran Mengejek Sebagai Parodi Belaka

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tidak ingin bernegosiasi dengan Iran karena fokus perang ekonomi diejek Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei sebagai parodi belaka. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Amerika Serikat tidak bernegosiasi dengan Iran, karena Washington fokus pada pemberian sanksi ekonomi kepada Teheran. Trump mengancam akan menghukum negara-negara yang berbisnis dengan Republik Islam tersebut.
“Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak berupaya untuk bertemu atau melakukan hal semacam itu,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval seperti dilansir UNN.
Sebelumnya pada hari itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa kampanye ekonomi AS akan berlanjut sampai Iran memutuskan untuk terlibat dalam negosiasi yang berarti.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan rencana AS untuk mengisolasi Iran, yang disebut Operasi Pengasingan Ekonomi, sebagai “parodi belaka”.
Dalam sebuah unggahan di X, juru bicara kementerian Esmaeil Baqaei mengatakan kebijakan Washington tidak masuk akal karena mengumumkan sanksi yang sudah ada.
AS “beralih ke Bahrain – sebuah negara yang praktis tidak memiliki pertukaran ekonomi yang berarti dengan Iran – untuk membuktikan bahwa ‘koalisi’ mereka berhasil,” kata Baqaei.
Sebelumnya Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Menteri Keuangan Bahrain Sheikh Salman bin Khalifa Al Khalif tentang upaya mempertahankan tekanan finansial terhadap Iran.
Dalam bagian lain Iran mengklaim USS Abraham Lincoln gagal dalam misi proyeksi kekuatan AS. Iran menyatakan bahwa awak kapal USS Abraham Lincoln yang bermasalah itu “kelelahan” setelah misi panjangnya di Timur Tengah.
Dalam sebuah unggahan di X, Esmaeil Baqaei mengatakan, “Amerika mengirim USS Abraham Lincoln ke wilayah tersebut untuk memproyeksikan kekuatan.
Kemudian ia menyatakan bahwa kapal induk AS tersebut gagal dalam misinya, dengan mengatakan, “Setelah berbulan-bulan berperang – dan lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan mana pun – kapal itu sekarang menuju Thailand untuk [istirahat dan relaksasi] awaknya.”
Para pejabat Thailand mengatakan kapal induk USS akan singgah sebentar setelah lebih dari 250 hari berada di laut.
Misi yang berkepanjangan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang kesejahteraan awak kapal, dengan keluarga para pelaut melaporkan memburuknya kesehatan mental awak kapal dan kekurangan pasokan penting, termasuk makanan dan produk kebersihan. ***














