Ekonomi
Pasar Keuangan Kamis 16 April 2026: Rupiah Mulai Tersenyum Tipis, IHSG BEI Merana, Kenapa Begini?

Pasar keuangan domestik masih variatif Kamis (16/4/2026) meski rupiah mulai bangkit namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru tergores tipis. (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar (kurs) rupiah mulai tersenyum tipis sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus merana di akhir perjalanan.
Menghijaunya rupiah dan memerahnya IHSG BEI membuat pasar keuangan domestik bergerak variatif Kamis (16/4/2926). Kenapa bisa begini?
Rupiah Menguat Tipis
Rupiah hari ini tampil meyakinkan dari pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing. Pada penutupan perdagangan Kamis sore rupiah menguat 4 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.139 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Lebih menguat dibandingkan posisi ketika pembukaan perdagangan dimana rupiah dibuka menguat menguat hanya 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.141 dari penutupan sebelumnya.
Namun pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia rupiah justru bergerak melemah 1 poin ke level Rp17.142 dari sebelumnya Rp17.141 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik global, khususnya optimisme terhadap dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang dikabarkan akan segera mencapai kesepakatan baru. Sentimen positif ini memberikan ruang bagi mata uang emerging markets untuk bernapas lega.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Kamis, mengemukakan, dari eksternal, pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya harapan meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Laporan menyebut Iran berpotensi mengizinkan kapal melintas melalui Selat Hormuz jika kesepakatan tercapai, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
“Pasar merespons positif sinyal perdamaian dari Gedung Putih. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap kenaikan utang luar negeri Indonesia dan defisit fiskal yang mulai merangkak naik,” ujarnya.
Dari dalam negeri, sepeeti dilansir priskop, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat meningkat menjadi 437,9 miliar dolar AS, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy).
Dari sisi fiskal, tekanan juga mulai terlihat. Hingga Maret 2026, defisit anggaran mencapai 0,93% terhadap PDB atau sekitar Rp240 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4% atau Rp100 triliun. Kenaikan harga minyak global yang berada di kisaran US$100 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70, meningkatkan risiko pembengkakan subsidi energi.
Kondisi ini membuka peluang revisi APBN pada Agustus mendatang, termasuk opsi penyesuaian harga BBM bersubsidi yang berpotensi memicu tekanan inflasi dan risiko stagflasi.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.130-Rp17.170,” tutur Ibrahim.
IHSG Tergores Tipis
Kalau rupiah menghijau maka IHSG tergores tipis sehingga masuk zona merah di akhir perdagangan saham setelah sempat menguat pada pembukaan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis pagi, IHSG dibuka menguat 39,75 poin atau 0,52 persen ke posisi 7.663,34. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,74 poin atau 0,36 persen ke posisi 762,69.
Meski sempat dibuka menguat pada sesi pagi dan menyentuh level tertinggi di 7.705, tekanan jual di akhir sesi membuat indeks tergelincir ke zona merah.
IHSG akhirnya ditutup melemah 2,21 poin atau 0,03 persen ke posisi 7.621,38. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,63 poin atau 0,35 persen ke posisi 75,32.
Pelemahan ini terutama dipicu oleh sektor infrastruktur dan barang baku yang terkoreksi masing-masing sebesar 0,6% dan 0,39%. Para analis menilai, investor cenderung melakukan aksi profit taking setelah IHSG sempat mengalami reli dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, empat sektor mencatatkan penguatan. Sektor transportasi dan logistik memimpin dengan kenaikan 3,00%, diikuti sektor kesehatan sebesar 2,08% serta teknologi yang naik 1,43%.
Di sisi lain, tujuh sektor mengalami tekanan. Sektor barang konsumen non primer mencatat penurunan terdalam sebesar 0,71%, disusul sektor infrastruktur turun 0,67% dan properti melemah 0,44%.
Untuk saham, penguatan terbesar terjadi pada DEFI, KRYA, LABA, AYLS, dan AGRO. Sementara itu, saham dengan penurunan terdalam antara lain PSDN, SDMU, SMIL, IFSH, dan ROTI.
Total frekuensi perdagangan mencapai 2,63 juta kali transaksi, dengan volume saham sebanyak 39,81 miliar lembar dan nilai transaksi Rp18,14 triliun. Sebanyak 356 saham menguat, 318 saham melemah, dan 119 saham stagnan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus seperti dilansir liputan6 menuturkan, IHSG melemah pada saat bursa regional Asia menguat seiring harapan akan dimulainya kembali negosiasi dan kesepakatan perdamakian jangka panjang antara Amerika Serikat dengan Iran serta rilis data ekonomi China.
“Dari mancanegara, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada harapan negosiasi putaran kedua antara AS dengan Iran,” katanya.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan pelaku pasar tampaknya masih mencermati perkembangan dinamika konflik di Timur Tengah, seiring putaran kedua perundingan antara AS dan Iran tengah dalam pembahasan, dan belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.
Selain itu, pasar diwarnai aksi profit taking setelah IHSG mengalami rally selama lima hari. Sentimen lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh melambat, merujuk rilis dari International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen (yoy) tahun 2026, atau turun dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen (yoy), dan naik tipis menjadi 5,1 persen (yoy) pada 2027.
Secara global, IMF juga memperkirakan pertumbuhan melambat ke 3,1 persen (yoy) pada 2026 akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
IHSG diprediksi akan bergerak sideways pada perdagangan, Jumat (17/4/2026). “Namun secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong terjadinya profit taking. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550-7.700,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Kamis (16/4/2026).
Phintraco Sekuritas seperti dilansir investorid, memberikan rekomendasi saham ICBP, INTP, MYOR, EMTK dan NCKL untuk trading, Jumat (17/4/2026). ***














