Internasional
Gertakan Terbaru Trump: Ancam Bom Oman dan Desak Iran Kibarkan Bendera Putih, Menyerah!

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperlebar konflik dengan mengancam membom Oman kalau menghalangi pembicaraan damai dengan Iran yang dimintanya untuk mengibarkan bendera putih. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (17/8/2026) mengeluarkan gertakan baru situasi yang tidak menentu di Timur Tengah terutama yang berkaitan dengan kelanjutan konfliknya dengan Iran.
Trump mengancam akan membom Oman jika negara itu “menghalangi” kesepakatan dengan Iran mengenai Selat Hormuz dan menyerukan agar Iran segera mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.
“Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump kepada jurnalis Fox News, Trey Yingst, merujuk pada pembicaraan yang sedang berlangsung antara Oman dan Iran tentang kendali atas selat tersebut , sementara Washington juga melakukan pembicaraan sendiri.
Menurut laporan Arab News, para pejabat Iran dan Oman telah berdiskusi selama berminggu-minggu tentang pengaturan navigasi maritim di masa depan melalui jalur pelayaran tersebut, dan kementerian luar negeri di Teheran mengatakan pada Senin pagi bahwa kedua pihak sedang mengerjakan deklarasi bersama.
Namun, Trump berulang kali menegaskan bahwa selat tersebut — yang secara efektif ditutup oleh Teheran pada awal perang Timur Tengah pada 28 Februari — berada di bawah kendali AS meskipun lalu lintas tetap dibatasi.
BERITA TERKINI: Presiden Trump mengatakan kepada @TreyYingst bahwa dia “tidak terburu-buru” karena jalur komunikasi rahasia dengan para pejabat Garda Revolusi Iran tetap terbuka meskipun Teheran secara terbuka menentangnya.
Trump mengatakan Iran sedang sekarat dan memainkan kartunya seperti pemain poker yang handal, menunjukkan kekuatan di depan umum sementara… pic.twitter.com/zCuxVTXSdd
— Fox News (@FoxNews) 17 Agustus 2026
Pada hari Jumat, Trump mengklaim bahwa ia bahkan akan menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS, sementara Iran membalas bahwa jalur air energi penting yang telah diblokadenya “akan tetap menjadi milik Iran.”
Sebelum dimulainya perang AS-Israel melawan Iran, Selat Hormuz dianggap sebagai jalur air internasional yang terbuka. Selat ini dilalui oleh sebagian besar pengiriman energi global, serta komoditas lainnya.
Teheran telah menggunakan penguasaannya yang efektif atas selat tersebut sebagai alat tawar-menawar terhadap upaya yang dipimpin AS untuk menghancurkan militernya dan memaksanya untuk meninggalkan program tenaga nuklir yang kontroversial.
Pantai Iran berbatasan dengan sisi utara Selat Hormuz, dan Oman terletak di sisi selatan.
Kibarkan Bendera Putih
Trump juga mengatakan bahwa Iran harus “mengibarkan bendera putih tanda menyerah,” menurut unggahan Yingst di X tentang wawancaranya dengan presiden.
Trump bersikeras bahwa dia tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan meskipun perang tersebut sangat tidak populer di kalangan warga Amerika menjelang pemilihan paruh waktu November di Amerika Serikat, dengan Partai Demokrat yang beroposisi berupaya mengambil alih kendali Kongres dari Partai Republik pimpinan Trump.
Trump mengatakan kepada Yingst bahwa ada jalur komunikasi rahasia langsung antara pemerintahannya dan para pejabat Garda Revolusi Iran. “Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat,” katanya seperti dikutip. ***













