Connect with us

Olahraga

Jokowi, “Tukang Bridge” yang Tak Pernah Duduk di Meja

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi pernah memberi ruang bagi turnamen bridge Porprov 2009 di rumah dinas wakil wali kota.

Saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi pernah memberi ruang bagi turnamen bridge Porprov 2009 di rumah dinas wakil wali kota.(Ist)

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

FAKTUAL INDONESIA: Nama Joko Widodo tidak pernah tercatat sebagai pemain bridge. Ia bukan anggota klub, tidak dikenal di arena turnamen, dan tak pernah duduk sebagai declarer di meja pertandingan. Namun, jika kita meminjam kacamata seorang pemain bridge, sulit menampik satu kesan: Jokowi memainkan politik seperti seorang “tukang bridge” ulung.

Seandainya ia benar-benar menekuni olahraga ini, mungkin saya harus berbagi gelar “tukang bridge”. Untunglah sejarah berkata lain—ia memilih jalan menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun, jejak kedekatannya dengan dunia bridge bukan sepenuhnya nol. Saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, ia pernah memberi ruang bagi turnamen bridge Porprov 2009 di rumah dinas wakil wali kota. Sebuah gestur kecil, tetapi cukup berarti bagi komunitas bridge.

Lebih menarik lagi adalah bagaimana gaya kepemimpinannya mencerminkan logika permainan bridge itu sendiri.

Dalam bridge, segalanya dimulai dari bidding—fase komunikasi yang penuh kode, sinyal, dan interpretasi. Jokowi, dalam banyak situasi krisis, tampak memainkan fase ini dengan rapi. Ia “berbicara” dengan berbagai pihak: TNI, Polri, ulama, tokoh politik, hingga masyarakat sipil. Layaknya pasangan dalam bridge, komunikasi ini bukan sekadar berbicara, tetapi menyusun pemahaman bersama dari informasi yang terbatas.

Advertisement

Kasus demonstrasi besar seperti Aksi 4 November 2016 menjadi contoh menarik. Dalam tekanan tinggi, ia tidak gegabah menentukan “kontrak”. Ia mengumpulkan informasi, membaca situasi, bahkan—jika dianalogikan dalam istilah bridge—seolah melakukan psychic bid: manuver tak terduga untuk memancing reaksi lawan. Ketika lawan terpancing dan membuka kartu mereka sendiri, informasi tambahan pun diperoleh.

Dari sana, barulah ia menetapkan “kontrak akhir”: menjaga stabilitas, mempertahankan keutuhan—“NKRI harga mati”.

Namun, dalam bridge, memenangkan bidding belum berarti memenangkan permainan. Tantangan sesungguhnya ada di fase play. Di sinilah kecerdikan seorang declarer diuji.

Situasi politik pasca-krisis sering kali masih menyisakan “kartu-kartu berbahaya” di tangan lawan. Jokowi menghadapi ini dengan pendekatan yang, dalam istilah bridge, menyerupai teknik squeeze. Ia menempatkan berbagai pihak dalam posisi dilematis: setiap langkah lawan justru membuka peluang baginya.

Jika lawan bertahan di satu sisi, sisi lain menjadi lemah. Jika menjaga kepentingan tertentu, kepentingan lain harus dikorbankan. Pada akhirnya, ruang gerak lawan menyempit—dan kemenangan menjadi tak terhindarkan.

Advertisement

Dalam bahasa yang lebih sederhana: ia tidak selalu menyerang secara frontal, tetapi membiarkan situasi bekerja menekan lawan.

Dan di ujung permainan, “kartu hati” menjadi penentu.

Jokowi, dengan gaya komunikasinya yang sederhana dan dekat dengan rakyat, berhasil memainkan kartu ini dengan efektif. Ia tidak hanya memenangkan “trik” politik, tetapi juga—setidaknya bagi sebagian besar masyarakat—memenangkan hati.

Istilah “tukang bridge” yang dilekatkan pada Jokowi tentu bukan jabatan resmi. Ia adalah metafora—sebuah cara pandang dari komunitas bridge untuk membaca strategi politik melalui lensa permainan kartu. Dalam berbagai tulisan opini, istilah ini menjadi simbol kecerdikan, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi.

Di sisi lain, publik juga mengenal Jokowi sebagai sosok yang membangun banyak “bridge” dalam arti harfiah—dari Jembatan Tayan hingga Jembatan Pulau Balang. Namun, “bridge” yang satu ini berbeda: ia tidak terbuat dari baja atau beton, melainkan dari strategi, komunikasi, dan intuisi.

Advertisement

Maka, meskipun Jokowi tidak pernah benar-benar menjadi pemain bridge, pendekatannya dalam politik membuatnya layak disebut sebagai “tukang bridge”—seorang declarer yang bermain di meja yang jauh lebih besar: meja Indonesia.

Dan bagi kami para pecinta bridge, melihat politik melalui metafora ini bukan sekadar gaya bahasa. Ia adalah pengingat bahwa strategi terbaik sering kali lahir dari kemampuan membaca situasi, memahami pasangan, dan—yang paling penting—mengetahui kapan harus menekan, dan kapan harus menunggu.

Seperti dalam bridge, kehidupan politik pun pada akhirnya adalah soal satu hal: mengubah kartu yang kita miliki menjadi kemenangan. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca