Olahraga
Simulasi Olimpiade: Hancur, Wakil Merah Putih Bertumbangan

Gregoria Mariska Tunjung, wakil tunggal putri Indonesia ke Olimpiade Tokyo. (Ist).
FAKTUALid – Para pemain Indonesia yang akan turun di Olimpiade Tokyo 2020 bertumbangan di ajang simulasi. Tunggal putra, tunggal putri, dan ganda campuran menyerah kepada pemain-pemain muda yang menjadi lawan tanding mereka di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (17/6/2021).
Kekalahan Anthony Sinisuka Ginting atas Shesar Hiren Rhustavito, Gregoria Mariska Tunjung atas Ester Nurumi Tri Wardoyo, dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti atas pasangan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari boleh dibilang semua kejutan. Pasalnya yang mengalahkan mereka adalah para pemain muda yang belum lama naik menjadi pemain senior.
Ini menunjukkan persiapan tim Merah Putih menuju Olimpiade Tokyo tidak matang. Menghadapi pemain-pemain yang boleh dibilang sekelas di bawah mereka saja para wakil Indonesia itu tidak mampu memetik kemenangan, apalagi menghadapi pemain-pemain dunia yang bakal menjadi lawan mereka di Tokyo nanti.
Anthony Ginting secara mengejutkan tumbang dari Vito dalam permainan tiga games dengan 13-21, 21-19, 21-7. Melihat dari hasil game ketiga, Ginting kalah dengan skor Afrika 7 – 21. Kenapa ini bisa terjadi tentu akan menjadi evaluasi bagi pelatih.
Bagi Ginting, jawabannya mudah saja. Ia mengatakan masih banyak kekurangan yang harus ia perbaiki jelang Olimpiade.
“Di sisa waktu satu bulan sebelum ke pertandingan Olimpiade, masih banyak yang harus saya perbaiki. Setelah ini evaluasi bersama pelatih apa yang harus difokuskan walau waktunya sudah tidak lama lagi,” aku Ginting.
Bagaimana dengan tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung? Alasannya sangat sederhana. Ia kalah karena tidak dapat keluar dari tekanan dan target menang yang dicanangkan sebelum masuk lapangan. Masuk akal? Ya, kalau lawan yang dihadapi adalah lawan sesungguhnya di arena Olimpiade. Tapi melawan pemain juniornya sekelas Erter di harusnya lebih siap.
Gregoria menyerah lewat permainan rubber game dengan 21-12, 13-21, 21-11.
“Hari ini permainan saya tidak keluar sama sekali. Semua jadi serba salah mainnya,” ucap Gregoria.
“Saya tegang karena jujur saya menargetkan hari ini harus menang tapi saya malah tertekan dan tidak bisa mengatasinya. Ester juga kan pemain muda, jadi nambah beban ke saya,” lanjutnya.
Menghadapi Ester saja Gregoria sudah gugup, bagaimana kalau nanti menghadapi pemain-pemain senior dari Jepang, China, Thailand, Taiwan, dan Denmark yang bakal dihadapinya di Olimpiade Tokyo nanti.
Di lain pihak pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mengaku kalah lantaran Praveen agak cedera. Apa pun alasannya, ini menunjukkan bahwa juara All England 2020 itu tidak siap menghadapi Simulasi Olimpiade yang berlangsung dua hari tersebut.
Ironisnya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti tampil tidak prima dan kalah dua game atas Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dengan 23-25, 13-21.
“Sebenarnya dari sebelum pertandingan saya sudah merasakan sakit. Mungkin efek dari latihan yang sedang sangat intens,” kata Jordan usai pertandingan. Ah, mungkin saja itu alibi Jordan untuk mencari pembenaran. Tapi tidak itu yang ditunggu publik.
Semua wakil Indonesia yang akan mengenakan lambang garuda di dadanya diharapkan berjuang maksimal. Ingat, mata rantai prestasi emas Olimpiade yang terputus pada Olimpiade London 2012 sudah dirajut kembali oleh pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Jangan sampai perisai prestasi itu terkoyak dua kali, akan semakin sulit menyulamnya untuk merangkai kembali. Selamat berjuang! ***














