Connect with us

Nasional

Status Waspada, Gunung Ibu Halmahera Barat Malut Erupsi Lontarkan Abu Vulkanik 600 Meter

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Status Waspada, Gunung Ibu Halmahera Barat Malut Erupsi Lontarkan Abu Vulkanik 600 Meter

Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara (Malut) kembali erupsi Kamis (4/12/2025) sementara sehari sebelumnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur (Jatim) 16 kali erupsi. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Masih berada dalam status Level II atau Waspada, Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara (Malut), kembali erupsi Kamis (4/12/2025) pagi.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu, erupsi terjadi pukul 11.40 WIT atau 09.40 WIB.

Petugas PGA Ibu, Saum dalam keterangan tertulisnya mengemukakan gunung dengan 1.325 meter dari permukaan laut itu menyemburkan abu vulkanik setinggi hingga 600 meter di atas puncak gunung.

“Erupsi sekitar pukul 11.40 WIT dengan tinggi kolom abu teramati setinggi 600 meter di atas puncak,” kata Saum seperti dilansir VOI.

Baca Juga : Usai Erupsi Gunung Semeru, Pemkab Lumajang Umumkan Masa Transisi 90 Hari

Dia menjelaskan kolom abu Gunung Ibu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke timur laut dan timur.

Advertisement

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 28 mm dan durasi sekitar 41 detik.

Dengan status Level II atau Waspada maka masyarakat di sekitar Gunung Ibu dan pengunjung atau wisatawan diminta tidak beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dan perluasan sektoral berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif gunung.

“Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung masker dan kacamata, agar terhindar dari paparan abu Gunung Ibu,” ucapnya.

Dia meminta kepada semua pihak menjaga situasi kondusif masyarakat, tidak menyebarkan hoaks dan tidak terpancing isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah,”kata Saum.

Advertisement

Baca Juga : Status Tanggap Darurat Akibat Erupsi Gunung Semeru Diperpanjang Hingga 2 Desember 2025

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung atau dengan Pos Pengamatan Gunung Ibu di Desa Gam Ici, Kecamatan Ibu untuk mendapatkan informasi langsung tentang aktivitas Gunung Ibu.

Gunung Semeru 16 Kali Erupsi

Sehari sebelumnya Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur tercatat, mengalami 16 kali erupsi dengan tinggi letusan hingga mencapai 1.100 meter di atas puncak pada Rabu sejak pukul 00.31 WIB hingga 08.42 WIB.

Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.31 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak, sedangkan erupsi ke-16 terjadi pada pukul 08.42 WIB dengan visual letusan tidak teramati karena tertutup kabut.

“Erupsi yang disertai letusan tertinggi terjadi pukul pukul 05.55 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.100 meter di atas puncak atau 4.776 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.

Advertisement

Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya dan saat laporan itu dibuat erupsi masih berlangsung.

Baca Juga : Sebanyak 651 Prajurit TNI Dikerahkan untuk Percepatan Pemulihan Usai Semeru Erupsi

Berdasarkan pengamatan kegempaan pada Rabu pukul 00.00 sampai 06.00 WIB tercatat Gunung Semeru mengalami 53 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 11-22 mm, 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-7 mm, dan satu kali gempa embusan dengan amplitudo 6 mm.

Liswanto menjelaskan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu statusnya Siaga atau Level III, sehingga Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi yakni masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

“Di luar jarak tersebut masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.

Selain itu masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement