Olahraga
Legacy Michael Bambang Hartono Tetap Hidup di Meja Bridge

Oleh : Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Dua turnamen bridge besar bertaraf internasional yang digelar setelah wafatnya Michael Bambang Hartono menjadi bukti nyata: warisan beliau tidak ikut pergi—justru semakin terasa.
Pada BTC Cup ke-3 di Malang (10–12 April) dan GBOT 6 di Bandung (1–3 Mei 2026), satu benang merah terlihat jelas. Upacara pembukaan selalu diawali dengan penghormatan khusus. Bukan sekadar seremoni, tetapi pengakuan kolektif bahwa sosok ini telah memberi fondasi bagi perkembangan bridge Indonesia modern.
Video singkat tentang kiprah almarhum diputar—menampilkan perjalanan panjangnya dalam membina, mendukung, dan “menyuntikkan nyawa” ke komunitas bridge nasional. Yang membuat suasana semakin hidup adalah testimoni dari mereka yang pernah bersentuhan langsung: dari pemain, pengurus, hingga generasi muda.
Di GBOT 6, suara-suara itu datang dari berbagai sisi. “Tukang Bridge” sebagai partner lama almarhum, atlet putri berbakat dari Sumatera Selatan, hingga tokoh klub seperti Abah Tonny Satramihardja. Namun justru cerita sederhana yang paling membekas.
Abah Tonny mengenang masa mudanya saat mengikuti Djarum Cup di Semarang. Masih junior, belum punya apa-apa—kecuali semangat. Saat itulah Pak Bambang, tanpa banyak bicara, membantu: biaya pendaftaran ditanggung, bahkan penginapan disiapkan jika diperlukan.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil. Tapi bagi dunia bridge Indonesia, itu adalah investasi—yang hasilnya baru kita lihat hari ini.
Menariknya, semangat itu tidak berhenti sebagai kenangan. Di GBOT 6, prinsip yang sama diteruskan. Jika ada tim junior yang kesulitan dana, pintu bantuan tetap terbuka. Syaratnya sederhana: mereka harus mau bertanding.
Sebuah pesan yang jelas—bridge bukan hanya soal kartu, tetapi soal kesempatan.
Panas di Meja, Hangat di Hati
Turnamen GBOT 6 sendiri menghadirkan 60 tim, dengan warna internasional dari Singapura, serta partisipasi pemain Filipina dan Malaysia seperti Gema Tan dan Alan Sia yang bergabung dengan tim Indonesia.
Setelah 7 sesi babak penyisihan, klasemen sementara menunjukkan persaingan ketat:
1. SUMSEL TERBUKA – 100,58
2. OLLY DONDOKAMBEY – 99,89
3. MCC PRESERVASI – 95,61
4. JEMBATAN XMM – 93,19
5. DJARUM SUPER (S) – 90,93
6. DJARUM BOLD (M) – 87,68
7. ALUNAND – 87,51
8. KB PERTAMINA – 87,03
9. GABMO – 86,12
10. CLIMANUSA – 85,64
11. GBB PUTRI (L) – 85,22
12. DJARUM BLACK – 84,67
Persaingan masih terbuka. Dua sesi terakhir akan menjadi penentu nasib.
Peringkat 1–7 akan melaju ke babak final, bergabung dengan satu tim unggulan dari tuan rumah Ganesha Bridge Club. Sementara itu, tim peringkat 8–34 akan bertarung di Flight A consolation, dan sisanya di Flight B consolation.
Legacy yang Tidak Bisa Digantikan
Bridge sering disebut permainan logika. Tapi kisah ini menunjukkan bahwa yang membuatnya hidup justru sisi manusianya.
Warisan Michael Bambang Hartono bukan sekadar turnamen besar atau sistem pembinaan. Ia adalah budaya: membantu tanpa pamrih, memberi peluang, dan percaya bahwa generasi berikutnya harus didorong—bukan ditunggu.
Dan mungkin, di setiap meja yang dimainkan hari ini, ada satu hal yang tidak tertulis di kartu:
kesempatan yang dulu pernah diberikan—dan kini diteruskan. ***














