Connect with us

Kesehatan

Ketahui, Ini 8 Bahaya Aborsi bagi Kesehatan Wanita

Diterbitkan

pada

bahaya aborsi

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Aborsi merupakan tindakan menggugurkan kandungan. Aborsi kerap dilakukan karena alasan medis. Namun, banyak orang yang melakukan aborsi bukan dengan alasan medis. Bahaya aborsi akan semakin besar jika tidak dilakukan oleh dokter.

Saat ini, banyak wanita hamil yang memutuskan untuk mengakhiri kehamilan. Biasanya, ini dilakukan pada wanita yang hamil di luar nikah atau korban pemerkosaan. Bagi wanita yang mengalami pemerkosaan, aborsi dianggap legal jika kehamilan mengginjak usia kandungannya kurang dari 40 hari.

Di samping legal atau tidak, tentu ada bahaya aborsi yang mengintai. Terlebih jika dilakukan secara tidak benar dapat menimbulkan risiko yang berbahaya. Lantas, apa saja bahaya aborsi bagi kesehatan wanita?

Baca juga: 6 Cara Memancing Kontraksi, Agar Si Kecil Cepat Lahir

Berikut beberapa bahaya aborsi yang telah faktualid.com rangkum dari hellosehat dan doktersehat.

1. Kerusakan rahim

Bahaya aborsi yang pertama yaitu kerusakan rahim. Di banyak kasus aborsi dengan tindakan pembedahan, wanita akan kerusakan rahim. Kerusakan tersebut juga meliputi kerusakan leher rahim, perlubangan (perforasi) rahim, dan luka robek pada rahim (laserasi).

Advertisement

Selain itu, aborsi yang dilakukan sendiri oleh remaja pada trimester kedua akan berisiko kerusakan serviks. Risiko perlubangan pada rahim juga dapat meningkat pada wanita yang sebelumnya sudah melahirkan dan mereka yang menerima anestesi umum pada saat aborsi.

2. Peradangan pinggul

Penyakit infeksi peradangan pinggul atau pelvic inflammatory disease (PID) merupakan penyakit yang mampu menyebabkan risiko kehamilan ektopik dan penurunan kesuburan. Kondisi ini bahkan dapat mengancam nyawa.

Wanita yang melakukan aborsi dan memiliki infeksi klamidia, sangat berisiko mengembangan peradangan tersebut dalam kurun waktu 4 munggu setelah menjalani pengguguran.

3. Depresi

Bahaya aborsi berikutnya yaitu depresi. Wanita yang memutuskan aborsi dengan alasan apapun, diketahui akan menimbulkan efek traumatik. Hal tersebut perlu mendapatkan penanganan dengan segera karena bisa menyebabkan depresi.

Menurut psikolog, sebagian besar wanita melakukan aborsi mungkin akan hidup dengan perasaan yang sulit. Nantinya wanita tersebut akan mengalami reaksi emosional setelah menggugurkan kandungan.

Advertisement

4. Sepsis

Selain depresi, bahaya aborsi juga bisa menyebabab sepsis. Sepsis adalah peradangan berbahaya akibat infeksi yang berpotensi mengancam nyawa. Ketika infeksi sudah masuk, nantinya akan menyebabkan tekanan darah turun secara drastis. Kondisi tersebut dianggap sebagai syok sepsis.

Syok sepsis merupakan kondisi gawat darurat apabila terjadi setelah aborsi. Sepsis umumnya terjadi ketika memasuki 14 minggu usia kehamilan.

Baca juga: Cegah Bayi Stunning, Prakonsepsi Jauh Lebih Pentingn dari ‘Pre-Wedding’

5. Endometritis

Salah satu bahaya aborsi yang perlu diketahui adalah peradangan pada lapisan rahim atau endometritis. Dilaporkan, kondisi ini lebih rentan menyerang remaja wanita pasca menggugurkan kandungan ketimbang wanita berusia 20 – 29 tahun.

Pengidap endometritis dapat berdampak pada komplikasi yang mungkin terjadi, seperti masalah kesuburan.

6. Disfungsi seksual

Pasca melakukan pengguguran, dilaporkan ada sekitar 30 – 50 persen wanita mengalami disfungsi seksual, baik jangka panjang maupun pendek. Ada beberapa gejala disfungsi seksual yang mungkin dirasakan, bahkan ada yang mengelami lebih dari satu gejala.

Advertisement

Berikut Gejala disfungsi seksual yang dapat terjadi:

  • Enggan melakukan seks.
  • Peningkatan rasa sakit.
  • Hilangnya kesenangan dari hubungan seksual.

7. Kanker

Ternyata, bahaya aborsi bisa menyebabkan kanker. Kanker serviks bisa berisiko lebih tinggi terjadi bagi wanita yang pernah melakukan aborsi satu kali. Sedangkan yang melakukan 2 kali atau lebih akan menghadapi risiko yang relatif.

Pengguguran satu dan dua kali dapat meningkatkan risiko terkena kanker ovarium dan kanker hati. Peningkatkan tersebut terjadi akibat hormonal tidak wajar sel kehamilan dan kerusakan leher rahim yang tidak diobati atau peningkatan stres.

Terkait peningkatan risiko kanker payudara, hal tersebut dianggap mitos dan tidak ada hubungannya dengan aborsi.

8. Kematian

Bahaya aborsi yang terakhir adalah kematian. Penelitian sudah membuktikan bahwa wanita yang telah melakukan aborsi cenderung mengalami kematian. Dikatakan wanita yang pernah menggugurkan kandungan berisiko 4 kali lebih mungkin meninggal karena kondisi kesehatan di tahun berikutnya.***

Baca juga: Yoga bagi Ibu Hamil Beri Manfaat Positif Perkembangan Janin

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement