Ekonomi
Rupiah Jumat 21 Agustus 2026: Dari Datar Lanjutkan Penguatan, Senin Depan Berkonsolidasi

Nilai tukar (kurs) rupiah yang diawal pembukaan pasar bergerak datar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya mampu melejit untuk mempertahanakan penguatan pada penutupan perdagangan valuta asing Jumat (21/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Melangkah dari posisi datar rupiah berhasil melanjutkan tren penguatan pada perdagangan valuta asing Jumat (21/8/2026) yang merupakan penutupan pekan minggu ini.
Ketika pembukaan pasar di pagi hari, rupiah tampil datar 0 poin atau 0,00 persen sehingga tetap dengan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun kemudian secara perlahan namun pasti rupiah bergerak terhadap dolar AS untuk menutup perdagangan pekan ini di zona hijau.
Mata uang Garuda tercatat menguat 0,30 persen dan bertengger di posisi Rp17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
Terpantau juga penguatan pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang naik ke level Rp17.705 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.779 per dolar AS.
Tetap perkasanya rupiah terjadi berkat kombinasi masuknya arus modal asing (capital inflow) serta sikap konsisten Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas moneter. Di saat bersamaan, indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan tipis, memberikan ruang apresiasi bagi mata uang kawasan Asia.
Berdasarkan pantauan pada pasar valuta asing regional di kawasan Asia, pergerakan didominasi penguatan.
Di tingkat Asia Tenggara, penguatan rupiah masih lebih tipis dari bath Thailand yang menguat 0,43% terhadap solar AS. Menguat juga dolar Singapura sebesar 0,19%. Sedangkan pelemahan dialami peso Filipina yang merosot 0,09%, dan ringgit Malaysia turun tipis 0,005%.
Kenaikan tertinggi di Asia dicatat won Korea Selatan yang melambung 0,73%. Setelah itu dolar Taiwan menguat 0,25 yen Jepang menanjak 0,14%, yuan China meningkat 0,06% dan dolar Hong Kong naik 0,04%.
Faktor Penggerak Rupiah Hari Ini
- Keputusan Suku Bunga BI: Keputusan menahan BI-Rate di 5,75% memberikan imbal hasil yang tetap menarik bagi investor asing.
- Melandainya Indeks Dolar AS: Melembutnya penguatan greenback di pasar global memicu pergeseran modal ke pasar emerging markets.
- Sentimen Positif Regional: Sebagian besar mata uang di kawasan Asia turut mencatatkan penguatan terhadap dolar AS, dipimpin oleh won Korea Selatan dan dolar Taiwan.
Seperti dilansir RCTI+, pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kebijakan otoritas AS dalam mengendalikan kenaikan yield obligasi menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Secara sentimen eksternal, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan buyback surat berharga negara (Treasury) jangka panjang menjadi setidaknya 4 miliar dolar AS per operasi selama kuartal mendatang untuk menurunkan imbal hasil,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, pemerintah AS masih membuka kemungkinan meningkatkan pembelian tersebut karena menilai tingkat yield saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
Pelonggaran biaya pinjaman jangka panjang di AS dinilai dapat menahan penguatan dolar AS secara global, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak positif.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang oleh kinerja intermediasi perbankan yang tetap solid. Kredit perbankan nasional tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 12,67 persen.
Kinerja tersebut didukung bauran kebijakan makroprudensial akomodatif Bank Indonesia (BI) serta ketahanan modal perbankan. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 23,70 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 2,09 persen secara bruto.
Meski demikian, pasar masih mencermati kondisi eksternal Indonesia setelah Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) sebesar 12,5 miliar dolar AS pada kuartal II 2026 atau setara 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ibrahim menilai, pelebaran CAD terutama dipengaruhi peningkatan defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya harga minyak dunia, penurunan surplus nonmigas seiring meningkatnya impor untuk menopang aktivitas ekonomi domestik, serta kenaikan defisit pendapatan primer.
Selain kondisi neraca transaksi berjalan, pasar juga mewaspadai potensi tekanan inflasi pangan akibat anomali iklim.
Ibrahim mengatakan, fenomena El Niño berpotensi mengganggu produktivitas pertanian nasional apabila tidak diantisipasi dengan baik. Penurunan produksi dapat memengaruhi pasokan sejumlah komoditas pangan dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
“Kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena kekeringan panjang dapat menurunkan produksi pertanian, sehingga pasokan beras dan komoditas lain berkurang. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga barang yang pada akhirnya berisiko menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat,” kata dia.
Prediksi Senin, 24 Agustus 2026
Menurut Ibrahim, dengan mempertimbangkan sentimen penurunan yield Treasury AS, solidnya pertumbuhan kredit perbankan, serta risiko dari dinamika pangan dan transaksi berjalan, rupiah masih memiliki ruang untuk menguat.
Untuk perdagangan Senin pekan depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.640 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan sepekan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 sampai Rp17.900 per dolar AS.
Pada perdagangan awal pekan depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan masih bergerak menguat secara terbatas dengan kecenderungan berkonsolidasi.
- Rentang Support:630 – Rp17.670 per dolar AS
- Rentang Resistance:720 – Rp17.760 per dolar AS
Pergerakan rupiah pada Senin mendatang akan dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar dalam merespons sinyal arah kebijakan suku bunga The Fed (Federal Reserve) serta perkembangan situasi geopolitik global. Jika tekanan pada dolar AS berlanjut, rupiah berpotensi menguji level support yang lebih kuat di area Rp17.600-an. ***














