Ekonomi
Hari Ini dari Pagi hingga Sore, IHSG Terperosok ke Zona Merah, Rupiah Bangkit Menguat Tipis

Laju menguat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terhenti dalam perdagangan saham Rabu (21/1/2026) ketika ditutup melemah ketika nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bangkit menguat pada perdagangan valuta sejak pagi hingga sore.
FAKTUAL INDONESIA: Hari ini, Rabu (21/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pergerakan pertama setelah lima hari perdagangan saham dan valuta sebelumnya.
Ya, kali ini IHSG BEI mengalami pengalaman pertama terperosok ke zona merah setelah melaju menguat dalam lima hari perdagangan saham sebelumnya. Bahkan IHSG terus berada dalam posisi melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
Sebaliknya nilai tukar rupiah juga untuk pertama kalinya mencatat posisi menguat terhadap dolar AS. Penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS sudah terjadi sejak perdagangan valuta dibuka hingga penutupan.
Baca Juga : IHSG Melambung Cetak Rekor Tertinggi Lagi, Rupiah Dalam Bahaya Dekati Rp17.000 Perdolar AS
Pemicu Pelemahan IHSG
Setelah terus melaju terutama dalam lima hari perdagangan saham sebelumnya, IHSG harus menerima kenyataan dibuka dan ditutup melemah Rabu (21/1/2026). Melemahnya IHSG hari ini cukup signifikan karena sejak pagi hingga sore terus berada di zona merah.
Ketika pembukaan perdagangan, IHSG sudah dibuka melemah 40,27 poin atau 0,44 persen ke posisi 9.094,43. Pelemahan IHSG semakin parah hingga penutupan perdagangan di sesi pertama.
Setelah jeda, IHSG makin jeblok. Menjelang penutupan, IHSG tak mampu bangkit hingga akhirnya ditutup ambruk. IHSG ditutup melemah 124,37 poin atau 1,36 persen ke posisi 9.010,33.
Seiring dengan itu saat pembukaan perdagangan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94. Sedangkan ketika penutupan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,95 poin atau 1,47 persen ke posisi 871,41.
“IHSG terkoreksi dipicu oleh aksi profit taking setelah indeks mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya,” ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas dikutip dari riset hariannya, Rabu, seperti dilansir Viva.
Baca Juga : IHSG Lagi-lagi Cetak Rekor Tettinggi dan Ditutup Menguat, Rupiah Lagi-lagi Melemah
Selain masifnya aksi ambil untung, tekanan timbul dari memburuknya sentimen domestik menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan. Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai melakukan pelanggaran lingkungan. Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA5, disertai penyempitan area positif MACD. Indikator stochastic RSI yang bergerak turun dari area overbought.
“Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan sentimen global, khususnya pidato Presiden Donald Trump pada forum World Economic Forum di Davos, serta rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang diperkirakan tumbuh kuat sebesar 4,3 persen secara kuartalan pada kuartal III-2025,” lanjut Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai pelemahan IHSG dipicu oleh sikap investor global yang mulai mengurangi ekposur terhadap aset berisiko tinggi. Sentimen negatif tersebut berkaitan dengan ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, potensi penerapan tarif dagang, dan juga ketidakpastian arah suku bunga global.
“Keadaan pelemahan yang disebabkan oleh sentimen seperti ini biasa berlangsung untuk jangka pendek kecuali sentimen berlarut-larut,” kata Reydi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak sembilan sektor saham melemah yaitu emiten industri sebesar 6,33 persen, sektor properti 3,44 persen dan transportasi 3,04 persen. Hanya dua sektor saham lainnya yang berhasil menguat. Sektor non-cyclical dan industri dasar masing-masing naik 0,58 persen dan 0,14 persen.
Baca Juga : IHSG Ditutup Menguat dan Cetak Rekor Tertinggi ATH, Rupiah Kembali Tergelincir
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar (top gainers) yaitu MDKA, ADRO, BRPT, ANTM, dan PGEO. Sedangkan, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar (top losers) yakni UNTR, ISAT, BSDE, SCMA, dan KLBF.
Pergerakan IHSG ke zona merah terjadi di tengah bursa global yang variatif. Di Asia, indeks Straits Times melemah 0,41% dan indeks Nikkei 225 terkoreksi 0,41%. Sedangkan indeks Hang Seng terkerek 0,37%, sementara indeks Shanghai Composite menguat tipis 0,08% pada Rabu (21/1) pukul 16.23 WIB.
Selanjutnya dari bursa saham Amerika Serikat (AS), indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 1,76%, indeks S&P 500 terkoreksi hingga 2,06%, sementara Nasdaq Composite merosot 2,39% pada penutupan perdagangan Selasa (20/1) waktu setempat.
Pasar saham Wall Street mencatatkan penurunan harian terbesar dalam tiga bulan pada perdagangan Rabu (21/1). Hal ini seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump yang kembali menargetkan Eropa dan memicu aksi jual luas di pasar global.
Seperti dilansir, kontan.co.id, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, untuk perdagangan Kamis (22/1/2026), IHSG berpeluang menguat secara terbatas. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dengan level support di 8.996 dan resistance di 9.026.
Baca Juga : Rabu Ceria, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi Di Atas 9.000, Rupiah Akhirnya Bangkit Juga
“Kami perkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound setelah koreksi yang cukup dalam,” jelasnya.
Dari sisi sentimen, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik global yang tengah berlangsung. Selain itu, tren penguatan harga emas dunia diperkirakan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar.
Rupiah Mulai Menghijau
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Rabu (21/1/2026) mulai menghijau. Dalam perdagangan valuta hari ini, kurs rupiah saat pembukaan dibuka menguat 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.955 dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan rupiah bergerak menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.963 dari sebelumnya Rp16.981 per dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, penguatan rupiah didorong oleh respons positif pasar terhadap pernyataan BI yang dinilai tidak terlalu dovish.
Baca Juga : Penutupan Perdaganga Hari Ini, IHSG Menghijau Lagi, Rupiah ya Ampun ……
“Pernyataan BI dipandang less dovish. BI masih perlu mencermati peluang untuk memangkas suku bunga, dan peluang ini ditafsirkan pasar sebagai potensi tekanan bagi rupiah, sehingga saat ini pasar menjadi lebih berhati-hati,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan, dengan sikap BI tersebut, data-data ekonomi domestik seperti inflasi ke depan kemungkinan tidak lagi menjadi faktor utama penggerak rupiah dalam jangka pendek.
Untuk pergerakan rupiah pada Kamis (22/1/2026), Lukman menyebutkan tidak terdapat rilis data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi pasar.
Namun, investor perlu mencermati sentimen global, khususnya potensi risk off yang dipicu oleh aksi jual obligasi AS.
Sentimen risk off bisa muncul akibat sell off obligasi AS yang dipengaruhi oleh isu geopolitik, salah satunya terkait Greenland,” jelasnya.
Adapun untuk perdagangan Kamis (22/1/2026) Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.900 – Rp 17.000 per dolar AS. ***














