Connect with us

Ekonomi

IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi

Gungdewan

Diterbitkan

pada

IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi

FAKTUAL INDONESIA: Bukan main. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) benar-benar setelah kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) pada perdadangan saham Selasa (6/1/2025).

Sebaliknya nilai tukar (kurs) rupiah malah loyo lagi setelah pada penutupan perdagangan valuta Selasa ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Terbang Tinggi ke Level 8.900

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak pembukaan perdagangan sudah dibuka perkasa menguat 25,42 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.884,62. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,66 poin atau 0,19 persen ke posisi 861,44.

Advertisement

Posisi zona hijau inio terus dipertahankan dan bahkan kemudian terbang tinggi melesat ke atas level 8.900 pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. IHSG menguat 0,84 persen atau 74,42 poin menjadi 8.933,61. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,28 poin atau 0,61 persen ke posisi 865,05.

Baca Juga : Dampak Amerika Serang Venezuela, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Justru Melemah

Dengan capaian itu IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH).

Bahkan seperti dilansir VIVA, IHSG sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.940 kemudian turun tipis pada penutupan pasar.

Total volume perdagangan saham di BEI pada Selasa mencapai 67,58 miliar dengan nilai transaksi Rp 33,90 triliun. Ada 428 saham yang menguat, 256 saham yang melemah dan 127 saham yang stagnan.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG hari ini kembali ditutup menguat dan mencatatkan ATH baru lagi, dengan pergerakan yang masih didominasi oleh volume pembelian.

Advertisement

“Penguatan IHSG ini didorong oleh kinerja IDX Basic Material, yang mana didorong oleh emiten-emiten nikel yang terpengaruh oleh kenaikan harga komoditas nikel,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).

Baca Juga : Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Menguat Memburu Target Purbaya Level 10.000

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, penguatan IHSG masih terbuka, meskipun akan lebih terbatas atau terjadi koreksi wajar.

“Ini seiring dengan mulai memasuki area overbought dan terjadi penurunan volume transaksi dibandingkan hari sebelumnya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Herditya memproyeksikan, IHSG masih berpeluang menguat pada perdagangan besok (7/1/2025) dengan support 8.905 dan resistance 8.946.

“Sentimennya masih dipengaruhi oleh kenaikan dari harga komoditas dunia, seperti nikel dan emas,” katanya

Advertisement

Audi memperkirakan, IHSG akan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 8.850 dan resistance 9.000 pada perdagangan besok. Ada beberapa sentimen pasar yang menopang IHSG.

Baca Juga : Pemerintah Yakin Pasar Modal Kian Kuat, IHSG Diproyeksi Capai Level 10.000

Pertama, penguatan emiten barang baku, seiring dengan kenaikan harga komoditas pasca penangkapan Presiden Venezuela Maduro Nicolas oleh Amerika Serikat (AS).

Kedua, penguatan saham second liner seiring dengan faktor aksi korporasi dan wacana perubahan kebijakan, seperti pada perbankan terkait KBMI I.

“Antisipasi terjadi koreksi wajar seiring dengan IHSG mulai masuk area overbought dari indikator RSI,” tuturnya.

Untuk rekomendasi saham pada Rabu (7/1/2026), Herditya menyarankan investor untuk mencermati FAST dengan target harga Rp 700 – Rp 740 per saham, PTBA Rp 2.410 – Rp 2.450 per saham, dan TINS Rp 3.510 – Rp 3.760 per saham.

Advertisement

Baca Juga : Ditutup Menguat, Akhir Manis IHSG pada Perdagangan Tahun 2025 yang Dihiasi 24 Kali Rekor ATH

Sementara, Audi merekomendasikan trading buy untuk ANTM dengan level support Rp 3.280 per saham dan resistance Rp 3.660 per saham.

Rekomendasi trading buy juga diberikan Audi untuk RAJA dengan level support Rp 6.825 per saham dan resistance Rp 8.700 per saham.

Sementara, rekomendasi speculative buy disematkan untuk BBCA dengan level support Rp 7.900 per saham dan resistance Rp 8.650 per saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 2,81 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor teknologi yang naik masing-masing sebesar 1,51 persen dan 1,28 persen.

Sedangkan, dua sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik dan sektor keuangan yang masing-masing turun sebesar 1,40 persen dan 0,12 persen.

Advertisement

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BIPI, GSMF, INPC, PADI, dan NICL. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KLAS, CPRO, YOII, PNLF, dan MBSS.

Baca Juga : Rupiah Letih Hingga Terperosok ke Level Terendah, IHSG Menguat Signifikan

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 685,30 poin atau 1,32 persen ke 52.518,10, indeks Hang Seng menguat 363,20 poin atau 1,38 persen ke 26.710,44, indeks Shanghai menguat 60,25 poin atau 1,50 persen ke 4.083,66, dan indeks Strait Times menguat 59,47 poin atau 1,27 persen ke 4.739,97.

Pengaruh Sentimen Global

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.758 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.740 per dolar AS. Padahal saat pembukaan perdagangan rupiah hanya melemah 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.746 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.740 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.762 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.748 per dolar AS.

Advertisement

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menganggap pelemahan kurs rupiah dipengaruhi sikap risk-off pelaku pasar.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global yang masih didominasi penguatan dolar AS dan sikap risk-off pelaku pasar,” katanya seperti dilansir suarasurabaya.

Baca Juga : Libur Nataru 2025/2026: Kurs Rupiah Menguat, IHSG BEI Sempoyongan ke Zona Merah

Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur ISM AS mengalami kontraksi, data tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Tercatat, data PMI ISM bulan Desember 2025 sebesar 47,9 persen atau mengalami penurunan 0,3 poin persentase dibandingkan dengan angka pada November 2025 yang sebesar 48,2 persen, dan di bawah perkiraan 48,3 persen.

“Imbal hasil US Treasury yang masih tinggi serta ekspektasi suku bunga AS bertahan lebih lama mendorong aliran dana tetap bertahan di aset dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Taufan.

Advertisement

Melihat sentimen domestik, lanjutnya, tekanan terhadap rupiah berasal dari masih tingginya permintaan valas untuk kebutuhan impor dan kewajiban korporasi, di tengah sikap hati-hati pelaku pasar.

Kondisi ini disebut membuat rupiah ditutup melemah kendati tekanan intraday sempat berkurang.

“Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp16.750–Rp16.780 per dolar AS,” ujar dia. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca