Connect with us

Olahraga

Masyarakat Bridge Sumringah, Banyak Tokoh Berminat Jadi Calon Ketum PB Gabsi

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Bridge Indonesia saat ini tidak membutuhkan perang ego tetapi kombinasi tokoh besar, pengalaman organisasi, jaringan nasional, dan orang-orang yang benar-benar mau bekerja

Bridge Indonesia saat ini tidak membutuhkan perang ego tetapi kombinasi tokoh besar, pengalaman organisasi, jaringan nasional, dan orang-orang yang benar-benar mau bekerja, (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Masyarakat bridge Indonesia akhirnya mulai bisa tersenyum. Setelah melewati masa yang oleh banyak pelaku bridge dianggap sebagai salah satu periode paling suram dalam beberapa tahun terakhir, kini menjelang Kongres PB Gabsi di Mamuju pada September 2026, mulai bermunculan sejumlah tokoh besar yang disebut siap maju sebagai calon Ketua Umum PB Gabsi periode 2026–2030.

Selama empat tahun terakhir, PB Gabsi di bawah kepemimpinan Syarif Bastaman dinilai banyak kalangan belum mampu menjalankan organisasi secara maksimal. Akibatnya, gairah bridge nasional terasa menurun. Program pembinaan berjalan tidak optimal, prestasi internasional meredup, dan posisi bridge dalam peta olahraga nasional semakin terpinggirkan.

Namun angin perubahan mulai terasa.

Sebelumnya beredar sejumlah nama yang disebut-sebut akan maju sebagai calon Ketua Umum PB Gabsi, yakni:

Miranda Swaray Goeltom

Advertisement

Verdianto Iskandar Bitticaca

Olly Dondokambey

Isradi Zainal

Dan akhirnya pada malam 6 Mei 2026, bertempat di Raja Oci, Olly Dondokambey secara resmi menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketua Umum PB Gabsi.

Kabar ini tentu langsung disambut antusias masyarakat bridge. Bukan semata karena popularitas beliau sebagai mantan Gubernur Sulawesi Utara dua periode 2016–2025 atau posisinya sebagai Bendahara Umum PDIP, tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, muncul harapan bahwa bridge Indonesia akan kembali dipimpin figur dengan jaringan kuat dan kemampuan manajerial besar.

Advertisement

Namun di tengah euforia itu, tukang bridge punya pikiran yang mungkin dianggap nyeleneh.

Tukang bridge teringat Kongres Gabsi di Banda Aceh tahun 1994. Saat itu Ketua Umum PB Gabsi periode 1990–1994 dijabat oleh Amran Zamzami.

Dalam kongres tersebut muncul nama Wiranto — ketika itu masih berpangkat Mayor Jenderal dan menjabat Kepala Staf Pangdam Jaya — sebagai calon Ketua Umum PB Gabsi. Beliau bersedia memimpin, tetapi menyadari perlunya dukungan orang-orang yang benar-benar memahami teknis organisasi bridge.

Dan di sinilah terjadi langkah besar yang hingga kini masih dikenang banyak orang bridge: demi kecintaannya pada olahraga ini, Amran Zamzami bersedia turun jabatan menjadi Ketua Harian agar organisasi tetap berjalan efektif.

Karena itu, tukang bridge berpikir: mengapa pola yang sama tidak dicoba kembali?

Advertisement

Bagaimana jika Miranda Swaray Goeltom — yang sudah berpengalaman memimpin PB Gabsi selama dua periode — bersedia mengambil posisi Ketua Harian untuk membantu Olly Dondokambey yang tentu masih membutuhkan adaptasi dalam dunia organisasi bridge nasional?

Sementara dua tokoh lainnya dapat mengambil posisi Wakil Ketua Umum.

Kalau itu terjadi, Kongres Gabsi di Mamuju mungkin tidak perlu diwarnai pertarungan yang menguras energi. Sebaliknya, yang lahir adalah rekonsiliasi besar demi menyelamatkan bridge Indonesia.

Karena tantangan PB Gabsi periode 2026–2030 tidak ringan.

Target pertama adalah memperjuangkan agar olahraga bridge masuk dalam DBON (Desain Besar Olahraga Nasional). Jika itu berhasil, maka peluang bridge kembali dipertandingkan di PON akan terbuka lebar.

Advertisement

Tugas berikutnya adalah melanjutkan perjuangan agar negara-negara ASEAN memiliki National Bridge Organisation yang aktif sehingga bridge tetap dipertandingkan di SEA Games dan bahkan suatu hari bisa memperoleh posisi lebih kuat menuju Asian Games.

Bridge Indonesia saat ini tidak membutuhkan perang ego.

Yang dibutuhkan adalah kombinasi tokoh besar, pengalaman organisasi, jaringan nasional, dan orang-orang yang benar-benar mau bekerja.

Kalau semua itu bisa disatukan di Mamuju nanti, mungkin masyarakat bridge bukan sekadar sumringah.

Tetapi benar-benar bisa kembali bermimpi. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement