Ibu Kota
Cipayung Targetkan 1.000 Buat Lubang Biopori Jumbo untuk Kurangi Sampah ke Bantar Gebang di Bekasi

Kecamatan Cipayung Jakarta Timur targetkan buat 1.000 lubang biopori jumbo. (Foto : istimewa)

Kecamatan Cipayung Jakarta Timur targetkan buat 1.000 lubang biopori jumbo. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menargetkan pembangunan 1.000 lubang biopori jumbo sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber. Saat ini diketahui Pemprov Jakarta sedang mensosialisasikan pemilahan sampah agar tidak mejadi beban Bantar Gebang.
Program ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang selama ini dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi Jawa Barat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik.
Dalam siaran pers Pemprov Jakarta pada Rabu (17/6/2026), Camat Cipayung, Dia mengatakan pembangunan lubang biopori jumbo telah dimulai di lingkungan Pondok Pesantren Al Hamid, Kelurahan Cilangkap. Sebanyak 20 lubang ditargetkan dibangun di lokasi tersebut sebagai tahap awal pelaksanaan program.
“Hingga saat ini, 10 lubang biopori sudah selesai dikerjakan dan sisanya ditargetkan rampung dalam sepekan ke depan,” ujar dia.
Menurutnya, pengerjaan lubang biopori melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Munjul dan Cilangkap, Satuan Tugas Sumber Daya Air (SDA), hingga Satuan Tugas Lingkungan Hidup.
Dia menjelaskan, program ini tidak hanya dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Hamid. Sejumlah lokasi lain juga telah disiapkan untuk pembangunan biopori jumbo, antara lain Gereja Kalvari Lubang Buaya, Pondok Pesantren Minhajjurrosyidin, Pondok Pesantren Nurul Ibad, Gedung PBSI Cipayung, serta sejumlah titik strategis lainnya di wilayah kecamatan.
Untuk mencapai target 1.000 lubang biopori, setiap kelurahan di Kecamatan Cipayung diminta membangun sedikitnya 100 lubang biopori jumbo di wilayah masing-masing.
“Program ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang selama ini dibuang ke TPST Bantar Gebang,” lanjutnya.
Lubang biopori jumbo tersebut akan dimanfaatkan untuk menampung Sampah Organik Dapur (SOD) yang kemudian diolah menjadi kompos. Hasil kompos nantinya dapat digunakan kembali untuk kebutuhan penghijauan dan pertanian perkotaan.
Sementara itu, Lurah Munjul, Muhammad Noor, mengatakan pihaknya telah menyelesaikan pembangunan lima lubang biopori jumbo di lingkungan Pondok Pesantren Al Hamid. Pembuatan lubang dilakukan dengan menggali tanah sedalam sekitar satu meter dan berdiameter 50 sentimeter. Setelah itu, tong berwarna biru yang telah dilubangi pada bagian samping ditanam ke dalam tanah sebagai wadah pengolahan sampah organik.
“Nantinya tong ini akan diisi sampah organik sisa dapur. Untuk mempercepat proses penguraian, sampah akan diberi cairan EM4 sehingga dapat difermentasi menjadi kompos,” ujarnya.
Kompos yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pada lahan urban farming milik pondok pesantren. Ke depan, Kelurahan Munjul juga berencana membangun lubang biopori jumbo di sejumlah lokasi lain, termasuk kawasan Waduk Munjul, Pasar Munjul, dan kantor kelurahan.***














