Connect with us

Ekonomi

Sempat Menguat, Rupiah dan IHSG BEI Melemah di Penutupan Perdagangan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Sempat Menguat, Rupiah dan IHSG BEI Melemah di Penutupan Perdagangan

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) sempat menguat saat pembukaan namun kemudian bergerak melemah sampai penutupan perdagangan valuta dan saham, Rabu (17/12/2025)

FAKTUAL INDONESIA: Sempat menguat saat pembukaan bursa valuta dan saham, Rabu (17/12/2025) pagi, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), bergerak melemah ketika penutupan perdagangan sore harinya.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, bergerak menguat 26 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.665 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.691 per dolar AS.

Namun pada penutupan perdagangan rupiah bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.694 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.691 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.698 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.693 per dolar AS.

Seperti dilansir Beritasatu.com,  pelemahan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 4,75% pada Desember 2025. Seiring dengan kebijakan tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility di 3,75% serta lending facility di level 5,5%.

Baca Juga : Rupiah Belum Bangkit, IHSG Menguat dari Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah sempat menunjukkan penguatan pada awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik melemah.

Advertisement

“(Kurs rupiah) sebelumnya sempat menguat 10 poin di level Rp 16.694 dari penutupan sebelumnya di level Rp1 6.691,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12/2025).

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang setelah rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data penggajian nonpertanian serta tingkat pengangguran menunjukkan kondisi yang kurang menggembirakan.

“Tingkat pengangguran AS mencapai level tertinggi dalam empat tahun, memicu kekhawatiran terhadap perekonomian. Tanda-tanda pendinginan ekonomi AS juga semakin diperkuat oleh data indeks manajer pembelian (PMI) yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Desember, sementara data penjualan ritel yang tertunda untuk bulan Oktober juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Ibrahim.

Meski mencerminkan perlambatan ekonomi, data tersebut justru masih mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini diperparah oleh kekhawatiran pasar terhadap likuiditas di Amerika Serikat, terutama setelah Federal Reserve melanjutkan pembelian obligasi pemerintah atau pelonggaran kuantitatif pada Desember.

Baca Juga : Rupiah dan IHSG Senasib, Dibuka Menguat tapi Ditutup Melemah

Ibrahim menambahkan, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data inflasi indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) AS yang dijadwalkan keluar pada Kamis (18/12/2025). Data tersebut akan dicermati untuk melihat indikasi perlambatan inflasi sekaligus memberikan petunjuk lanjutan mengenai arah ekonomi terbesar dunia.

Advertisement

Selain faktor ekonomi, rupiah juga tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Amerika. Presiden AS Donald Trump dilaporkan memerintahkan blokade terhadap seluruh kapal tanker minyak yang terkena sanksi dan keluar-masuk Venezuela, serta secara sepihak menetapkan negara tersebut sebagai organisasi teroris asing. Langkah ini turut menambah sentimen negatif di pasar keuangan global.

IHSG Melemah 0,11 Persen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) sempat bertahan di zona hijau di sesi pertama perdagangan hari ini. Namun kemudian IHSG mengalami pelemahan sehingga ditutup melemah.

Pada awal pembukaan IHSG sempat naik tinggi dan pergerakan positif tersebut bertahan cukup lama, meski pergerakannya naik turun. Kondisi tersebut berlangsung hingga penutupan perdagangan sesi pertama.

Setelah jeda, IHSG malah menurun. Bahkan penurunannya semakin parah saat Bank Indonesia mengumumkan untuk menahan suku bunga BI Rate. Beruntung, pasar saham bangkit, meski pada akhirnya masih berada di zona merah hingga penutupan perdagangan hari ini.

Advertisement

Baca Juga : Mantul, Rupiah dan IHSG Berakhir Pekan dengan Sama-sama Menguat

Akhirnya IHSG ditutup melemah  9,12 poin atau 0,11 persen ke level 8.677,35 pada perdagangan Rabu ini. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga ditutup turun 1,75 poin atau 0,21 persen ke posisi 852,57.

Sebelumnya IHSG sempay menguat saat pembukaan perdagangan ketika dibuka menguat 21,85 poin atau 0,25 persen ke posisi 8.708,32. Kemudian, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut dibuka menguat 1,07 poin atau sekitar 0,13 persen ke posisi 855,4.

Pergerakan IHSG cenderung sideways dengan rentang yang sempit, seiring sikap pelaku pasar yang masih mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya.

“IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi di kisaran 8.600-8.750,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Seperti telah diperkirakan pasar, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), BI kembali menahan BI Rate di level 4,75 persen.

Advertisement

Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility dipertahankan di level 5,5 persen.

Keputusan tersebut diambil sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk mendorong perekonomian nasional.

Baca Juga : Rupiah Gagal Pertahankan Posisi Ketika IHSG BEI Bangkit Meyakinkan Dekati Rekor Tertinggi

“Meskipun demikian BI masih membuka peluang penurunan suku bunga ke depannya dengan mencermati data inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujar Ratna.

Dari sisi fundamental domestik, data menunjukkan pertumbuhan kredit berakselerasi menjadi 7,74 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada November 2025, meningkat dari 7,36 persen pada Oktober 2025.

Capaian ini menjadi pertumbuhan kredit tercepat sejak Juni, di tengah adanya paket stimulus pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat.

Advertisement

Namun demikian, Ratna Lim menyoroti masih tingginya undisbursed loan yang mencapai Rp2.509,4 triliun pada November 2025, atau setara 23,18 persen dari total kredit yang telah disetujui.

Selain itu, meski BI Rate telah turun sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, penurunan suku bunga kredit perbankan relatif lambat, hanya turun 24 basis poin dari 9,2 persen pada awal 2025 menjadi 8,96 persen pada November 2025.

Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Hari Ini, Sama-sama Dibuka Menguat Tapi Beda Saat Penutupan

Adapun pada perdagangan hari ini, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain DPUM, PADI, PIPA, SOCI, dan RMKO.

Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terdalam meliputi DNAR, SMIL, EMTK, INDX, dan CTTH.

Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.718.075 kali, dengan volume perdagangan mencapai 54,6 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp37,75 triliun.

Advertisement

Sebanyak 379 saham menguat, 284 saham melemah, dan 140 saham stagnan.

Di sisi lain, bursa saham regional Asia sore ini bergerak beragam cenderung menguat. Indeks Nikkei naik 153,04 poin atau 0,31 persen ke 49.536,33; indeks Hang Seng juga menguat 233,37 poin atau 0,92 persen ke 25.468,78.

Selanjutnya indeks Shanghai juga menguat 45,47 poin atau 1,19 persen ke 3.870,28; dan indeks Strait Times ambruk 4,25 poin atau 0,09 persen ke 4.575,48.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement