Ekonomi
IHSG Ditutup Menguat dan Cetak Rekor Tertinggi ATH, Rupiah Kembali Tergelincir

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat dengan catatan rekor tertinggi sepanjang masa masa atau all time high (ATH), Kamis (15/1/2026), sementara nilai tukar (kurs) rupiah sempat menguat meskipun akhirnya melemah pada penutupan perdagangan.
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) setelah dibuka dan ditutup menguat pada perdagangan saham Kamis (15/1/2026).
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah tergelincir lagi ke posisi melemah meskipun sempat dibuka menguat pada perdagangan valuta hari ini. Bahkan melemahnya rupiah kali ini menjadi rekor terlemah sepanjang masa sejak tahun 1990.
Penopang Penguatan IHSG
Baca Juga : Rabu Ceria, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi Di Atas 9.000, Rupiah Akhirnya Bangkit Juga
Perdagangan saham Kamis ini menjadi yang terakhir karena libur panjang sampai Senin mendatang. Menjelang libur panjang itu IHSG kembali mencatat penampilan yang dihiasi rekor tertinggi sepanjang masa atau ATH sebelum ditutup menguat menguat 42,83 atau 0,47 persen ke posisi 9.075,41. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,34 poin atau 0,83 persen ke posisi 889,43.
IHSG pada pembukaan perdagangan juga sudah langsung dibuka menguat menguat 39,71 poin atau 0,44 persen ke posisi 9.072,29. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,84 poin atau 0,44 persen ke posisi 885,92.
Terus berada di zona hijau, IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) baru di level 9.100,825, dengan level terendah hari ini di 9.040,998. Namun kemudian IHSG bergerak menurun sehingga ditutup di level 9.075,41yang menjadi rekor tertinggi penutupan.
Dikutip dari kontan, penguatan IHSG ditopang oleh lima sektor indeks yakni keuangan, teknologi, non primer dan infrastruktur.
Baca Juga : Penutupan Perdaganga Hari Ini, IHSG Menghijau Lagi, Rupiah ya Ampun ……
Indeks dengan penguatan terbesar dicetak oleh IDX Barang Konsumen Non Primer menguat 1,15%. IDX Sektor Keuangan naik 1,14% dan IDX Sektor Teknologi menguat 0,58%.
IDX Sektor Barang Konsumen Primer menguat 0,20% dan IDX Sektor Infrastruktur naik 0,13%.
Sementara sektor lain seperti IDX Sektor Perindustrian melemah 2,31%, IDX Sektor Transportasi dan Logistik melemah 0,97% dan IDX Sektor Barang Baku melemah 0,76%.
IDX Sektor Properti & Real Estate juga melemah 0,43%. IDX Sektor Energi melemah 0,21%. IDX Sektor Kesehatan melemah 0,21%
Adapun total volume transaksi bursa mencapai 50,38 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 27,91 triliun. Sebanyak 339 saham harganya naik, 331 harga sahamnya turun dan 133 tidak bergerak alias stagnan.
Baca Juga : Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam lansiran indopremier menilai, penguatan IHSG hari ini didukung stimulus pemerintah.
Dari dalam negeri, Pilarmas menyebutkan, pasar merespons positif langkah pemerintah yang akan mengalokasikan dana sebesar Rp101 triliun untuk industri tekstil. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan sektor padat karya yang menjadi sumber penghidupan jutaan pekerja, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di tengah kompetisi global.
Di sisi eksternal, Pilarmas mengatakan, pasar regional Asia tertekan oleh meningkatnya risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif 25% terhadap produk chip.
Pilarmas menilai, kondisi tersebut mempertegas memanasnya persaingan teknologi antara AS dan China, yang berpotensi menambah ketidakpastian global serta meningkatkan tekanan inflasi di AS. Situasi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang bagi bank sentral AS untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga : Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936
Kurs Rupiah Terlemah
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menjanjikan ketika dibuka menguat pada pembukaan perdagangan valuta Kamis pagi. Pada pembukaan, kurs rupiah menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.865 per dolar AS.
Tetapi posisi itu gagal dipertahankan karena saat penutupan perdagangan sore harinya, nilai tukar rupiah ditutup melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.890 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.865 per dolar AS.
Baca Juga : IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.880 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.871 per dolar AS.
Melemahnya rupiah pada penutupan itu berada di level terlemah sepanjang masa. Jika menengok data Bloomberg ini adalah level terlemah rupiah terhadap dollar AS sejak tahun 1990.
Mengutip indopremier, Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa kurs rupiah kembali melemah meski ketegangan antara AS dan Iran telah mereda, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah diyakinkan bahwa otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran.
Baca Juga : IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi
Namun di AS, kekhawatiran meluas seputar independensi Federal Reserve. Hal ini dengan terjadinyapenyelidikan yang sedang berlangsung terhadapKetua The Fed Jerome Powell, meski Trump mengungkapkan bahwa dia tidak berencana untuk memberhentikannya dari jabatan tertinggi bank sentral.
Kurs rupiah juga melemah setelahlaporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS bulan Oktober menunjukkan bahwa harga produsen jauh dari target 2% The Fed.
“Namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026. Data lebih lanjut mengungkapkan bahwa Penjualan Ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi bahwa rumah tangga Amerika meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya,” kataIbrahimdalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).
“Hari ini fokus pasar adalah Klaim Pengangguran Awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” lanjutnya. ***














