Home Lapsus PPKM Darurat, Sulitnya Menyadarkan Warga Tentang Bahaya Corona

PPKM Darurat, Sulitnya Menyadarkan Warga Tentang Bahaya Corona

oleh Akbar Surya


Masih banyak warga Surabaya yang beraktifitas di luar rumah saat PPKM Darurat. (Foto: Istimewa)

FAKTUALid – Lonjakan kasus Covid-19 dan tingginya angka kematian tidak lantas membuat semua warga Jawa Timur sadar pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Bahkan saat pemerintah mulai menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, masih saja banyak yang abai dengan kebijakan untuk menekan penyebaran Covid-19 (Corona) ini.

Wajar bila Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak sempat kecewa saat memantau pelaksanaan hari pertama PPKM Darurat di sejumlah daerah. “Perlu kami ingatkan, aglomerasi (perjalanan lintas) hanya diperbolehkan untuk hal penting. Tadi kami lihat banyak yang nggak penting,” ujarnya.

Bentuk pelanggaran akibat rendahnya kesadaran masyarakat itu terjadi saat dirinya melakukan sidak di titik penyekatan Bundaran Cito Surabaya. Bukan hanya masih banyak yang melintas, mereka bahkan banyak yang tidak membawa dokumen yang dipersyaratkan atau bukti telah mengikuti vaksin.

Pantauan lapangan, bukan hanya aglomerasi yang dilanggar. Kelompok masyarakat abai juga masih terlihat di berbagai warung kopi (warkop) yang bertebaran di sudut kota Surabaya dan Sidoarjo. Seolah sedang tak terjadi apa-apa, mereka tetap saja nongkrong di warkop-warkop yang mengincar pengunjung dengan iming-iming wifi gratis tersebut.

Bahkan pada Minggu (4/07/2021) dini hari, polisi harus membubarkan paksa sebuah kafe di komplek ruko Jalan Kupang Krajan Surabaya yang tetap beroperasi seperti biasa. Kafe itu ketahuan buka sejak pukul 24.00 WIB saat petugas gabungan melakukan penggerebegan. “Kami akan tindak tegas siapa pun yang mencoba melanggar peraturan dan menghambat percepatan penanganan Covid-19,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian.

Pemandangan berbeda terjadi di pusat Kota Surabaya pasca penerapan PPKM Darurat yang diberlakukan selama periode 3-20 Juli 2021 tersebut. Jalanan pusat kota yang biasanya padat merambat itu, seolah berubah menjadi kota mati sejak lepas magrib. Hampir semua mall dan pusat perbelanjaan sepi karena tutup lebih awal. Tunjungan Plaza Surabaya yang jadi ikon Kota Pahlawan saja, hanya beberapa gerai yang masih buka untuk melayani pembelian take away (bawa pulang).

Sikap abai pada peraturan pemerintah juga terjadi di Kabupaten Gresik, pada hari pertama pelaksanaan PPKM Darurat. Jalanan Kota Santri ini dipadati warga yang beraktivitas di luar rumah. Minimarket dan warung kopi juga masih buka, dan tidak semuanya menerapkan take away atau beli untuk dibawa pulang.

Di Kota Jember, suasana hari pertama PPKM Darurat juga tak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Lalu lintas di
sejumlah ruas jalan di kawasan Kota Jember masih ramai lancar, sejumlah tempat usaha masih beroperasi. Tapi sejumlah tempat wisata sudah menyatakan diri menutup jam operasionalnya mulai 3-20 Juli 2021, seperti Tempat Wisata Kebun Teh Gunung Gambir Sumberbaru, juga Skyland Wuluhan.

Parah

Padahal kondisi yang terjadi di Jatim saat ini tidak main-main. Sudah ratusan pasien isolasi mandiri yang meninggal saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di IGD Rumah Sakit. Kematian yang terjadi di luar fasilitas kesehatan ini terjadi hanya selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021.

Tak hanya itu, belasan rumah sakit swasta di Kota Surabaya juga mengumumkan penutupan sementara Instalasi Gawat Darurat (IGD) bagi pasien Covid-19. Beberapa diantaranya bahkan tidak menerima pasien non Covid-19 di IGD, karena berbagai sebab.

Ada yang karena karena kehabisan ruang perawatan untuk pasien Covid-19 di rumah sakit, ruang ICU untuk pasien Covid-19 yang sudah penuh, dan banyak rumah sakit yang pasien Covid-nya macet di ruang IGD karena kamar isolasi rawat inap dan ICU khusus Covid-19 juga penuh. Ada juga yang karena sudah banyak tenaga kesehatannya yang ikut terpapar Covid-19.

Direktur Rumah Sakit Islam Ahmad Yani Surabaya, dr Dodo Anondo misalnya menyebutkan, IGD rumah sakit yang dia pimpin tutup sementara untuk pasien Covid-19, karena kehabisan ruangan. “Kalau sudah tersedia ruang perawatan dan ada pasien sembuh, baru bisa menerima pasien lagi,” ujar Dodo yang juga Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jatim tersebut.

Kondisi yang terjadi belakangan ini, jauh berbeda dengan sebelum lebaran lalu. Menurut Dodo, saat sebelum lebaran, pihaknya sempat melepas banyak relawan karena jumlah pasien Covid-19 sudah berkurang. Tapi saat ini, ketika Covid-19 kembali melonjak, mereka mulai kesulitan mencari relawan tenaga kesehatan, karena banyak yang sudah ditampung rumah sakit lain.

Bukan hanya soal rumah sakit, lonjakan permintaan tabung oksigen juga memicu kelangkaan dan kenaikan harga. Sejak kasus Covid-19 di Bangkalan meledak, permintaan tabung oksigen di Surabaya ikut melonjak dan harganya kini bahkan sudah naik 3 kali lipat dibanding harga biasa.

Wagub Emil Dardak meminta warganya ikut membantu menekan penambahan kasus Covid-9 dengan mematuhi aturan PPKM darurat. Hanya sejumlah aktivitas yang diperbolehkan tetap berjalan walaupun diatur secara teknis. Di antaranya, untuk sektor essential diberlakukan 50 persen maksimum staf Work from Office (WFO).

Cakupan sektor essential adalah keuangan dan perbankan, pasar modal, sistem pembayaran, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan non penanganan karantina Covid-19, serta industri orientasi ekspor. Kemudian, untuk sektor kritikal diperbolehkan 100% maksimum staf WFO dengan protokol kesehatan.

Cakupan sektor kritikal adalah energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan, minuman dan penunjangnya. Kemudian, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana, proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (seperti listrik dan air), serta industri pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.

Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan karena semua pihak sudah berusaha. “Seluruh institusi pemerintah, TNI-Polri juga tenaga kesehatan sampai rumah sakit telah melakukan ikhtiar secara luar biasa, baik scientific maupun laboratoris” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Paransa.

Dia mengingatkan, di Rumah Sakit Dr Soetomo dan RS daerah seperti di Bangkalan, sudah begitu banyak jenazah, sehingga pihaknya harus membantu menyiapkan ruang depo jenazah untuk pemulasaraan jenazah. Sejumlah rumah sakit sempat kekurangan tenaga pemularasaan jenazah karena banyak yang kelelahan, atau mengundurkan diri karena beresiko tinggi.

Berbagai upaya akhirnya dilakukan agar masyarakat mematuhi ketentuan PPKM Darurat. Wali Kota Surabaya, Eri cahyadi misalnya, akan mengambil tempat duduk di tempat usaha yang hingga pukul 20.00 WIB masih mengizinkan orang duduk atau makan di atas meja dan kursi. Karena ketentuannya sudah jelas, setiap tempat usaha makanan dan minuman dilarang melayani pembelian makan di tempat (dine in).

Sanksi sosial juga diberlakukan pada masyarakat yang masih membeli makan dan memakan di tempat, ngopi di warkop, atau tidak mengindahkan Protokol Kesehatan. Mereka yang ketahuan melanggar, akan dibawa ke makam keputih untuk melihat berapa banyak orang Surabaya yang sudah meninggal. “Kami ingin tunjukkan, ini lho yang terjadi di Kota Surabaya, sehingga paling tidak saya ingin menyentuh hati warga,” ujarnya.

Usai diperlihatkan tempat pemakaman Covid-19 di TPU Keputih, mereka akan dibawa ke Liponsos dan baru pada keesokan harinya akan dilakukan tes usap untuk memastikan status Covid-19. Semua itu harus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Surabaya.***

Tinggalkan Komentar