Olahraga
Thedy/Richo Juara Walikota Pontianak Open Pairs, Kadisporapar Tutup Walikota Pontianak Cup dengan Gagasan Memasyarakatkan Bridge

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Hari terakhir Turnamen Bridge Walikota Pontianak Cup 2026 mempertandingkan nomor Open Pairs. Antusiasme peserta sangat menggembirakan. Sebanyak 34 pasangan ambil bagian sehingga menutup rangkaian turnamen dengan persaingan yang tidak kalah menarik dibanding nomor beregu.
Setelah melalui delapan sesi pertandingan sistem Swiss, pasangan mantan anggota Tim Nasional Junior Indonesia, Thedy Setiawan/Richo, tampil sebagai juara. Konsistensi permainan mereka sejak awal hingga akhir membawa pasangan ini berdiri di podium tertinggi.
Posisi runner-up ditempati pasangan Buyung/Budi, disusul Isman Hairuddin di peringkat ketiga dan Nicko/Zulfi di posisi keempat.
Panitia juga memberikan penghargaan khusus kepada Zend/Kurnia sebagai Best Mixed Pair, sementara gelar Best Junior Pair diraih oleh Teguh/Dika.
Penutupan Turnamen
Turnamen secara resmi ditutup oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadisporapar) Kota Pontianak, Syarif Rizal, yang mewakili Wali Kota Pontianak Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T.
Pada acara penutupan tersebut turut hadir Ketua Pengprov GABSI Kalimantan Barat Christian Makunimau, Ketua Pengkot GABSI Pontianak Daniel Edward Tangkau, S.H., CLA, perwakilan KONI Kalimantan Barat Iskandar, serta Wakil Sekretaris Jenderal KONI Kalbar Raden Hidayatullah, yang juga ikut bertanding dalam turnamen ini.
Pertemuan para tokoh olahraga tersebut melahirkan sejumlah pembicaraan yang sangat positif bagi perkembangan bridge di Kalimantan Barat.
Ketua Pengkot GABSI Pontianak, Daniel Edward Tangkau, mengungkapkan keinginannya untuk menggelar turnamen serupa di Balikpapan sebelum akhir tahun 2026.
Sementara itu, Ketua Pengprov GABSI Kalbar Christian Makunimau bersama Wakil Sekjen KONI Kalbar Raden Hidayatullah berencana membawa usulan pada Kongres GABSI di Mamuju, Sulawesi Barat, agar Pontianak ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional Bridge 2027.
Pontianak sendiri bukanlah kota yang asing bagi insan bridge nasional. Kota Khatulistiwa ini pernah sukses menjadi tuan rumah Kejurnas Bridge 2013. Jika usulan tersebut mendapat persetujuan, maka setelah 14 tahun, Pontianak akan kembali menjadi pusat perhatian bridge Indonesia.
Bridge Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Namun, gagasan yang paling menarik justru datang dari Kadisporapar Kota Pontianak, Syarif Rizal.
Menurutnya, tantangan terbesar bridge saat ini bukan sekadar menyelenggarakan turnamen, melainkan bagaimana membuat masyarakat, terutama generasi muda, tertarik mengenal dan memainkan bridge.
Beliau mengusulkan agar bridge hadir dalam kegiatan Car Free Day, sehingga masyarakat dapat melihat langsung permainan ini, bahkan ikut mencobanya.
Terus terang, Tukang Bridge cukup kagum dengan pemikiran tersebut. Jarang ada pejabat olahraga yang melihat persoalan bridge dari sisi pembinaan masyarakat.
Sesungguhnya gagasan membawa bridge ke ruang publik bukanlah hal baru. Seingat Tukang Bridge, ide serupa pernah muncul di Sidoarjo sekitar tahun 2017, tetapi belum sempat diwujudkan.
Kini peluang itu justru semakin terbuka. Belajar Bridge Kini Semakin Mudah
World Bridge Federation kini telah mengembangkan metode pembelajaran bridge yang sangat sederhana bagi pemula berusia 12 tahun ke atas.
Peserta cukup mendapatkan pengenalan sekitar 10 hingga 15 menit, kemudian langsung dapat mengikuti pertandingan menggunakan format permainan yang telah disederhanakan.
Program ini sudah dua kali dilaksanakan secara daring dengan peserta dari berbagai negara. Indonesia pernah diwakili oleh para pelajar dari Gunungkidul, yang membuktikan bahwa bridge dapat diperkenalkan secara cepat, mudah, dan menyenangkan.
Sebuah Gagasan dari Kota Khatulistiwa
Dari pembicaraan tersebut, muncul sebuah bayangan di benak Tukang Bridge.
Bagaimana jika Pengprov GABSI Kalbar bekerja sama dengan seluruh Pengkab dan Pengkot GABSI di 12 kabupaten dan 2 kota di Kalimantan Barat untuk melatih siswa-siswa sekolah?
Tidak harus hanya 15 menit. Dengan waktu yang tersedia, para pelajar bisa mendapatkan pelatihan selama sekitar satu minggu sehingga ketika bertanding mereka sudah lebih memahami dasar-dasar permainan.
Apabila setiap kabupaten dan kota mengirimkan minimal 10 pemain, maka akan terkumpul sedikitnya 140 pemain muda. Daerah-daerah di sekitar Pontianak bahkan bisa mengirim peserta lebih banyak.
Bayangkan apabila mereka bermain bersama pada saat Car Free Day.
Pertandingan cukup memainkan 10 board, sehingga keseluruhan acara dapat selesai dalam waktu sekitar dua jam. Hasil pertandingan pun bisa langsung diketahui melalui Bridge Pocket, aplikasi karya anak bangsa yang telah digunakan dalam berbagai turnamen bridge.
Seluruh kegiatan direkam menggunakan drone sehingga menghasilkan pemandangan yang spektakuler.
Bahkan, kegiatan seperti ini berpotensi dicatat sebagai Rekor MURI, bahkan mungkin menjadi yang pertama di dunia sebagai pertandingan bridge massal di ruang terbuka.
Apabila gagasan tersebut dapat diwujudkan, Pontianak tidak hanya dikenal sebagai penyelenggara turnamen bridge, tetapi juga sebagai kota yang memelopori gerakan memasyarakatkan bridge di Indonesia.
Sangat selaras dengan semangat “Pontianak Kota Bersinar”—Bersih, Sehat, Indah, dan Aman—serta semboyan keramahan masyarakatnya, “Awak Datang Kamek Sambut”, dan semangat pembangunan “Pontianak Bersahabat.”
Menutup Turnamen dengan Menikmati Kuliner Legendaris
Seperti hari-hari sebelumnya, usai pertandingan para peserta kembali diajak menikmati kekayaan kuliner khas Pontianak. Tradisi ini menjadi penutup yang sempurna bagi penyelenggaraan Walikota Pontianak Cup 2026.
Perjalanan kuliner diawali dengan menikmati Ce Hun Tiau, es tradisional khas Pontianak yang sangat melegenda. Nama Ce Hun Tiau berasal dari dialek Tio Ciu yang secara harfiah berarti ubi, tepung, dan potongan memanjang, sesuai bahan utama pembuatannya. Semangkuk Ce Hun Tiau berisi potongan tepung dari ubi, dipadukan dengan es serut, santan, sirup merah, kacang merah, dan pelengkap lainnya yang menghasilkan rasa manis, gurih, dan sangat menyegarkan.
Setelah itu rombongan menikmati air kelapa muda, pisang goreng khas Pontianak yang renyah dan legit, langteh, serta lek tau swan, hidangan penutup berbahan kacang hijau kupas yang disajikan hangat.
Sebagai penutup wisata kuliner, rombongan menikmati makan malam di Kwecap Veteran, salah satu ikon kuliner legendaris Pontianak. Berdiri sejak 1994, rumah makan ini dikenal sebagai penyaji hidangan Chinese food non-halal dengan cita rasa yang tetap terjaga hingga kini. Bagi para pecinta kuliner, berkunjung ke Pontianak rasanya belum lengkap tanpa mencicipi sajian khas di tempat ini.
Rangkaian wisata kuliner tersebut menjadi pelengkap yang sempurna bagi sebuah turnamen yang bukan hanya menghadirkan persaingan di meja bridge, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya dan cita rasa Kota Pontianak kepada para peserta dari berbagai daerah.
Secara khusus, Tukang Bridge ingin mengucapkan terima kasih kepada sahabat saya, Gabriel Christanmas, yang dengan penuh perhatian bersedia menjadi pemandu kuliner kami selama berada di Pontianak. Berkat beliau, kami dapat menikmati berbagai kuliner legendaris yang menjadi kebanggaan Kota Khatulistiwa. Bukan sekadar mencicipi makanan, tetapi juga mendengar kisah dan sejarah di balik setiap sajian.
Akhirnya, Walikota Pontianak Cup 2026 bukan hanya meninggalkan kenangan tentang pertandingan bridge yang kompetitif. Turnamen ini juga menghadirkan persahabatan, gagasan-gagasan besar untuk masa depan bridge Indonesia, serta pengalaman menikmati keramahan dan kekayaan kuliner Pontianak.
Semoga pada tahun 2027, Kota Pontianak benar-benar kembali menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Bridge, dan dari kota yang berada tepat di garis khatulistiwa ini lahir pula sebuah gerakan besar untuk memasyarakatkan bridge kepada generasi muda Indonesia. ***














