Ekonomi
Rupiah Gagal Pertahankan Posisi Ketika IHSG BEI Bangkit Meyakinkan Dekati Rekor Tertinggi

Nilai tukar (kurs) rupiah langsung melemah terhadap dolar Amerika Serikat hari ini, Rabu (10/12/2025), sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bangkit meyakinkan dengan menguat sejak pagi hingga sore
FAKTUAL INDONESIA: Rupiah gagal mempertahankan posisi menguat terhadap doalar Amerika Serikat pada perdagangan valuta Rabu (10/12/2025) ketika bursa saham ditandai oleh kebangkitan meyakinkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menguat nyaris mendekati rekor tertinggi sepanjang masa.
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang sehari sebelumnya menguat, sudah melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan mata uang hari ini.
Saat penutupan perdagangan Rabu sore, kurs rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.688 dari sebelumnya Rp16.676 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.688 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.677 per dolar AS.
Meskipun melemah namun rupiah di penutupan agak lebih kuat dibanding saat pembukaan ketika dibuka melemah 16 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.692 dari sebelumnya Rp16.676 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Hari Ini, Sama-sama Dibuka Menguat Tapi Beda Saat Penutupan
Dalam pantuan media online seperti dilansir indopremier.com, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pelaku pasar memilih menahan posisi di tengah menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) bulan ini. Meskipun pasar memprediksi pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dinamika internal The Fed disebut masih terpecah.
“Pasar akan mengamati dengan saksama komentar Ketua Powell bersama dengan ringkasan proyeksi ekonomi untuk mendapatkan petunjuk tentang pemikiran Fed mengenai arah ke depan. Tahun 2026 juga dapat menandai perubahan signifikan dalam personel di FOMC , termasuk Ketua Powell sendiri,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mengingatkan potensi tekanan global yang berasal dari perilaku agresif lembaga keuangan non-bank ( NBFI ). BI menyebutkan bahwa sektor non-bank kini aktif memanfaatkan surat utang negara maju sebagai underlying produk derivatif berisiko tinggi tanpa pengaturan margin dan permodalan memadai.
BI menilai kondisi ini memiliki kemiripan dengan pemicu krisis 2008, di mana produk turunan berbasis hipotek subprime memicu kegagalan sistemik. Risiko tersebut semakin berat karena total utang publik dunia telah menembus USD110,9 triliun atau 94,6% PDB global, menandai level yang masuk kategori lampu merah.
Baca Juga : Rupiah Membuka Awal Pekan dengan Melemah, IHSG BEI Bangkit Menguat
“Lonjakan utang yang didominasi negara maju ini menjadi bahan bakar bagi volatilitas suku bunga global, yang pada akhirnya menambah beban berat bagi negara berkembang,” ungkap Ibrahim.
Untuk perdagangan Kamis (11/12/2025), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.680 – Rp16.720 per dolar AS.
Dekati Rekor Tertinggi
Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan saham Rabu, sudah tampil meyakinkan sejak pembukaan hingga ditutup menguat sore harinya.
Ketika perdagangan dibuka pagi hari, rupiah menguat menguat 56,53 poin atau 0,65 persen ke posisi 8.713,71. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 6,55 poin atau 0,77 persen ke posisi 854,61.
Baca Juga : Rupiah Selamat dan IHSG Tergelincir pada Penutupan Perdagangan Akhir Pekan
Setelah dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
IHSG ditutup menguat 43,74 atau 0,51 persen ke posisi 8.700,92. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,90 poin atau 1,05 persen ke posisi 856,96.
Penguatan IHSG itu mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) yang dicapai pada 7 Desember 2025 lalu ketika ditutup menguat di level 8.710,69.
“Selama level ini bertahan, peluang penguatan lanjutan masih terbuka dengan resistance terdekat di 8.720-8.745,” ujar Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana kepada Kontan, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan, penembusan resistance dengan dukungan volume akan memperkuat peluang breakout, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring pasar mencermati arah kebijakan moneter global.
Untuk perdagangan Kamis (11/12/2025), IHSG diproyeksikan bergerak sideways dengan bias menguat, seiring pelaku pasar menunggu nada pernyataan The Fed dan proyeksi ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga : Rupiah Makin Melemah, IHSG BEI Bangkit
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang naik sebesar 4,54 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing-masing sebesar 1,56 persen dan 1,08 persen.
Sedangkan, lima sektor melemah yaitu sektor keuangan turun paling dalam sebesar 1,40 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor kesehatan yang masing-masing turun 0,95 persen dan 0,76 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu DOOH, BMHS, DGNS, BOGA, dan INET. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni PURI, KOKA, NAYZ, MEJA, dan PGJO.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.503.223 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 68,50 miliar lembar saham senilai Rp33,88 triliun. Sebanyak 258 saham naik, 431 saham menurun, dan 113 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 59,60 poin atau 0,12 persen ke 50.595,50, indeks Hang Seng menguat 106,55 poin atau 0,42 persen ke 25.540,78, indeks Shanghai melemah 9,03 poin atau 0,23 persen ke 3.900,50, dan indeks Strait Times melemah 1,34 poin atau 0,03 persen ke 4.511,90. ***











