Ekonomi
IHSG Melambung Cetak Rekor Tertinggi Lagi, Rupiah Dalam Bahaya Dekati Rp17.000 Perdolar AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap berada di zona hijau dalam perdagangan saham, Selasa (20/1/2026), sementara nilai tukar (kurs) rupiah makin terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat.
FAKTUAL INDONESIA: Perdagangan saham dan valuta, Selasa (20/1/2026), menunjukan catatan yang bertolak belakang antara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melambung sementara nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kalau IHSG BEI terus melambung setelah ditutup menguat dan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) maka nilai tukar rupiah kembali melemah bahkan anjlog karena sudah mendekati nilai Rp17.000 perdolar AS.
Baca Juga : IHSG Lagi-lagi Cetak Rekor Tettinggi dan Ditutup Menguat, Rupiah Lagi-lagi Melemah
Dengan terus menguat, IHSG bergerak di zona aman untuk mencapai target level 10.000 sedangkan rupiah justru dalam bahaya karena kini berada dalam posisi terlemah sepanjang masa.
IHSG Menguat Tipis
IHSG sebenarnya ditutup pada perdagangan saham Selasa sore menguat tipis hanya 0,83 poin atau 0,01 persen ke posisi 9.134,70 dibandingkan hari sebelumnya. Padahal ketika pembukaan perdagangan di pagi hari, IHSG dibuka menguat 22,32 poin atau 0,24 persen ke posisi 9.156,19.
Bahkan siang harinya, IHSG melesat ke level 9.174,47 yang juga merupakan level harga ATH baru secara intraday. Sedang level terendah IHSG tercatat 9.120,15.
Namun kenaikan tipis ini saat penutupan itu tetap mengantar IHSG kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa atau ATH.
Baca Juga : IHSG Ditutup Menguat dan Cetak Rekor Tertinggi ATH, Rupiah Kembali Tergelincir
Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ketika pembukaan turun 1,37 poin atau 0,15 persen ke posisi 891,75. Kemudian saat penutupan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,74 poin atau 0,98 persen ke posisi 884,38.
Pergerakan IHSG dalam mencetak rekor tertinggi kali ini ditopang saham–saham barang baku, saham Konsumen non primer, dan saham perindustrian yang menguat 2,49%, 2,08%, dan 1,86%, disusul oleh menguatnya saham Kesehatan mencapai 1,1%. Saham–saham Konsumen primer juga berhasil mengalami penguatan 1,08%. Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham Big Caps.
Laju indeks hari ini dipengaruhi oleh faktor domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, pelaku pasar sedang mencermati momentum awal tahun serta menanti arah kebijakan moneter dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Baca Juga : Rabu Ceria, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi Di Atas 9.000, Rupiah Akhirnya Bangkit Juga
“IHSG melanjutkan penguatan di tengah potensi momentum January Effect. Di sisi lain, pelaku pasar mulai memposisikan diri menjelang keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI),” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, seperti dilansir mediaindonesia.
Rupiah Dekati Rp17.000
Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada penutupan perdagangan valuta, Selasa (20/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi 0,01% ke Rp16.956 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.985 dari sebelumnya Rp16.955 per dolar AS.
Baca Juga : Penutupan Perdaganga Hari Ini, IHSG Menghijau Lagi, Rupiah ya Ampun ……
Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan rupiah spot. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), melemah tipis 0,006% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.955 per dolar AS.
Ini menjadi posisi penutupan terlemah rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat, pelemahan rupiah diakibatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan defisit fiskal.
“Walaupun sebenarnya dolar AS sendiri dalam kondisi masih tertekan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Menurut Lukman, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh sentimen pencalonan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Baca Juga : Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah
“Bisa (menjadi sentimen penurunan rupiah). Tentunya, investor mengkhawatirkan apabila independensi BI semakin dipertanyakan,” ungkapnya.
Lukman bilang, tanpa adanya perubahan pada fundamental, rupiah berpotensi mencapai Rp 17.500 per dolar AS pada kuartal I 2026.
Meskipun begitu, masih ada sentimen positif yang bisa menopang kinerja nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.
Yaitu, indeks dolar AS yang masih lemah oleh ketidakpastian pastikan kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
“Namun, di saat yang sama, apabila sentimen risk off muncul, akan membebani (indeks dolar AS),” katanya. ***














