Connect with us

Ekonomi

IHSG Pulih Namun Masih Melemah, Rupiah Terpukul Sentimen Negatif Internal

Gungdewan

Diterbitkan

pada

IHSG Pulih Namun Masih Melemah, Rupiah Terpukul Sentimen Negatif Internal

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mengalami pemberhentian perdagangan sementara atau trading halt, secara perlahan menujukkan pemulihan meskipun masih melemah pada penutupan perdagangan saham Kamis (29/1/2026) sore.

Sementera itu nilai tukar (kurs) rupiah terpukul sentimen negatif dari dalam negeri sehingga bergerak gonjang ganjing dari melemah kemudian menguat dan akhirnya ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan valuta Kamis.

Baca Juga : BEI Bekukan Sementara Perdagangan setelah IHSG Anjlog 8 Persen, Menkeu Purbaya: Nggak Usah Takut

Tekanan Terhadap IHSG Mereda

Perjalanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Kamis, penuh perjuangan untuk bangkit dari pukulan tajam ketika melemah tajam sampai 8 persen. Kemerosotan itu membuat BEI memberlakukan pembekuan sementara perdagangan atau trading halt pada hari ini.

Advertisement

Setelah itu IHSG secara perlahan rebound untuk memulihkan posisi dari kemerosotan meskipun akhirnya masih tetap berada di zona merah saat perdagangan ditutup. Tetapi tekanan jual mereda sehingga IHSG ditutup melemah tipis 1,06 persen ke level 8.232,20 dari posisi sebelumnya 8.320,55.

Seperti dilansir liputan6.com, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, IHSG berupaya menguat setelah langkah pemangku kebijakan untuk menindaklanjuti keputusan kebijakan MSCI. Sedangkan dampak dari pemangkasan peringkat saham oleh Goldman Sachs dan UBS, menurut Herditya telah direspons pada awal sesi perdagangan sehingga membuat IHSG kembali koreksi dan sempat trading halt atau penghentian sementara perdagangan.

Baca Juga : Rupiah Menguat dari Dua jadi 14 Poin, IHSG Lolos dari Zona Merah

“Kami perkirakan rebound dari IHSG ini terjadi setelah pemangku kebijakan melakukan konferensi pers dan diharapkan dapat segera memenuhi aturan dan kriteria yang ditetapkan oleh MSCI kemarin,” kata Herditya.

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan, setelah trading halt, pasar mulai stabil. Sedangkan pemangkasan peringkat saham oleh Goldman Sachs dan UBS, menurut dia menambah berat IHSG pada sesi pertama, tetapi dampaknya tidak ke fundamental IHSG.

Untuk besok, Jumat (30/1), Herditya memperkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 8.076 dan resistance 8.306.

Advertisement

“Diperkirakan pergerakan IHSG besok masih dipengaruhi oleh sentimen dari MSCI,” paparnya.

Herditya menyarankan investor untuk mencermati saham HRUM dengan target harga Rp 1.130 – Rp 1.175 per saham, ISAT Rp 2.300 – Rp 2.370 per saham, dan TLKM Rp 3.550 – Rp 3.650 per saham.

Baca Juga : Rupiah Masih Menguat, IHSG BEI Kembali Melemah

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor transportasi & logistik yang naik sebesar 0,36 persen.

Sedangkan, sepuluh sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 4,78 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor properti yang masing-masing turun sebesar 3,82 persen dan 3,65 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KIOS, ELIT, CUAN, FORE dan MEDS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GOLF, BUMI, VKTR, EXCL, dan BUVA.

Advertisement

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 4.934.519 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 99,10 miliar lembar saham senilai Rp68,17 triliun. Sebanyak 214 saham naik, 521 saham menurun, dan 73 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 53,60 poin atau 0,10 persen ke 53.412,30, indeks Shanghai menguat 6,73 poin atau 0,16 persen ke 4.157,97, indeks Hang Seng menguat 141,17 poin atau 0,51 persen ke 27.968,08, dan indeks Strait Times menguat 20,68 poin atau 0,42 persen ke 4.930,02.

Baca Juga : Rupiah Terus Menguat, IHSG Kembali Tergelincir ke Zona Merah

Rupiah Belum Aman

Sementara itu nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan valuta, Kamis, bergerak melemah 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.755 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.722 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.786 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.723 per dolar AS.

Advertisement

Pelemahan rupiah di penutupan naik dibanding saat pembukaan ketika bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.752 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.722 per dolar AS

Baca Juga : Hari Ini dari Pagi hingga Sore, IHSG Terperosok ke Zona Merah, Rupiah Bangkit Menguat Tipis

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen negatif dari dalam negeri, meskipun tekanan eksternal relatif terbatas. “Salah satu faktor utama adalah kekhawatiran pasar menyusul langkah analis Goldman Sachs Group Inc yang menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight ,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (29/1/2026).

Goldman Sachs memperingatkan bahwa kekhawatiran MSCI Inc terkait kelayakan investasi Indonesia berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam skala besar. Dalam skenario ekstrem, jika Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier , dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan dapat melepas aset hingga US$ 7,8 miliar.

Selain itu, lanjut dia, arus keluar tambahan senilai sekitar US$ 5,6 miliar juga berpotensi terjadi apabila FTSE Russell melakukan peninjauan ulang terhadap metodologi dan status free-float pasar saham Indonesia.

Baca Juga : IHSG Melambung Cetak Rekor Tertinggi Lagi, Rupiah Dalam Bahaya Dekati Rp17.000 Perdolar AS

“Kombinasi tekanan pasar dan risiko penurunan likuiditas dinilai berpotensi mendorong penyesuaian portofolio investor long-only , sekaligus memicu aliran dana spekulatif dari hedge fund,”  tambah Ibrahim.

Advertisement

Menurut Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong untuk Jumat (30/1/2026), tidak ada data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang akan menjadi sentimen penggerak rupiah.

Investor masih perlu mencemati dampak dari perkembangan seputar MSCI dan geopolitik seputar ancaman Presiden AS Donald Trump pada Iran.

“Rupiah pada umumnya masih belum aman dan belum keluar dari tekanan,” ucap Lukman kepada Kontan, Kamis (29/1).

Lukman memproyeksikan rupiah pada Jumat (30/1) dikisaran Rp 16.700 – Rp 16.800 per dolar AS. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement