Ekonomi
Akhir Pekan Kelabu: IHSG dan Rupiah Ambruk di Tengah Badai Global

Pasar keuangan Indonesia menutup pekan terakhir Maret 2026 dengan rapor merah yang cukup pekat setelah pada perdagangan Jumat (27/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kompak melemah, terjepit di antara sentimen geopolitik yang memanas dan aksi jual masif oleh investor asing. (AI/Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Akhir pekan yang kelabu. Pasar keuangan Indonesia menutup pekan terakhir Maret 2026 dengan rapor merah yang cukup pekat. Pada perdagangan Jumat (27/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak melemah, terjepit di antara sentimen geopolitik yang memanas dan aksi jual masif oleh investor asing.
Kombinasi “double hit” ini membuat pelaku pasar cenderung memilih untuk mengamankan aset ke instrumen yang lebih stabil menjelang libur akhir pekan.
Baca Juga : Fenomena Menarik, Rupiah Perkasa Menguat, IHSG Justru Terkapar di Zona Merah
IHSG Di Bawah Level Psikologis
Sempat mencoba bangkit di awal sesi, IHSG akhirnya menyerah dan ditutup melorot 67,03 poin (0,94%) ke level 7.097,06. Level psikologis 7.100 yang selama ini dijaga ketat akhirnya harus rela dilepaskan.
Memang IHSG sudah melemah sejak pembukaan perdagangan Jumat pagi ketika dibuka melemah 27,72 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.136,37. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,84 poin atau 0,66 persen ke posisi 726,89
Sepanjang hari, indeks sempat berupaya melawan arus dengan menyentuh level tertinggi di 7.154,56, namun tekanan jual yang masif menyeretnya hingga ke level terendah di 7.070,21.
Baca Juga : Perdagangan Perdana Pasca Lebaran: IHSG Bangkit Melesat, Rupiah Loyo Terjepit Konflik Global
IHSG akhirnya ditutup melemah 67,03 poin atau 0,94 persen ke posisi 7.097,06. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,77 poin atau 1,75 persen ke posisi 718,96.
Beberapa faktor utama yang membuat IHSG melemah hari ini diantaranya sentimen global dan geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah (AS-Iran) yang belum mereda serta isu krisis energi di beberapa negara Asia Tenggara (seperti Filipina) membuat investor cenderung bermain aman (risk-off).
Setelah itu tumbangnya Saham “Big Caps” terutama sektor keuangan yang menjadi pemberat utama. Saham-saham perbankan raksasa seperti BBCA (-2,55%), BBNI (-2,50%), dan BBRI (-2,01%) kompak melemah, yang secara otomatis menarik indeks ke bawah.
Baca Juga : Adem Jelang Libur Panjang, IHSG Cetak Rebound Manis, Rupiah Bertahan Stabil
Kemudian aksi profit taking menjelang libur akhir pecan. Banyak pelaku pasar yang memilih untuk mencairkan keuntungan (ambil untung) guna menghindari risiko fluktuasi global di hari Sabtu dan Minggu.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim seperti dilansir metrotv sebelumnya memperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran level 7.050-7.250. Pasar saham global terus menunjukkan pola perdagangan yang naik-turun, karena investor membuat keputusan perdagangan berdasarkan berita yang kontras tentang konflik tersebut.
Meskipun pelaku pasar sebagian besar berharap terhadap berakhirnya konflik, namun demikian, pesan yang beragam telah membebani sentimen.
“Hal ini karena pesan yang beragam tersebut memengaruhi pergerakan harga minyak mentah, yang terkait erat dengan ekspektasi akan biaya energi yang dapat menimbulkan kenaikan inflasi,” ujar Ratna.
Rapor Sektoral & Saham
Mayoritas sektor saham hari ini “kebakaran”. Sektor infrastruktur dan industri mencatat koreksi terdalam masing-masing lebih dari 1,2%. Namun, di tengah mendungnya pasar, sektor energi masih mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,35%, disusul sektor kesehatan yang juga hijau tipis.
Baca Juga : Sehari Jelang Libur Panjang, IHSG Anjlok, Rupiah Nyaris Tembus 17.000
Top Losers (LQ45):
- INCO: -4,46% ke Rp3.430
- UNVR: -4,12% ke Rp1.860
- TLKM: -3,79% ke Rp3.040
Top Gainers (LQ45):
- ANTM: +2,33% ke Rp1.320
- AKRA: +1,88% ke Rp1.625
ADMR: +1,80% ke Rp1.415
Rupiah Dekati Rp17.000
Setali tiga uang dengan bursa saham, mata uang rupiah juga loyo di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda di pasar spot ditutup melemah signifikan ke level Rp16.967 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya di Rp16.904.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate(JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah ke level Rp16.957 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.903 per dolar AS
Baca Juga : Pasar Keuangan Memerah: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah dari Pembukaan hingga Penutupan
Sama dengan IHSG, nilai tukar rupiah sudah melemah sejak pembukaan perdagangan. Rupiah bergerak melemah 14 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.928 per dolar AS dari penutupan sebelumnya, Kamis (26/3/2026), yang tercatat Rp16.904 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu oleh predikat dolar AS sebagai safe haven (aset aman) yang semakin diburu menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$119 per barel juga memberikan beban tambahan pada neraca dagang kita, yang secara otomatis memukul nilai tukar.
Dikhawatirkan, pelemahan ini menimbulkan efek domino ke harga pangan. Banyak yang mewaspadai pelemahan ini berpotensi mengerek harga barang impor (imported inflation), terutama daging, telur, dan susu yang bahan bakunya masih banyak mengandalkan pasokan luar negeri.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya perkembangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
“Pada perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump, menyatakan bahwa proses negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran menunjukkan kemajuan. Ia juga mengindikasikan penghentian serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari,” ucap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026), seperti dilansir beritasatu.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi inflasi tinggi di Amerika Serikat juga menjadi beban tambahan bagi rupiah. “Selain itu, pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi,” tambah Ibrahim.
Baca Juga : Sempat Menguat, IHSG BEI dan Rupiah Tergelincir ke Zona Merah Terdesak Aksi Ambil Untung
Proyeksi Pekan Depan
Fenomena “koreksi kembar” ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase Risk-Off. Artinya, investor sedang menghindari risiko di pasar negara berkembang (Emerging Markets).
“Pasar sedang dalam tekanan psikologis tinggi. Ketegangan AS-Iran dan kekhawatiran krisis energi di Asia Tenggara membuat aliran modal keluar (capital outflow) dari bursa saham, yang kemudian langsung menekan nilai tukar rupiah,” ujar seorang analis pasar modal.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap tenang namun waspada. Fokus utama pekan depan adalah rilis data inflasi domestik dan perkembangan diplomatik global. Jika tensi dunia mereda, ada peluang terjadinya technical rebound atau pembalikan arah bagi IHSG dan Rupiah.
Secara teknikal, analis melihat IHSG saat ini sedang menguji area support psikologis di level 7.000–7.100. Jika sentimen global pekan depan mulai mendingin, ada peluang bagi indeks untuk melakukan technical rebound. Namun, untuk saat ini, investor disarankan untuk tetap waspada dan lebih selektif dalam memilih saham (stock picking).
Meski rupiah mendekati level Rp17.000, Bank Indonesia (BI) terus memantau pasar melalui intervensi di pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk memastikan volatilitas tetap terkendali. Gubernur BI menekankan bahwa pelemahan ini lebih disebabkan oleh faktor psikologi pasar dan dinamika arus modal global, bukan karena fundamental ekonomi domestik yang buruk.
Baca Juga : Legaaa! IHSG Meroket, Rupiah Lepas dari Tekanan Psikologis Rp17.000
“Kondisi saat ini memang menantang karena ketidakpastian global yang luar biasa tinggi. Namun, cadangan devisa kita masih sangat mencukupi untuk menjaga stabilitas,” ujar salah satu pengamat pasar uang.
Pelaku pasar memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp16.900 – Rp17.050 pada awal pekan depan. Semua mata akan tertuju pada perkembangan diplomatik di Teheran dan Washington serta data ekonomi terbaru dari Negeri Paman Sam.
“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.980-Rp17.030. Untuk range satu minggu Rp16.880-Rp17.100,” kata Ibrahim. ***
Rangkuman Performa Pasar (Jumat, 27 Maret 2026)
| Instrumen | Posisi Penutupan | Perubahan |
| IHSG | 7.097,06 | 📉 -0,94% |
| Rupiah/USD | Rp16.967 | 📉 -63 Poin |














