Connect with us

Ekonomi

Perdagangan Perdana Pasca Lebaran: IHSG Bangkit Melesat, Rupiah Loyo Terjepit Konflik Global

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa  sementara nilai tukar rupiah harus rela parkir di zona merah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran 2026, Rabu (25/3/2026). (AI)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa sementara nilai tukar rupiah harus rela parkir di zona merah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran 2026, Rabu (25/3/2026). (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Perdagangan saham dan valuta asing pada hari perdana pasar keuangan domestik pasca Lebaran penuh dinamika yang kontras. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa dengan lonjakan signifikan, sementara nilai tukar rupiah harus rela parkir di zona merah setelah tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) secara global.

IHSG Tampil Luar Biasa

​IHSG mencatatkan performa luar biasa. Mengabaikan sentimen negatif global, indeks kebanggaan Indonesia ini melonjak signifikan sebesar 195,28 poin atau 2,75% ke level 7.302,12.

​Loncatan ini membawa IHSG menjadi salah satu indeks dengan kenaikan tertinggi di Asia pada perdagangan hari ini, menempati posisi tiga besar di bawah pantauan Bloomberg.

Advertisement

​Hampir seluruh sektor saham kompak parkir di zona hijau. Sektor Industri dan Energi menjadi bintang utama dengan kenaikan masing-masing sebesar 5,96% dan 5,15%. 

Euforia ini didorong oleh ​aksi beli bersih asing dimana investor asing mencatatkan net buy senilai Rp103,12 miliar. Munculnya optimisme geopolitik setelah kabar mengenai potensi jalur diplomasi antara AS dan Iran memberikan angin segar bagi pasar global dan domestik.

Dari internal, ​efek Lebaran yang memicu terjadinya technical rebound karena banyak investor yang kembali masuk ke pasar setelah melakukan aksi ambil untung sebelum libur panjang.

Sektor Industri dan Energi menjadi motor penggerak dengan kenaikan di atas 5%, didorong oleh meredanya kekhawatiran geopolitik global sesaat.

Saham Andalan: ASII (Astra) dan TLKM (Telkom) menjadi primadona yang paling banyak dikoleksi investor hari ini.

Advertisement

Saham Penopang (Big Caps)

Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi mesin penggerak utama penguatan indeks hari ini:

| Kode Saham | Emiten | Kontribusi Poin ke IHSG | :— | :— | :— |

| ASII | Astra International Tbk | +32,87 poin |

| TLKM | Telkom Indonesia Tbk | +26,38 poin |

Advertisement

| BMRI | Bank Mandiri (Persero) Tbk | +18,69 poin |

| BBCA | Bank Central Asia Tbk | +11,88 poin |

Statistik Perdagangan

​Volume Transaksi: 38,44 miliar saham.

​Nilai Transaksi: Rp25,92 triliun.

Advertisement

Frekuensi: 2,13 juta kali transaksi.

​Pergerakan Harga: 574 saham menguat, 148 saham melemah, dan 101 saham stagnan. 

Rupiah: Terpeleset ke Rp16.911 

​Berbanding terbalik dengan saham, nilai tukar rupiah justru loyo. Mata uang Garuda ditutup melemah 13 poin (0,08%) ke level Rp16.911 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Penguatan indeks dolar AS yang dipicu oleh sikap waspada investor terhadap ketidakpastian di Timur Tengah.

Advertisement

​Meskipun ada kabar diplomasi antara AS dan Iran, pasar masih cenderung memilih memegang aset aman (safe haven) seperti dolar daripada mata uang negara berkembang. Investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Harga minyak yang labil setelah penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah bergejolak tajam. Sebagai negara importir minyak, gejolak ini memberikan tekanan tambahan bagi neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.

Sentimen Risk-Off. Setelah euforia sesaat merespons pernyataan politik dari AS, pasar kembali ke mode waspada (risk-off), sehingga mata uang berisiko seperti rupiah cenderung dijauhi.

Fenomena “decoupling” atau ketidakseimbangan antara pasar saham dan nilai tukar hari ini menunjukkan bahwa minat risiko investor lokal sedang tinggi di bursa saham, namun pasar valuta asing masih sangat sensitif terhadap isu eksternal. Bank Indonesia diprediksi tetap akan berjaga-jaga di pasar untuk memastikan rupiah tidak meluncur terlalu dalam. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement