Connect with us

Ekonomi

Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah

Cukup mengagetkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat melewati level 9000 malah ditutup melemah Senin (12/1/2026) sementara nilai tukar (kurs) rupiah masih belum juga mampu bangkit (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Harapan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus level 9000 sebenarnya sudah terwujud saat pembukaan perdagangan saham Senin (12/1/2026) namun setelah itu malah tergelincir ke zona merah saat penutupan.

Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada pada posisi melemah baik saat pembukaan maupun penutupan perdagangan valuta Senin sehingga belum mampu bangkit sejak awal tahun 2026.

Baca Juga : Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936

Pemicu Koreksi IHSG

IHSG BEI mengawali perdagangan dengan meyakinkan ketika dibuka menguat 55,00 poin atau 0,62 persen ke posisi 8.991,75. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,50 poin atau 0,52 persen ke posisi 872,53.

Bahkan kemudian IHSG sempat melewati level psikologis 9.000 ketika menguat dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.000,97.

Advertisement

Setelah itu IHSG diterpa gonjang-ganjing karena sempat menyentuh titik terendah harian di 8.715,41, turun sekitar 250 poin dari pembukaan. Meskipun mampu merangkak dari level terendah namun IHSG tetap ditutup melemah 0,58 persen atau turun 52,03 poin ke level 8.884,72. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,43 poin atau 0,17 persen ke posisi 866,55.

Seperti dilansir infobanknews.com, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menuturkan hal tersebut dipicu oleh realisasi keuntungan jangka pendek setelah indeks menyentuh level psikologis 9.000.

Baca Juga : IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika

Koreksi IHSG sekitar 2 persen hari ini dipicu oleh realisasi keuntungan jangka pendek setelah indeks menyentuh level psikologis 9.000.

“Untuk mempertahankan momentum di atas level tersebut, memerlukan katalis lanjutan yang bersifat fundamental. Pergerakan ini (pelemahan IHSG) masih dapat dikategorikan sebagai koreksi sehat dalam tren yang ada,” ucap Reydi dalam keterangannya, Senin.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 2,81 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor transportasi & logistik yang naik masing-masing sebesar 2,54 persen dan 2,26 persen.

Advertisement

Sedangkan, lima sektor melemah yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 0,94 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor keuangan yang turun masing-masing sebesar 0,81 persen dan 0,64 persen.

Baca Juga : IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MSKY, DKHH, KPIG, APLN dan SOCI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni HILL, NRCA, IRSX, DOOH dan PBSA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 5.072.603 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 74,40 miliar lembar saham senilai Rp40,10 triliun. Sebanyak 279 saham naik, 435 saham menurun, dan 97 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Hang Seng menguat 376,69 poin atau 1,44 persen ke 26.608,48, indeks Shanghai menguat 44,85 poin atau 1,09 persen ke 4.165,29, dan indeks Strait Times menguat 22,11 poin atau 0,47 persen ke 4.766,77.

Sementara itu, indeks Nikkei (Jepang) libur memperingati hari libur nasional negara tersebut.

Advertisement

Baca Juga : Dampak Amerika Serang Venezuela, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Justru Melemah

Rupiah dan Kerusuhan Iran

Pada perdagangan awal pekan ini nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS masih belum mampu bangkit dari posisi melemah. Nilai tukar rupiah sudah melemah sejak pembukaan perdagangan dan terus berlanjut hingga penutupan.

Rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.847 dari sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan nilai tukar rupiah  makin melemah ke angka 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.855 dari sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dilansir ipotnews mengungkapkan bahwa rupiah melemah akibat tertekan beberapa sentimen eksternal, salah satunya adalah ketegangan geopolitik.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Menguat Memburu Target Purbaya Level 10.000

Rupiah melemah di tengah perhatian pasar terhadap gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang.

“Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas,” ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis, pada Senin (12/1/2026).

Selain itu, rupiah juga lesu di tengah ketidakpastian politik di AS Departemen Kehakiman negara itumenekan Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Data ekonomi AS juga menjadi sentimen yang mempengaruhi rupiah.

Pada Jumat lalu (10/1), data pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50.000 pekerjaan pada bulan Desember, meleset dari ekspektasi kenaikan 66.000, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,4%, di bawah perkiraan 4,5%.

Baca Juga : Pemerintah Yakin Pasar Modal Kian Kuat, IHSG Diproyeksi Capai Level 10.000

“Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada tahun 2026,” papar Ibrahim.

Advertisement

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari Senin, sejalan dengan data tenaga kerja AS yang membaik. Tidak hanya dari AS, ketidakpastian global juga meningkat pasca rilis pernyataan dari Chairman the Fed, Jerome Powell, terkait dengan kriminalisasi dirinya akibat menolak menurunkan suku bunga.

“Pada hari Selasa (13/1), rupiah diperkirakan masih akan di bawah tekanan akibat dari sentimen global yang berisiko belum membaik,” ucap Josua kepada Kontan, Senin (12/1/2026).

Josua memperkirakan rupiah pada Selasa (13/1) bergerak dalam rentang Rp 16.800 – Rp 16.900 per dolar AS. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca