Connect with us

Ekonomi

Adem Jelang Libur Panjang, IHSG Cetak Rebound Manis, Rupiah Bertahan Stabil

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Adem Jelang Libur Panjang, IHSG Cetak Rebound Manis, Rupiah Bertahan Stabil

Pasar keuangan domestik memberikan sinyal hijau sebelum libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri tahun 2026 setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat dan nilai tukar rupiah stabil pada perdagangan Selasa (17/3/2026). (AI/Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Menjelang libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri tahun 2026, pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026),  dengan adem bahkan dengan hiasan senyum. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses mencetak rebound manis, sementara nilai tukar rupiah terhadap mampu memberikan perlawanan sehingga bertahan kokoh stabil terhadap dolar Amerika Serikat.

Perlu diinformasikan,  perdagangan saham di BEI akan diliburkan mulai Rabu, 18 Maret 2026. Aktivitas pasar modal akan kembali dibuka pada pekan depan, Rabu, 25 Maret 2026, setelah peringatan Hari Raya Nyepi dan libur bersama Idul Fitri 1447 H.

Baca Juga : Sehari Jelang Libur Panjang, IHSG Anjlok, Rupiah Nyaris Tembus 17.000

IHSG Melesat 1,2%

Setelah sempat tertekan akibat gejolak geopolitik dalam beberapa hari terakhir, IHSG akhirnya bangkit dengan kenaikan signifikan.

IHSG ditutup menguat 84,55 poin atau 1,20 persen ke posisi 7.106,84. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,69 poin atau 1,22 persen ke posisi 722,41.

Advertisement

Posisi penutupan itu lebih baik dibandingkan saat pembukaan perdagangan Selasa pagi ketika  IHSG dibuka menguat 52,32 poin atau 0,75 persen ke posisi 7.074,61. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 6,99 poin atau 0,98 persen ke posisi 720,72.

Gairah pasar terlihat dari nilai transaksi yang menembus angka Rp20 triliun, menandakan investor mulai kembali berani mengoleksi saham-saham blue chip. Beberapa poin menarik dari lantai bursa hari ini:

  • Sektor Andalan: Saham sektor transportasi seperti GIAA dan ASSA menjadi primadona seiring meningkatnya ekspektasi mobilitas masyarakat selama musim mudik Lebaran.
  • Dominasi Hijau: Sebanyak 496 saham tercatat menguat, menunjukkan bahwa optimisme menyebar merata ke berbagai sektor, termasuk perbankan dan infrastruktur.
  • Sentimen Global: Meredanya harga minyak mentah dunia dari level puncaknya memberi napas lega bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kenaikan IHSG lebih mencerminkan kombinasi rebound teknikal dan mulai meredanya tekanan global. “Pelaku pasar mulai melakukan akumulasi pada saham-saham yang telah terkoreksi cukup dalam, seiring meredanya tekanan sentimen global,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga : Pasar Keuangan Memerah: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah dari Pembukaan hingga Penutupan

Menurutnya, penguatan yang terjadi relatif merata di berbagai sektor, terutama transportasi, barang baku, dan infrastruktur. Hal ini menunjukkan mulai adanya pergeseran minat investor ke saham-saham siklikal. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah serta mulai kembalinya aliran dana asing juga turut menopang pergerakan indeks.

“Meski masih terbatas, net buy asing menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda dan pasar berpotensi memasuki fase bottoming jangka pendek,” jelasnya.

Meski demikian, Hendra menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bergerak sideways hingga menguat terbatas.

Advertisement

“Penguatan ini belum menjadi konfirmasi perubahan tren menjadi bullish, karena pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga The Fed,” katanya.

Dari sisi domestik, terdapat sejumlah katalis yang dapat menopang pasar, di antaranya aksi buyback saham oleh emiten serta potensi kehadiran Danantara sebagai penyedia likuiditas.

Baca Juga : Sempat Menguat, IHSG BEI dan Rupiah Tergelincir ke Zona Merah Terdesak Aksi Ambil Untung

Menurut Hendra, aksi buyback mencerminkan keyakinan manajemen terhadap valuasi saham yang dinilai menarik, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.

Ia memproyeksikan, pasca libur panjang, arah pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi sentimen global. Jika bank sentral Amerika Serikat memberikan sinyal yang lebih dovish, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan.

“IHSG berpeluang menuju kisaran 7.200-7.350 jika sentimen global membaik. Namun jika tekanan eksternal kembali meningkat, indeks bisa kembali menguji area support di 6.900-7.000,” imbuhnya.

Advertisement

Dalam kondisi pasar seperti saat ini, Hendra menyarankan investor tetap selektif dan mengedepankan strategi berbasis momentum.

“Pendekatan terbaik saat ini adalah accumulate on weakness dan trading buy pada saham yang memiliki katalis jelas, dengan tetap memperhatikan risiko eksternal,” tutupnya.

Sementara itu Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa sentimen utama berasal dari penguatan berkelanjutan di bursa Wall Street Amerika Serikat. Selain itu, pelaku pasar global optimistis bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan FOMC pekan ini.

Dari sisi komoditas, fluktuasi harga minyak akibat ketegangan di Teluk Persia serta dinamika hubungan diplomatik antara AS dan Tiongkok turut menjadi perhatian investor. Di dalam negeri, komitmen pemerintah terhadap disiplin fiskal dan keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen memberikan kepastian bagi pasar.

Baca Juga : Legaaa! IHSG Meroket, Rupiah Lepas dari Tekanan Psikologis Rp17.000

Rupiah Zona Defensif

Advertisement

Di pasar valuta asing, mata uang rupiah pun tak mau kalah. Mata uang Garuda bergerak stabil dan cenderung menguat tipis di tengah tekanan indeks dolar AS yang masih tinggi. Berdasarkan data perdagangan sore ini, rupiah bertengger di kisaran Rp16.968 hingga Rp16.997 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen menjadi tetap Rp16.997 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.997 per dolar AS.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.982 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.990 per dolar AS.

Padahal saat pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah sempat bergerak menguat 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.968 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.997 per dolar AS.

Meskipun masih membayangi level psikologis Rp17.000, stabilitas Rupiah hari ini didukung oleh intervensi Bank Indonesia dimana BI aktif melakukan langkah stabilisasi di pasar spot maupun DNDF untuk meredam volatilitas.

Advertisement

Kemudian arus modal masuk dengan menguatnya IHSG memicu aliran dana asing (inflow) yang membantu menopang nilai tukar.

Selain itu diversifikasi LCS.  Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan negara mitra mulai menunjukkan dampak positif dalam mengurangi ketergantungan pada Dolar.

Baca Juga : Jumat Kelabu: IHSG Terpangkas Cukup Dalam, Rupiah Kian Terdesak, Begini Prediksi Pekan Depan

“Hari ini rupiah ditutup stagnan yang sebelumnya sempat mengalami penguatan 25 poin. Saat ini ditutup di Rp16.997 per USD,” kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya seperti dilansir metrotvnews.

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen gangguan pengiriman minyak mentah di Selat Hormuz. Ini masih menjadi perhatian utama saat terjadi perang antara AS, Israel, dan Iran yang memasuki minggu ketiga dan belum ada satu kesepakatan pun gencatan senjata antara ketiga negara tersebut.

“Di sisi lain nanti malam bank sentral AS melakukan pertamuan yang kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di 3,5 persen-3,75 persen. Fokus dari pelaku pasar saat ini tertuju pada panduan kebijakan bank sentral AS tentang ekonomi di AS setelah dampak kenaikan harga minyak saat ini yang kita tahu berdampak luar biasa terhadap perekonomian secara global,” papar dia.

Advertisement

Secara internal pemerintah akhirnya akan melakukan bagaimana caranya defisit anggaran tetap bertahan di bawah tiga persen. Meskipun pemerintah sebelumnya mengakui akan terjadi defisit anggaran di atas tiga persen, bahkan di atas empat persen.

“Tetapi rupanya pemerintah mengkaji ulang bagaimana cara defisit anggaran itu di bawah tiga persen dengan cara mengurangi beban-beban anggaran, biaya-biaya yang tidak perlu dilakukan,” urai Ibrahim.

Baca Juga : IHSG Rebound Menguat 1,76%, Rupiah Masih Memerah Terjepit Tekanan Global

Sementara itu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI-Rate di leve 4,75 persen. Termasuk tidak mengubah deposit facility yang masih tetap di 3,75 persen serta bunga lending yang masih 5,50 persen.

“Kenapa BI masih tetap mempertahankan suku bunga tinggi sampai saat ini, karena kita melihat bahwa kondisi ekonomi global yang tak menentu akibat perang Timur Tengah ini cukup luar biasa apalagi setelah harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” urai dia.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada pembukaan perdagangan setelah libur Idulfitri akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

Advertisement

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.870 per USD hingga Rp16.910 per USD,” jelas Ibrahim.

“Kemungkinan besar rupiah pada tanggal 24 Maret akan diperdagangkan cukup melebar dan melemah di level Rp16.990 per USD hingga Rp17.075 per USD,” jelas Ibrahim.

Pemerintah dan otoritas moneter mengimbau investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas global, namun tetap optimis mengingat fundamental ekonomi domestik yang masih solid di angka pertumbuhan mendekati 4% pada akhir tahun lalu. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement