Internasional
Iran Terusik Oleh Keganasan Israel, Ultimatum Serangan di Lebanon dan Gaza Mengancam Gencatan Senjata AS

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengultimatum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menghentikan serangan di Lebanon dan Gaza. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Iran mulai terusik oleh keganasan Israel di Lebanon dan Gaza. Para pejabat Iran mengultimatum bahwa peningkatan serangan Israel terhadap Lebanon dan permusuhan yang berkelanjutan di Gaza mengancam akan menggagalkan negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat yang terus berlarut-larut .
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada hari Senin menyatakan bahwa meningkatnya invasi Israel ke Lebanon dan serangan-serangannya terhadap negara tersebut, bersamaan dengan pengepungan berkelanjutan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
“Gencatan senjata antara Iran dan AS adalah gencatan senjata yang berlaku di semua lini, termasuk di Lebanon,” kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial. “Pelanggaran di satu lini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua lini. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran.”
Seperti dikutip dari Al Jazeera, negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan poin yang sama.
“Blokade angkatan laut dan peningkatan kejahatan perang di Lebanon oleh rezim Zionis yang melakukan genosida adalah bukti nyata ketidakpatuhan AS terhadap gencatan senjata,” tulisnya di media sosial.
“Setiap pilihan memiliki harga, dan tagihannya harus dibayar. Semuanya akan berjalan sesuai rencana,” tambahnya.
Komentar mereka muncul ketika Israel memperdalam invasinya ke Lebanon selatan dan mengancam akan melanjutkan serangan skala besar di Beirut.
Tidak lama setelah komentar tersebut muncul, militer Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa bagi penduduk pinggiran selatan Beirut, Dahiye, dan serangan pun diperintahkan. Sehari sebelumnya, pasukan darat Israel mencapai titik terdalam mereka di Lebanon dalam 26 tahun terakhir.
IRGC Ancam Buka Front Baru
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan pada Senin sore bahwa Teheran juga menuntut penghentian serangan militer Israel di Gaza .
Laporan tersebut menyebutkan bahwa para pejabat Iran telah menangguhkan pertukaran pesan teks melalui seorang mediator dengan rekan-rekan mereka dari AS karena permusuhan yang terus berlanjut.
“Penghentian segera operasi militer agresif dan brutal rezim Zionis di Gaza dan Lebanon serta perlunya penarikan penuh rezim tersebut dari wilayah pendudukan di Lebanon telah ditekankan oleh para pejabat dan negosiator Iran, dan tidak akan ada pembicaraan sampai pandangan Iran dan kelompok perlawanan mengenai masalah ini terpenuhi,” lapor kantor berita tersebut.
Meskipun laporan dari Tasnim, yang secara luas diyakini terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), belum dikonfirmasi secara publik oleh pemerintah Iran, hal itu dapat menjadi sinyal pesan dari Teheran.
Kemudian, IRGC mengancam akan membuka “front baru” dan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup kecuali aksi militer Israel dihentikan, menurut media pemerintah.
“Iran menganggap melanggar garis merah di Lebanon dan Gaza berarti perang langsung,” demikian kutipan pernyataan organisasi intelijen IRGC yang disiarkan televisi pemerintah.
AS telah berupaya memisahkan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon dari konflik yang lebih luas dengan Iran. Namun Teheran bersikeras bahwa Lebanon harus dilibatkan dalam kesepakatan apa pun di masa mendatang.
Sebaliknya, pemerintahan AS telah mendukung dan menjadi tuan rumah pembicaraan terpisah antara pejabat Lebanon dan Israel.
Presiden Donald Trump menegaskan kembali pada Senin pagi bahwa Iran “ingin membuat kesepakatan,” dan meminta para pengkritiknya untuk menyerahkan negosiasi kepadanya dan berhenti “berbicara ngawur”.
“Santai saja, semuanya akan berjalan baik pada akhirnya – selalu begitu!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya. ***














