Ekonomi
IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melanjutkan langkah perkasanya sementara nilai tukar (kurs) rupiah tetap loyo pada perdagangan saham dan valuta Rabu (7/1/2026). (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melangkah gagah sementara nilai tukar (kurs) rupiah masih terus loyo pada perdagangan saham dan valuta Rabu (7/1/2026).
Jika terus menguat perjalanan IHSG BEI yang makin menghijau akan kembali mencetak rekor tetinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) menembus level 9.000.
Sebaliknya rupiah yang nilai tukar (kurs)-nya belum mampu bangkit sepanjang tahun 2026 ini bisa terancam bahaya terperosok ke nilai Rp17.000 perdolar Amerika Serikat (AS).
Akankah itu terjadi pada perdagangan saham dan valuta esok hari, Kamis (7/1/1016), sangat menarik dan juga deg-degan untuk dinanantikan.
Baca Juga : IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi
Langsung Zona Hijau
Sama dengan pergerakan sehari sebalumnya, IHSG BEI pada perdagangan saham Kamis sudah langsung masuk dizona hijau ketika dibuka dibuka menguat 25,47 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.959,08. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,34 poin atau 0,27 persen ke posisi 867,40.
Indeks tetap bertahan positif hingga penutupan sesi pertama, dan melanjutkan penguatannya pada sesi kedua hingga akhir perdagangan
Akhirnya pada penutupan perdagangan Rabu sore, IHSG ditutup menguat 11,19 atau 0,13 persen ke posisi 8.944,80. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 6,26 poin atau 0,72 persen ke posisi 871,32.
Dengan catatan itu IHSG makin mendekati angka baru 9.000 jika terus menguat pada perdagangan berikutnya. Optimisme tersebut tercermin dari pergerakan IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Pergerakan positif IHSG hari ini seperti dilansir liputan6, dipicu oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), pada 2026.
Baca Juga : Dampak Amerika Serang Venezuela, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Justru Melemah
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai sentimen global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar saham domestik.
“Pasar tampaknya memiliki ekspektasi terkait pelonggaran kebijakan moneter yang akan dilakukan oleh The Fed tahun ini,” ujar Nico dikutip dari Antara.
Dari sisi global, Nico menjelaskan harapan pemangkasan suku bunga The Fed didorong oleh melemahnya data Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa AS. PMI Jasa AS tercatat turun dari 52,9 menjadi 52,5, yang mengindikasikan perlambatan aktivitas ekonomi.
Selain AS, sentimen positif juga datang dari China. Bank sentral China memberikan sinyal kemungkinan pemotongan suku bunga serta pengurangan persyaratan cadangan wajib. Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan likuiditas tetap terjaga.
Dari sisi sektoral, mayoritas indeks sektoral IDX-IC bergerak menguat. Delapan sektor mencatat kenaikan, dipimpin oleh sektor industri yang melonjak 2,23 persen. Selanjutnya, sektor barang konsumen nonprimer naik 1,62 persen dan sektor barang baku menguat 0,92 persen.
Baca Juga : Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Menguat Memburu Target Purbaya Level 10.000
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat yaitu dipimpin sektor industri yang naik sebesar 2,23 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor barang baku yang naik masing-masing sebesar 1,62 persen dan 0,92 persen.
Sedangkan, tiga sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik turun paling dalam sebesar 1,03 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer dan sektor teknologi yang masing-masing turun sebesar 0,64 persen dan 0,32 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu OPMS, OASA, INPC, MHKI, dan KPIG. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GSMF, COIN, NRCA, PADA dan DOOH.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 4.576.949 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 70,56 miliar lembar saham senilai Rp36,87 triliun. Sebanyak 344 saham naik, 362 saham menurun, dan 104 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 547,00 poin atau 1,04 persen ke 51.971,10, indeks Hang Seng melemah 251,50 poin atau 0,94 persen ke 26.458,94, indeks Shanghai menguat 2,10 poin atau 0,05 persen ke 4.085,77, dan indeks Strait Times menguat 6,33 poin atau 0,13 persen ke 4.746,31.
Baca Juga : Pemerintah Yakin Pasar Modal Kian Kuat, IHSG Diproyeksi Capai Level 10.000
Lanjutkan Tren Penurunan
Nasib nilai tukar (kurs) rupiah lain lagi karena masih tetap loyo ketika dibuka maupun ditutup dalam perdagangan Rabu (7/1/2026). Terdepresiasinya rupiah melanjutkan tren penurunan empat hari beruntun sehingga memasuki pekan pertama 2026, rupiah belum sehari pun mencatatkan penguatan.
Saat pembukaan perdagangan mata uang, Rabu pagi, rupiah sudah melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.761 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.758 per dolar AS. Rupiah tidak mampu bangkit karena pada penutupan perdagangan Rabu sore, malah bergerak melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.758 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.785 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.762 per dolar AS.
Jika tidak mampu bangkit maka rupiah bisa masuk zona merah terpuruk ke nilai Rp17.000 per dolar AS mengingat sentimen eksternal terus menekan mata uang RI.
Seperti dipantau dalam media online yang dilansir ipotnews, Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi membeberkan beberapa sentimen eksternal yang menekan kurs rupiah.
Pertama, kurs rupiah melemah setelah pernyataan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Stephen Miran bahwa iamembenarkan perlunya suku bunga yang lebih rendah. Sementara itu, Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin menyatakan bahwa suku bunga dana The Fed berada dalam level netral, sehingga tidak menghambat aktivitas ekonomi.
Baca Juga : Ditutup Menguat, Akhir Manis IHSG pada Perdagangan Tahun 2025 yang Dihiasi 24 Kali Rekor ATH
Kontrak berjangka dana The Fed masih memperkirakan sekitar 82% kemungkinan suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan bank sentral AS berikutnya pada27 hingga 28 Januari mendatang, menurut alat CME FedWatch.
Namun demikian, sentimen global masih tinggi seputar ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dan ekspektasi berkelanjutan akan dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed). Hal ini pada akhirnya melemahkan rupiah.
“Investor akan mengamati dengan cermat data penggajian non-pertanian untuk bulan Desember, yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga,” ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (7/1/2026).
“Invasi AS ke Venezuela juga tetap menjadi poin penting yang perlu diwaspadai oleh pasar. Presiden Donald Trump mengatakan Caracas telah setuju untuk memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, setelah Washington menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu,” lanjutnya.
Selain itu, rupiah juga melemah menyusul sentimen perselisihan diplomatik antara Jepang dan China setelah Beijing membatasi ekspor barang-barang dengan potensi aplikasi militer ke Jepang. ***














