Ekonomi
Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Menguat Memburu Target Purbaya Level 10.000

FAKTUAL INDONESIA: Perdagangan valuta dan saham di awal tahun 2026 diwarnai melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mendapat target menembus level 10.000 oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Perjalanan nilai tukar (kurs) rupiah dan IHSG BEI seperti bertolak belakang pada perdagangan Jumat (2/1/2026) mulai pembukaan di pagi hari dan penutupan sore harinya.
Rupiah melemah sejak pembukaan hingga penutupan karena tertekan faktor eksternal terutama risalah FOMC Desember 2025 dan ketegangan geopolitik global.
Baca Juga : Ditopang Ketahanan Ekonomi Indonesia, Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun 2025 dan Menyongsong Tahun Baru 2026
Sedangkan IHSG menguat seiring dengan optimisme pelaku pasar pada awal tahun 2026 apalagi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa usai Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat, menyatakan optimistis IHSG akan menembus level 10.000.
Pada perdagangan hari ini IHSG sudah menguat sejak pembukaan hingga penutupan yang berbeda dengan loyonya rupiah dari pagi hingga sore hari.
Rupiah Masih Fluktuatif
Kurs rupiah terhadap dolar AS, Jumat, melemah 38 poin atau 0,23 persen ke level Rp16.725 per dolar AS sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah hari ini terutama dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya sikap bank sentral AS yang masih cenderung berhati-hati.
Baca Juga : Rupiah Letih Hingga Terperosok ke Level Terendah, IHSG Menguat Signifikan
“Risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) Desember, yang dirilis pada hari Selasa, menunjukkan pejabat The Fed yang terpecah. Beberapa pejabat Federal Reserve (Fed) mengatakan mungkin yang terbaik adalah membiarkan suku bunga tidak berubah untuk sementara waktu setelah komite melakukan tiga kali penurunan suku bunga tahun ini. Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi menurun dari waktu ke waktu,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Seperti dilansir Ipotnews, selain faktor kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik global juga memperkuat permintaan aset aman. Konflik Rusia dan Ukraina kembali memanas setelah kedua pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, di tengah upaya diplomasi intensif yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Baca Juga : Libur Nataru 2025/2026: Kurs Rupiah Menguat, IHSG BEI Sempoyongan ke Zona Merah
Tekanan eksternal juga datang dari langkah terbaru pemerintahan Trump yang menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang terkait dengan sektor minyak Venezuela. Di sisi lain, eskalasi ketegangan di Timur Tengah, mulai dari serangan udara Saudi di Yaman hingga pernyataan Iran mengenai “perang skala penuh” dengan AS, Eropa, dan Israel, turut meningkatkan kekhawatiran pasar global.
Dari dalam negeri, data ekonomi sebenarnya menunjukkan sinyal yang relatif positif. Sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan kinerja ekspansif pada Desember 2025. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia berada di level 51,2, meski turun dari 53,3 pada November, namun masih di atas ambang batas netral 50,0 dan menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut.
“Namun, perbaikan ini terutama didukung oleh pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru kembali mengalami penurunan selama 4 bulan berturut-turut,” jelas Ibrahim.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS,” sebut Ibrahim.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI dari Menguat Terperosok ke Zona Merah di Penutupan Perdagangan Selasa
Rekor Tertinggi Baru IHSG
Sementara itu IHSG bukan saja perkasa sejak pembukaan dan penutupan perdagangan saham awal tahun 2026 namun juga mencatat rekor harga penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru.
IHSG dibuka menguat 29,79 poin atau 0,34 persen ke posisi 8.676,74. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,89 poin atau 0,22 persen ke posisi 848,46.
Posisi itu terus dipertahankan bahkan bergerak ke posisi 8.748,13 ketika perdagangan ditutup atau menguat 101,19 poin atau 1,17 persen. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,42 poin atau 0,64 persen ke posisi 852,00.
Lansiran CNBC Indonesia melaporkan, ini merupakan rekor harga penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru setelah sebelumnya dicatatkan pada 8 Desember 2025 silam di level 8.710,69.
Baca Juga : Akhir Pekan yang Lesu, Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Ditutup Melemah, Kenapa?
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus seperti dilansir liputan6 menilai, penguatan IHSG didukung oleh sentimen positif dari sektor manufaktur domestik.
“Meskipun mengalami perlambatan, posisi indeks manufaktur masih di zona ekspansi yang mencerminkan pertumbuhan aktivitas manufaktur secara stabil,” ujar Nico dikutip dari Antara.
S&P Global melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Desember 2025 berada di level 51,2, meski turun dibandingkan November 2025 yang tercatat 53,3. Kendati melambat, capaian tersebut masih menunjukkan ekspansi.
Pada hari yang sama, BEI juga menggelar seremoni Pembukaan Perdagangan Tahun 2026 di Gedung BEI, Jakarta, yang turut memperkuat sentimen positif di pasar saham.
Di sisi lain, pelaku pasar mulai mencermati sejumlah agenda ekonomi penting pada pekan depan, antara lain rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia periode Desember 2025 yang dinilai dapat memengaruhi pergerakan pasar.
Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Risalah tersebut mengungkap adanya perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan terkait waktu pemangkasan suku bunga pada 2026.
Baca Juga : Rupiah Melemah dari 1 menjadi 29 Poin, IHSG BEI dari Hijau ke Zona Merah
Meski demikian, The Fed masih mempertahankan bias pelonggaran kebijakan. Sejumlah pelaku pasar menilai risalah tersebut menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap pemotongan suku bunga, terutama jika inflasi AS terus mereda, meski belum ada kesepakatan soal waktu dan besaran pemangkasan.
Optimistis Tembus 10.000
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa berbagai sentimen positif dapat mendorong IHSG menembus level 10.000 pada tahun ini.
Ia mengatakan terdapat optimisme dari pelaku pasar bahwa perekonomian nasional akan membaik pada 2026, yang mana pertumbuhan 6 persen year-on-year (yoy) bukanlah angka yang mustahil dicapai.
“Saya pikir memang itu optimisme di pasar atau pelaku pasar bahwa kita akan membaik terus ke depan. Kalau saya lihat, fondasi ekonominya yang sudah membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah amat sinkron, harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan 6 (persen) bukan mustahil dicapai tahun ini,” ujar Purbaya dalam wawancara cegat seusai Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat.
Baca Juga : Sempat Menguat, Rupiah dan IHSG BEI Melemah di Penutupan Perdagangan
Ia meyakini bahwa 10.000 bukanlah angka yang mustahil untuk dicapai oleh IHSG pada tahun ini. “Tahun ini (IHSG) 10.000, itu bukan angka yang mustahil dicapai”.
Salah satu alasannya, ia menjelaskan bahwa mulai 2026, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepenuhnya akan berada dalam kendalinya setahun penuh, dibandingkan tahun lalu yang baru mulai dinahkodainya pada 8 September 2025.
“Kan sekarang satu tahun penuh ini saya sudah bagian ekonominya bersama Gubernur BI dan lain lain. Kalau kemarin kan saya masih separuh-separuh, cuma seperempat malah,” ujar Purbaya.
Selain itu, lanjutnya, seiring dilakukannya sinkronisasi kebijakan bersama Bank Indonesia (BI) akan semakin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.
“Harusnya dengan kebijakan yang lebih sinkron kita dengan bank sentral dengan yang lain-lain, ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat. Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga. Investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” ujar Purbaya. ***














