Connect with us

Ekonomi

Rupiah Belum Bangkit, IHSG Menguat dari Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Belum Bangkit, IHSG Menguat dari Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan

Nilai tukar (kurs) rupiah masih bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu bangkit menguat pada perdagangan Selasa (16/12/2025)

FAKTUAL INDONESIA: Rupiah masih melemah pada perdagangan valuta hari ini, Selasa (16/12/2025), sehingga belum mampu bangkit dari posisi sehari sebelumnya.

Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu bangkit dari posisi melemah sehari sebelumnya dengan menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham Senin pagi hingga sore.

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah saat pembukaan perdagangan. Rupiah dibuka melemah 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.673 dari sebelumnya Rp16.667 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah dan IHSG Senasib, Dibuka Menguat tapi Ditutup Melemah

Bahkan pada penutupan perdagangan rupiah melemah makin besar sebesar 24 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.691 dari sebelumnya Rp16.667 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.693 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.669 per dolar AS.

Advertisement

Dilansir kontan.co.id, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS di tengah fokus pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Pasar menantikan rilis data tenaga kerja non-pertanian serta inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Selain itu, perkembangan perundingan gencatan senjata Rusia–Ukraina turut mempengaruhi sentimen global, meski masih dibayangi ketidakpastian soal konsesi teritorial.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai fundamental Indonesia relatif terjaga. Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 tercatat menurun secara bulanan dan didominasi ULN jangka panjang, mencerminkan pengelolaan yang tetap cermat.

Baca Juga : Mantul, Rupiah dan IHSG Berakhir Pekan dengan Sama-sama Menguat

Meski demikian, sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah jangka pendek. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (17/12) di kisaran Rp16.650–Rp16.690.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah dipicu sentimen risk-off di pasar saham Asia. Tekanan tersebut berasal dari kinerja perusahaan teknologi AS yang lebih rendah dari ekspektasi, sehingga menekan saham teknologi di kawasan.

“Rupiah melemah terhadap dolar AS didorong oleh sentimen risk-off di pasar saham kawasan Asia, serta investor yang masih mengantisipasi data AS serta hasil RDG BI pada Rabu besok,” ujar Josua pada Kontan, Selasa.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Gagal Pertahankan Posisi Ketika IHSG BEI Bangkit Meyakinkan Dekati Rekor Tertinggi

Menjelang perdagangan Rabu (17/12/2025), pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Josua memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% dengan tetap menjaga sikap kehati-hatian guna menopang stabilitas nilai tukar. Sejalan dengan itu, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.625–Rp 16.725 per dolar AS.

Bergerak Fluktuatif Sepanjang Hari

Berbeda dengan rupiah, IHSG BEI justru menunjukkan kebangkitan dari posisi sehari sebelumnya. Hari ini IHSG langsung menguat pada pembukaan perdagangan saham ketika dibuka menguat 47,03 poin atau 0,54 persen ke posisi 8.696,69. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 dibuka menguat 6,75 poin atau 0,79 persen ke posisi 859,61.

Setelah itu IHSG bergerak fluktuatif sepanjang hari. IHSG sempat berada di zona merah tengah hari, dan kembali ke zona hijau dengan cepat.

IHSG akhirnya ditutup di zona hijau dengan menguat 0,43% di posisi 8.686,46 pada penutupan perdagangan Selasa sore.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Hari Ini, Sama-sama Dibuka Menguat Tapi Beda Saat Penutupan

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga ditutup menguat 1,47 poin atau 0,17 persen ke posisi 854,33.

Dilansir dari suarasurabaya, Ratna Lim pakar pasar saham menjelaskan, pergerakan IHSG cenderung sideways dalam kisaran sempit.

Investor masih bersikap wait and see atau melakukan perdagangan jangka pendek seiring meningkatnya ketidakpastian akibat banyaknya data ekonomi global yang dirilis pekan ini, serta agenda pertemuan sejumlah bank sentral terkait kebijakan moneter.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia turut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (17/12/2025). Menurutnya, investor tetap berhati-hati menjelang pengumuman hasil RDG BI.

“Diperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen di tengah pelemahan rupiah,” ujar Ratna.

Advertisement

Dengan kondisi tersebut, Ratna menilai IHSG berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan ditutup di atas level 8.750. Namun, apabila gagal, IHSG diperkirakan masih akan bergerak konsolidasi dalam rentang 8.600-8.750.

Baca Juga : Rupiah Membuka Awal Pekan dengan Melemah, IHSG BEI Bangkit Menguat

Dari sisi eksternal, mayoritas indeks bursa Asia ditutup melemah pada Selasa seiring tekanan jual pada saham sektor kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.

Sementara, indeks-indeks di bursa Eropa cenderung dibuka melemah akibat koreksi saham sektor pertahanan, seiring berlanjutnya pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina.

“Indeks futures di bursa Wall Street bergerak melemah menantikan data nonfarm payrolls,” tambahnya.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar pada perdagangan Selasa antara lain BBRM, DPUM, SOCI, LABA, dan AMAN. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar meliputi ERTX, CTTH, PPRE, VINS, dan HDFA.

Advertisement

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.746.132 kali transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 49,88 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp29,60 triliun. Sebanyak 355 saham menguat, 296 saham melemah, dan 146 saham stagnan. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement