News
FOMO Jalan Kaki: Ketika Trotoar Jadi Arena Olahraga Paling Jujur

Setiap kali saya pergi ke luar negeri untuk bertanding bridge, ada satu hal yang selalu membekas, cara mereka memperlakukan pejalan kaki.
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Ada satu hal yang belakangan ini membuat saya tersenyum sendiri:
ternyata saya sudah “ikut tren” sebelum tren itu ada.
Hari ini orang menyebutnya FOMO—fear of missing out.
Orang ramai-ramai jalan kaki. Pamer langkah. Pamer jarak. Pamer kalori terbakar.
Saya?
Sudah belasan tahun melakukannya. Diam-diam.
Apakah Jalan Kaki Itu Olahraga?
Pertanyaan ini masih sering muncul.
Sebagian orang menganggap olahraga itu harus berkeringat hebat, harus lari, harus ke gym, harus “terlihat capek”.
Padahal mari jujur:
berapa banyak orang yang semangat di awal… lalu berhenti di tengah jalan?
Jalan kaki justru sebaliknya.
Sederhana. Murah. Bisa dilakukan siapa saja.
Dan yang paling penting—bisa konsisten.
Bagi saya, jawabannya jelas:
Ya, jalan kaki adalah olahraga. Bahkan yang paling jujur.
Dari Trotoar Rusak ke Trotoar Ramah
Dulu, berjalan kaki di Jakarta bukan aktivitas olahraga.
Lebih mirip… bertaruh nyawa.
Trotoar sempit. Rusak. Bahkan sering “hilang” karena dipakai parkir atau pedagang.
Namun sekarang, saya harus akui:
Jakarta mulai berubah.
Trotoar diperbaiki. Lebih lebar. Lebih nyaman.
Ini bukan sekadar pembangunan fisik.
Ini adalah perubahan cara kota memperlakukan manusia.
Dan bagi saya—ini seperti “hadiah terlambat” setelah bertahun-tahun setia berjalan kaki.
Belajar dari Luar Negeri: Pejalan Kaki Adalah Raja
Setiap kali saya pergi ke luar negeri untuk bertanding bridge, ada satu hal yang selalu membekas.
Bukan gedungnya. Bukan makanannya.
Tapi… cara mereka memperlakukan pejalan kaki.
Anda berdiri di zebra cross.
Belum melangkah penuh.
Mobil yang masih jauh… sudah melambat.
Seolah berkata:
“Silakan, ini giliran Anda.”
Kontras sekali dengan kebiasaan di sini,
di mana menyeberang kadang terasa seperti permainan strategi tingkat tinggi.
Usia 73: Masih Bisa Jalan Cepat
Saya sekarang mendekati usia 73 tahun.
Dan saya masih bisa berjalan cepat 3–5 kilometer sekali jalan.
Bukan karena saya hebat.
Tapi karena saya tidak pernah berhenti.
Jalan kaki itu seperti bunga:
kalau dirawat, dia tumbuh.
Kalau ditinggalkan, dia layu.
Malang: Kota Sejuk yang Belum Ramah Pejalan Kaki
Izinkan saya jujur.
Beberapa waktu lalu saya menginap di Hotel Atria, Malang.
Selama tiga hari, saya bolak-balik berjalan kaki menuju MCC.
Secara teori, ini harusnya menyenangkan.
Udara Malang sejuk. Kota yang nyaman.
Namun kenyataannya?
Ini bukan lagi olahraga. Ini perjuangan.
Trotoar di Jalan Ahmad Yani masih jauh dari kata ramah.
Tidak rata. Terputus. Bahkan di beberapa titik terasa tidak aman—terutama saat hujan.
Saya yang sudah terbiasa jalan kaki saja harus ekstra hati-hati.
Apalagi masyarakat umum?
Padahal Malang punya semua modal:
cuaca bagus, ritme kota nyaman, dan potensi jadi kota ramah pejalan kaki.
Sebuah Harapan untuk Malang
Saya percaya, perubahan itu mungkin.
Bayangkan tahun depan, saat BTC ke-4 digelar di Malang:
Para peserta tidak hanya membawa pulang prestasi,
tapi juga pengalaman berjalan kaki yang menyenangkan.
Trotoar yang rapi. Aman. Nyaman.
Udara sejuk berpadu dengan fasilitas yang manusiawi.
Itu bukan sekadar infrastruktur.
Itu adalah cara kota menghormati warganya.
Penutup: Jangan Tunggu Tren
Hari ini jalan kaki sedang “naik daun”.
Besok mungkin tren lain datang.
Tapi kesehatan tidak pernah ikut tren.
Kalau ada satu hal yang ingin saya bagikan, sederhana saja:
Mulailah berjalan.
Pelan tidak masalah.
Yang penting… terus.
Karena pada akhirnya,
bukan seberapa cepat kita berjalan,
tapi seberapa lama kita bisa terus melangkah.














