Home LifestyleWisata Sektor Pariwisata Semakin Digdaya Jika Terumbu Karang Terjaga

Sektor Pariwisata Semakin Digdaya Jika Terumbu Karang Terjaga

oleh Dwipraya

Munasik bersama peneliti dari Kwansei Gakuin Univ. Jepang. (Foto: Istimewa)

FAKTUALid – Kepulauan Karimunjawa, di Kabupaten Jepara, sejak lama dikenal sebagai destinasi wisata bahari andalan di Jawa Tengah. Selain pemandangan laut alami yang menjadi daya tarik utama, kemudahan transportasi ke pulau impian yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil tersebut, membuat paket perjalanan wisata kesana selalu padat.

Pada masa lampau, kepulauan sejauh 80 km arah utara Kota Semarang ini merupakan pulau “buangan”. Banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang nakal harus rela dibuang ke Karimunjawa. Tapi seturut perjalanan waktu, siapa sangka kalau pulau ini malah jadi jujukan kaum wisatawan.

Aneka pesona alam memang banyak ditawarkan di sana. Selain bermacam biota laut seperti ikan lumba-lumba yang setia mengikuti pelayaran wisatawan antar pulau-pulau kecil, penangkaran ikan paus, dan view pantai yang rupawan, tentu sudut lain yang paling menarik wisatawan, adalah keberadaan terumbu karang yang menakjubkan. 

Keindahan terumbu karangnya terasa semakin eksotis, lantaran bisa dilihat dengan mata telanjang karena beningnya air laut disana. Atau bisa juga dilihat melalui kapal kaca yang disediakan pengelola jasa wisata.

Namun ironisnya, ditengah gegap gempita upaya memacu sektor wisata oleh Kemenparekraf, saat ini justru mulai ada yang mengganjal batin para pelancong, dan itu diamini kalangan akademisi, yakni terjadinya penurunan kondisi terumbu karang di kebanyakan kawasan wisata laut di Indonesia. Kepulauan Karimunjawa hanyalah salah satu contoh.

“Memang benar. Penurunan kondisi terumbu karang itu bahkan telah diikuti berkurangnya fungsi ekologi dan sumber daya perikanan,” kata Dosen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yang sekaligus Peneliti Terumbu Karang, Dr. Ir. Munasik, M.Sc, Selasa (15/6/2021).

Dosen yang sangat aktif sebagai peneliti terumbu karang di Indonesia ini, mengakui, upaya perbaikan terumbu karang memang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Publik kebanyakan mengenal kegiatan perbaikan terumbu karang tersebut dengan istilah rehabilitasi terumbu karang.

Sampai sekarang, belum ada peninjauan sejauh mana perkembangan rehabilitasi terumbu karang di Indonesia, tiba-tiba sudah muncul istilah lagi bertajuk restorasi terumbu karang.

Munasik membenarkan, dari masa ke masa permasalahan terumbu karang selalu mengalami pergeseran. Kalau dulu, eksploitasi atau penambangan karang selalu identik untuk bangunan.

“Namun akhir-akhir ini, telah mengarah ke penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, serta pemanfaatan wisata yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

Ia menambahkan, penangkapan ikan dengan penyelam kompresor yang mengambil apa saja yang ada di dasar laut, masih menjadi isu perusakan terumbu karang akibat ulah manusia.

“Selain itu, pencemaran limbah domestik juga berperan dalam menimbulkan kekeruhan dan peningkatan bahan organik di lingkungan
terumbu karang yang semestinya harus terjaga kejernihannya,” ungkapnya pula.

Melihat persoalan terumbu karang (bukan hanya di Karimunjawa tapi juga di seluruh Indonesia) yang butuh banyak perhatian itu,
sebagai Dosen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Semarang sekaligus pemerhati/peneliti terumbu karang, Munasik tentu tak ingin diam saja.

Untuk menyelamatkan terumbu-terumbu karang tadi, ia telah membangun kanal YouTube khusus untuk membahas terumbu karang di Indonesia supaya lestari.

Dalam setiap episode bahasan melalui chanel YouTube bertajuk ‘Sudut Terumbu’ tersebut, Munasik selalu menghadirkan para pakar kelautan seperti Ketua Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) yang juga Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)
Tanjungpinang, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, serta Dr. Syafiyudin Yusuf (Dosen dan Peneliti Terumbu Karang Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar).

“Sedangkan untuk Sudut Terumbu episode 03, Rabu (16/6/2021) besok, masyarakat bisa mengikuti lewat tayangan IG Live
@munasik_motawi pada pukul 19.00-20.00 WIB. Kami akan membahas terumbu karang bersama Dr. Rahmadi Prasetyo, seorang Dosen dan Peneliti Terumbu Karang yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Sains dan Teknologi, Universitas Dhyana Pura, Denpasar,” pungkas Munasik.***

Tinggalkan Komentar