Ekonomi
Kapasitas Pembangkit Naik, Bauran EBT Listrik Lampaui Target, Menteri ESDM Bahlil: Tahun 2026 Kita Harus Genjot

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, kehadiran listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan investasi dan industri nasional. (Kementerian ESDM)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengemukakan, Pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan sektor ketenagalistrikan, termasuk peningkatan pembangunan pembangkit sesuai yang telah ditetapkan pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Tekad Menteri ESDM Bahlil itu dicanangkan menyambut kenaikan kapasitas terpasang di tahun 2025. Kemudian juga Kementerian ESDM berhasil mencatatkan rapor positif dalam program transisi energi nasional tahun 2025 dengan capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 15,75%.
“Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot. Karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini,” ujar Bahlil pada Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga : Tinjau Langsung Infrastruktur Ketenagalistrikan Terdampak Bencana Aceh, Menteri ESDM Bahlil: Sekarang Waktunya Kerja untuk Ibu Pertiwi
Menurut Bahlil, peningkatan akses masyarakat terhadap listrik menjadi salah satu prioritas Pemerintah di tahun 2025. Sepanjang satu tahun terakhir, kenaikan kapasitas terpasang sekitar 7 gigawatt (GW) menjadi 107,51 GW dari sebelumnya 100,65 GW di tahun 2024. Kenaikan ini menjadi bukti bahwa Pemerintah terus berkomitmen memperkuat ketahanan energi dan mencapai swasembada energi sesuai Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo.
Bahlil mengatakan bahwa kenaikan kapasitas terpasang ke depannya harus ditingkatkan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Kehadiran listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan investasi dan industri nasional.
Melansir laman kementerianesdm, secara historis, kapasitas terpasang pembangkit selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun sejak 2020 silam. Pada tahun tersebut kapasitas terpasang pembangkit tercatat sebesar 72,75 GW di 2020 dan naik menjadi 74,53 GW di 2021. Tren positif ini berlanjut pada 2022 di mana terdapat pertumbuhan menjadi 83,81 GW, kemudian mencapai 91,17 di 2023.
Baca Juga : Respon Cepat Pasca Bencana Aceh dan Sumatera, Menteri ESDM Bahlil Kirim 1.000 Genset dan 3.000 Kompor Gas
Pemerintah juga menargetkan peningkatkan konsumsi listrik per kapita di tahun 2025 sebesar 1.464 kilowatt hour (kWh). Realisasinya melampaui target tersebut, yakni mencapai 1.584 kWh atau 108,2% dari target. Pencapaian ini menandakan adanya pertumbuhan permintaan dan pemerataan akses listrik, hingga ke daerah terpencil.
“Jadi konsumsi kita naik. Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan,” jelas Bahlil.
Dia menyampaikan, kenaikan konsumsi per kapita ini tidak terlepas dari keberhasilan program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, Program Listrik Desa telah direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Sementara, hingga 31 Desember 2025, program BPBL telah direalisasikan untuk 205.968 rumah tangga.
Baca Juga : Tiba di Padang, Wamen ESDM Imbau Pertamina Koordinasi dengan Kepolisian untuk Pengawalan Truk-truk LPG dan BBM
Bauran EBT Lampaui Target RUKN
Dalam bagian lain, Bahlil mengungkapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berhasil mencatatkan rapor positif dalam program transisi energi nasional tahun 2025 dengan capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 15,75%. Keberhasilan ini ditandai oleh rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT terbesar selama lima tahun terakhir hingga menyentuh angka 15.630 MW.
Secara terperinci, kapasitas tersebut didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menyumbang sebesar 7.587 MW, disusul oleh bioenergi sebesar 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW. Selain itu, kontribusi dari sumber energi lain juga terus berkembang, di antaranya tenaga surya sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, angin sebesar 152 MW, serta pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.
“Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara,” ucap Bahlil.
Baca Juga : Bencana Sumatera, Percepat Pulihkan Pasokan Listrik dan BBM, Menteri ESDM Bahlil: Tower Dikirim Pakai Hercules
Lebih lanjut Bahlil menegaskan bahwa capaian ini diraih di tengah tantangan global yang tidak menentu. “Sesungguhnya saya mau sampaikan bahwa tahun 2025 ini adalah tahun yang penuh cobaan dan dinamika, ada suka duka yang cukup luar biasa. Tapi bagi kami, setiap ada tantangan justru di situlah harus ada kehadiran kita dalam rangka menunjukkan apa yang menjadi target dari Bapak Presiden,” ungkapnya.
Sementara itu, khusus untuk ketenagalistrikan capaian bauran EBT telah melampaui target yang sudah ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). “Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi.?
Di sisi investasi, subsektor EBT dan Konservasi Energi (EBTKE) menunjukkan ketangguhan dengan realisasi mencapai USD 2,4 miliar. Secara makro, sektor ESDM tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan capaian PNBP sebesar Rp138,37 triliun (108,56% dari target), yang mencerminkan pengelolaan sumber daya energi yang efektif dan berkelanjutan. ***














