Olahraga
Negeri Kaya, Mental Importir, Seho: Kartu As yang Terus Kita Buang Sendiri

Kita punya “kartu as” bernama pohon seho—atau aren—yang sejak lama sudah dikampanyekan oleh Ventje Sumual kita justru sibuk membuang kartu kemenangan itu satu per satu. (Foto : Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Di meja bridge, ada satu kesalahan klasik pemain amatir: pegang kartu bagus, tapi tetap kalah. Bukan karena kartunya jelek—tapi karena salah main.
Indonesia hari ini persis seperti itu.
Kita punya “kartu as” bernama pohon seho—atau aren—yang sejak lama sudah dikampanyekan oleh Ventje Sumual. Tapi seperti pemain yang tidak tahu kapan harus finesse atau kapan harus cash out, kita justru sibuk membuang kartu kemenangan itu satu per satu.
Sudah Tahu, Tapi Pura-Pura Tidak Tahu
Lebih dari 20 tahun lalu, Om Ventje sudah bicara tentang:
- energi alternatif dari bioethanol
- ekonomi rakyat berbasis pohon
- pembangunan berkelanjutan
Baca Juga : Pemikiran H.N. Sumual Tentang Seho
Hari ini?
Semua itu jadi jargon resmi pemerintah.
Ironisnya, dulu dianggap “terlalu maju”, sekarang justru jadi bahan seminar. Bedanya cuma satu: dulu tidak didengar, sekarang terlalu banyak yang bicara—tapi tetap minim yang mengerjakan.
Kita ini seperti pasangan bridge yang sibuk berdiskusi sistem, tapi begitu kartu dibagikan… bingung sendiri.
Negeri Kaya, Mental Importir
Setiap kali harga minyak dunia naik, kita panik.
Setiap kali rupiah tertekan, kita sibuk cari kambing hitam.
Padahal solusi sudah ada di halaman sendiri.
Seho bisa jadi bioethanol.
Bioethanol bisa jadi bahan bakar.
Bahan bakar bisa kurangi impor.
Logikanya sederhana. Bahkan tidak perlu jadi grand master bridge untuk mengerti ini.
Tapi yang terjadi?
Baca Juga : Bertemu Importir Rempah Pakistan di Karachi, Wamendag Roro: Peluang Peningkatan Perdagangan Masih Sangat Terbuka
Kita lebih nyaman jadi negara pembeli daripada produsen.
Dalam istilah bridge: kita punya kontrak game, tapi memilih pass.
Ekonomi Rakyat? Atau Ekonomi Presentasi?
Semua orang suka bicara “ekonomi kerakyatan”.
Slide PowerPoint-nya keren.
Seminarnya mewah.
Bahasanya tinggi.
Tapi coba lihat realitasnya.
Program yang benar-benar melibatkan rakyat dari hulu ke hilir?
Masih bisa dihitung dengan jari.
Seho justru menawarkan sesuatu yang sederhana:
- rakyat tanam
- rakyat panen
- rakyat dapat uang
Baca Juga : Tujuh Importir AS Borong Produk RI Senilai Rp2,51 Triliun
Tidak perlu teori ribet. Tidak perlu konsultan mahal.
Dan mungkin… justru karena terlalu sederhana, jadi tidak menarik bagi mereka yang terbiasa mempersulit hal yang sebenarnya mudah.
Lingkungan: Kita Reboisasi, Tapi Salah Pohon
Kita bicara reboisasi.
Anggaran ada.
Program ada.
Tapi seringkali hasilnya?
Seremonial.
Padahal seho bukan sekadar pohon:
- dia jaga air
- dia cegah erosi
- dia serap karbon
- dia hasilkan energi
Ini bukan satu solusi—ini paket lengkap.
Baca Juga : MoU Kemendag dan KKP, Genjot Kepatuhan Importir di Luar Pabean
Tapi lagi-lagi, kita seperti pemain bridge yang salah baca distribusi kartu: fokus ke satu suit, lupa keseluruhan permainan.
Masalah Kita Bukan Kurang Ide
Jangan bilang kita kekurangan konsep.
Kita kebanyakan konsep.
Yang kurang itu keberanian menjalankan ide yang sudah jelas.
Ventje Sumual sudah menunjukkan arah.
Bukan teori—tapi visi yang praktis.
Masalahnya, kita lebih suka:
- proyek besar daripada gerakan rakyat
- impor daripada produksi
- wacana daripada eksekusi
Closing: Kita Ini Main Bridge atau Main Drama?
Baca Juga : Cegah Penyimpangan, Mendag Busan Tegaskan Tata Niaga Gula dan Impor Etanol Diperkuat dan Diawasi
Kalau di bridge, pemain yang terus buang peluang biasanya punya dua alasan:
- Tidak paham
- Tidak berani
Indonesia?
Mungkin kombinasi keduanya.
Seho sudah ada.
Rakyat siap.
Kebutuhan jelas.
Tinggal satu pertanyaan:
Kita mau main untuk menang… atau terus pura-pura sibuk di meja, tapi sebenarnya takut ambil keputusan? ***














