Internasional
Perang Thailand – Kamboja Tambah Menegangkan, Titik-titik Konflik Baru Muncul

Ribuan warga mengungsi mencari perlindungan setelah perang perbatasan antara Tahailand dan Kamboja makin memanas dengan menelan korban 32 tewas
FAKTUAL INDONESIA: Memasuki hari ketiga Sabtu (26/7/2025), perang perbatasan Thailand melawan Kamboja, semakin menegangkan dan dikhawtirkan makin meluas setelah munculnya titik-titk konflik baru.
Sementara Thailand maupun Kamboja terus mencari dukungan diplomatik dengan mengatakan bahwa masing-masing bertindak untuk membela diri dan meminta pihak lain untuk menghentikan pertempuran dan memulai negosiasi.
Menurut laporan asiaone.com, setidaknya 30 orang tewas dan lebih dari 130.000 orang mengungsi dalam pertempuran terburuk antara dua negara tetangga Asia Tenggara itu dalam 13 tahun.
Angkatan Laut Thailand mengatakan terjadi bentrokan di provinsi pesisir Trat pada Sabtu dini hari, sebuah front baru yang berjarak lebih dari 100 km dari titik konflik lainnya di sepanjang perbatasan yang telah lama diperebutkan.
Baca Juga : Konflik Thailand-Kamboja Memanas, Pemerintah Pastikan WNI Aman di Sana
Kedua negara telah bersitegang sejak tewasnya seorang tentara Kamboja pada akhir Mei dalam sebuah pertempuran singkat. Pasukan di kedua sisi perbatasan diperkuat di tengah krisis diplomatik yang membawa pemerintahan koalisi Thailand yang rapuh ke ambang kehancuran.
Jumlah korban tewas di Thailand tetap 19 pada hari Sabtu, sementara juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Maly Socheata mengatakan lima tentara dan delapan warga sipil tewas dalam pertempuran itu.
Di distrik Kanthralak di provinsi Sisaket, Thailand, di perbatasan dekat beberapa bentrokan, pekerja hotel Chianuwat Thalalai mengatakan kota itu telah kosong.
“Hampir semua orang sudah pergi, kota ini hampir sepi,” kata pria berusia 31 tahun itu kepada Reuters. “Hotel saya masih buka untuk beberapa orang yang tinggal di dekat perbatasan dan membutuhkan tempat menginap.”
Duta Besar Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan dalam pertemuan Dewan Keamanan pada hari Jumat bahwa tentara telah terluka oleh ranjau darat yang baru ditanam di wilayah Thailand pada dua kesempatan sejak pertengahan Juli — klaim yang dibantah keras Kamboja — dan mengatakan Kamboja kemudian melancarkan serangan pada Kamis pagi.
Baca Juga : Konflik Kamboja-Thailand Memanas, Ini Kata Istana
“Thailand mendesak Kamboja untuk segera menghentikan semua permusuhan dan tindakan agresi, serta melanjutkan dialog dengan itikad baik,” ujar Cherdchai Chaivaivid kepada dewan dalam pernyataan yang dirilis ke media.
Perselisihan Puluhan Tahun
Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan Thailand telah melancarkan “serangan militer yang disengaja, tidak beralasan, dan melanggar hukum” pada hari Kamis, dan kini tengah memobilisasi pasukan dan peralatan militer di perbatasan.
“Persiapan militer yang disengaja ini mengungkapkan niat Thailand untuk memperluas agresinya dan semakin melanggar kedaulatan Kamboja,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.
Kamboja menyerukan masyarakat internasional untuk “mengutuk agresi Thailand sekeras-kerasnya” dan mencegah perluasan kegiatan militer Thailand.
Bangkok menegaskan kembali keinginannya untuk menyelesaikan pertikaian tersebut secara bilateral, dengan menyampaikan kepada Dewan Keamanan bahwa “sangat disesalkan bahwa Kamboja secara sengaja menghindari dialog yang bermakna dan malah berusaha menginternasionalkan masalah tersebut untuk melayani tujuan politiknya sendiri”.
Baca Juga : PM Paetongtarn di Tepi Pemakzulan, Diskors MK Thailand Gara-gara Percakapan Telepon Bocor
Thailand dan Kamboja telah berselisih selama puluhan tahun mengenai yurisdiksi berbagai titik yang tidak dibatasi di sepanjang perbatasan darat mereka sepanjang 817 km, dengan kepemilikan kuil Hindu kuno Ta Moan Thom dan Preah Vihear abad ke-11 menjadi pusat perselisihan.
Preah Vihear diberikan kepada Kamboja oleh Mahkamah Internasional pada tahun 1962, tetapi ketegangan meningkat pada tahun 2008 setelah Kamboja berupaya memasukkannya sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Hal itu menyebabkan pertikaian selama beberapa tahun dan sedikitnya belasan kematian.
Kamboja pada bulan Juni mengatakan pihaknya telah meminta pengadilan untuk menyelesaikan perselisihannya dengan Thailand, yang mengatakan tidak pernah mengakui yurisdiksi pengadilan dan lebih memilih pendekatan bilateral. ***














