Connect with us

Ekonomi

Sempat Menguat, IHSG BEI dan Rupiah Tergelincir ke Zona Merah Terdesak Aksi Ambil Untung

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Sempat menghadirkan optimisme ketika dibuka sama-sama menguat namun akhirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah, Rabu (11/3/2026), ditutup sama-sama melemah dalam perdagangan saham dan valuta di pasar keuangan dalam negeri. (AI/Ist)

Sempat menghadirkan optimisme ketika dibuka sama-sama menguat namun akhirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah, Rabu (11/3/2026), ditutup sama-sama melemah dalam perdagangan saham dan valuta di pasar keuangan dalam negeri. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Harapan untuk melihat pasar keuangan kembali diwarnai keperkasaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah, Rabu (11/3/2026), pudar. Padahal harapan itu begitu kuat ketika IHSG dan rupiah sama-sama dibuka menguat pada pembukaan perdagangan saham dan valuta.

IHSG dan rupiah akhirnya tergelincir ke zona merah di penutupan perdagangan akibat tekanan jual yang masif, terutama dipicu oleh kekhawatiran konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Aksi ambil untuk membuat IHSG dan rupiah limbung lagi.

IHSG Melemah 51 Poin

Sempat membuat optimisme membuncah dengan melesat hingga level 7.527 di pagi hari, IHSG justru loyo menjelang sore. Indeks akhirnya ditutup melemah 0,69% (51 poin) dan parkir di level 7.389. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 7,69 poin atau 1,01 persen ke posisi 752,25.

Padahal saat pembukaan IHSG dibuka menguat 43,86 poin atau 0,59 persen ke posisi 7.484,77. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,81 poin atau 0,50 persen ke posisi 763,75.

Advertisement

Tertekannya sektor infrastruktur, agrikultur, dan industri dasar menjadi beban utama indeks hari ini.

Tampaknya pelaku pasar lebih memilih mengamankan dana ke aset aman (safe haven) seperti emas, mengingat harga minyak dunia yang kembali melonjak ke area USD 111 – 119 per barel akibat ketegangan global.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Dari sisi domestik, pasar mulai bersiap menghadapi libur panjang Lebaran yang akan dimulai pada pertengahan pekan depan.

“Investor cenderung melakukan trading jangka pendek di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, serta menjelang libur panjang Lebaran,” ujar Ratna di Jakarta (11/3/2026), seperti dikutip dari mediaindonesia.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan pergerakan IHSG yang kembali terkoreksi dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global dan domestik.

Advertisement

“Investor cenderung melakukan trading jangka pendek di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait konflik AS, Israel, dan Iran serta menjelang libur panjang Lebaran,” katanya kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).

Untuk perdagangan Kamis (12/3/2026), Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor, yakni PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), serta PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis (12/3/2026).

“Kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support di 7.305 dan resistance di 7.448,” jelasnya.

Untuk perdagangan Kamis (12/3/2026), Herditya merekomendasikan investor mencermati saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada kisaran Rp5.000-Rp5.075, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) di rentang Rp535-Rp575, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) pada area Rp1.830-Rp2.120.

Advertisement

Rupiah Melemah Tipis

Senasib dengan IHSG, nilai tukar rupiah juga gagal mempertahankan penguatan tipisnya di pagi hari. Rupiah ditutup melemah tipis sekitar 0,13% atau 23 poin ke level Rp16.886 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.867 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.979 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan sempat bergerak menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per dolar AS.

Meski belum kembali menembus level psikologis Rp17.000 seperti awal pekan, posisi ini menunjukkan bahwa dolar AS masih terlalu perkasa di tengah tingginya permintaan aset berisiko rendah oleh investor global.

Advertisement

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, seperti dilansir mediaindonesia, mengungkapkan bahwa fluktuasi rupiah hari ini dipicu oleh campuran sentimen global. Meski ditutup melemah, rupiah sempat menunjukkan kecenderungan stabil akibat meredanya kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Meredanya sebagian kekhawatiran pasar terkait eskalasi konflik di kawasan tersebut memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat,” ujar Amru di Jakarta (11/3/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar AS menguat pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya ketegangan di pasar energi global.

“Pasar terguncang oleh gangguan di pasar energi, karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut. Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Dari sisi data ekonomi, pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Advertisement

Data CPI AS untuk bulan Februari akan dirilis pada hari Rabu dan diharapkan memberikan petunjuk yang lebih jelas tentang inflasi dan suku bunga di ekonomi terbesar di dunia. “Inflasi CPI utama diperkirakan tetap stabil di 2,4% tahun-ke-tahun, sementara CPI inti diperkirakan tetap di 2,5%,” ungkap Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sorotan sejumlah lembaga internasional terhadap kinerja fiskal Indonesia, khususnya terkait penerimaan pajak.

Sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Moody’s, S&P, dan Fitch menyoroti kinerja pemungutan pajak yang dinilai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kredibilitas fiskal pemerintah.

Dari ketiga lembaga tersebut, hanya S&P yang masih mempertahankan prospek stabil, sementara Moody’s dan Fitch telah menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif. ***

Ringkasan Angka Penutupan

Advertisement
InstrumenPosisi PenutupanPerubahanStatus
IHSG7.389🔻 0,69%Melemah
RupiahRp16.886🔻 0,13%Melemah
Harga Minyak (WTI)USD 111/barel📈 Naik TajamPanas

Lanjutkan Membaca
Advertisement