Connect with us

Ekonomi

Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham akhir pekan Jumat (9/1/2026) terus berada di zona hijau sebelum ditutup menguat ke level 8.936,754. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bangkit kembali dengan dibuka dan ditutup menguat pada perdagangan saham akhir pekan, Jumat (9/1/2026), setelah sehari sebelumnya tergelincir ke posisi melemah.

Pada perdagangan saham akhir pekan, Jumat (9/1/2026), IHSG BEI sudah langsung masuk zona hijau sejak pembukaan ketika dibuka menguat 43,68 poin atau 0,49 persen ke posisi 8.969,15. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,07 poin atau 0,58 persen ke posisi 872,69.

Dengan bergerak di rentang 8.908,173-8.981,021, meskipun kenaikan menurun namun IHSG tetap berada di zona hijau saat penutupan perdagangan Jumat sore. IHSG ditutup menguat menguat 11,28 atau 0,13 persen ke posisi 8.936,75. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,40 poin atau 0,05 persen ke posisi 868,02.

Baca Juga : IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika

Sebanyak 359 saham menguat, 318 saham terkoreksi, serta 137 saham stagnan. Mayoritas indeks utama terkoreksi. IDX30 turun 0,22%, Sri-Kehati turun 0,35%, dan JII turun 0,06%. Sementara LQ45 dan ISSI masing-masing menguat 0,05% dan 0,29%.

Penguatan IHSG, ditopang kombinasi sentimen positif dari dalam negeri maupun global. Pergerakan IHSG yang konsisten di zona hijau sejak pembukaan mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan.

Advertisement

Seperti dilansir tvonenews, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai penguatan IHSG didukung oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang cukup solid. Menurutnya, pelaku pasar merespons positif berbagai data ekonomi yang memberi sinyal pemulihan daya beli dan stabilitas ekonomi.

“Sentimen eksternal dan internal menopang laju IHSG,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Baca Juga : IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi

Dari mancanegara, mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak menguat. Salah satu sentimen utama datang dari Jepang, setelah data menunjukkan pengeluaran rumah tangga pada November 2025 meningkat secara tak terduga. Kenaikan ini memunculkan optimisme bahwa konsumsi domestik Jepang mulai pulih, sekaligus memberi sentimen positif bagi pasar regional.

Di sisi lain, investor global masih bersikap hati-hati sambil menanti rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) periode Desember 2025. Data tersebut dinilai krusial untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve. Pelaku pasar juga mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif yang diberlakukan pada era pemerintahan Presiden Donald Trump. Putusan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan global dan sentimen pasar keuangan.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari laporan Bank Indonesia (BI) terkait Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Pada Desember 2025, IKK tercatat di level 123,5, yang menunjukkan konsumen tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi. Capaian ini mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap stabilitas ekonomi nasional serta efektivitas kebijakan fiskal pemerintah dalam menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Optimisme konsumen tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan IHSG di tengah ketidakpastian global.

Advertisement

Baca Juga : Dampak Amerika Serang Venezuela, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Justru Melemah

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 3,30 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor properti yang naik masing-masing sebesar 2,38 persen dan 2,18 persen.

Sedangkan, dua sektor melemah yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,40 persen, diikuti oleh sektor keuangan yang turun sebesar 1,07 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KOCI, HILL, APLN, PPRE dan MINA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni OPMS, CRSN, SMLE, ISMKM dan MBSS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3,468.511 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,02 miliar lembar saham senilai Rp27,45 triliun. Sebanyak 359 saham naik, 318 saham menurun, dan 137 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 822,59 poin atau 1,61 persen ke 51.939,89, indeks Hang Seng menguat 82,47 poin atau 0,32 persen ke 26.231,78, indeks Shanghai menguat 37,45 poin atau 0,92 persen ke 4.120,43, dan indeks Strait Times menguat 5,90 poin atau 0,12 persen ke 4.744,66.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Menguat Memburu Target Purbaya Level 10.000

Prospek Pekan Depan

Sepanjang pekan ini, menurut kontan, IHSG telah menguat 2,16%. Bahkan, IHSG sempat kembali memecahkan rekor tertinggi di level 9.000 ketika perdagangan intraday kemarin.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, penguatan IHSG dibarengi oleh peningkatan volume pembelian. Ada beberapa sentimen yang memengaruhi IHSG selama pekan ini.

Di antaranya adalah rilis data makro nasional, di mana rilis data inflasi Desember 2025 yang naik 2,92% year on year (yoy) dan cadangan devisa yang naik menjadi US$ 156,5 miliar pada Desember 2025.

Selain itu, memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) – Venezuela pada awal pekan yang mana hal tersebut meningkatkan kekhawatiran para investor, sehingga harga emas dunia cenderung menguat. Sentimen lainnya berasal dari penguatan harga nikel yang turut berdampak positif terhadap pergerakan harga saham-saham emiten di IHSG.

Advertisement

Baca Juga : Pemerintah Yakin Pasar Modal Kian Kuat, IHSG Diproyeksi Capai Level 10.000

“Tercapainya area psikologis IHSG di 9.000 dan setelahnya IHSG cenderung volatil di mana hal tersebut wajar terjadinya pullback dan aksi ambil untung,” ujar dia Jumat (9/1/2026).

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menambahkan, pada awal pekan nanti IHSG diperkirakan cenderung melemah dengan rentang level support 8.870 dan resistance 9.009 dengan indikator RSI masih menunjukkan berada di area overbought.

Selama pekan depan, lanjut Audi, pasar saham akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen seperti kelanjutan tren depresiasi rupiah yang sudah menyentuh level Rp 16.800 per dolar AS hingga kelanjutan penguatan harga komoditas seperti emas yang sudah mencapai level US$ 4.470 per ons troi dan perak ke level US$ 77 per ons troi sehingga berkorelasi positif pada emiten di sektor tersebut.

“IHSG juga akan dipengaruhi oleh penantian data inflasi AS yang diperkirakan masih tumbuh 2,6% yoy dan akan mempengaruhi sikap dovish The Fed,” tutur Audi. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement