Connect with us

Nasional

Kak Seto Beri Resep Membangkitkan Siswa MTsN 19 agar tidak Terbawa Trauma

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi melakukan penyembuhan trauma terhadap siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 11, Jakarta, Kamis (13/10/2022)

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi melakukan penyembuhan trauma terhadap siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 11, Jakarta, Kamis (13/10/2022). (Ant)

FAKTUAL-INDONESIA: Seto Mulyadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), memberikan resep penyembuhan trauma terhadap siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 11 Jakarta Selatan.

Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto juga mengajak para psikolog, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan para alumni mahasiswa untuk sama-sama memadukan pengetahuan mengenai penyembuhan trauma.

Adapun sejumlah petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga turut memberikan pendampingan kepada para siswa dengan memberikan permainan hingga mengajak menyanyi bersama.

Kegiatan ini dilakukan paska kejadian hujan deras yang berlangsung Kamis (6/10) siang menyebabkan air masuk ke lapangan MTsN 19 Jakarta Selatan.

Tembok pembatas roboh sekolah menimpa tembok panggung tempat anak bermain. Akibatnya, tiga siswa wafat dan dua siswa dirawat.

Advertisement

Kegiatan ini terbilang sederhana dan mudah dilakukan, mulai dari menyanyi, olahraga hingga para siswa bisa mencurahkan hatinya, kata dia.

“Harapannya ini bisa dilakukan semua saja, guru dan orangtua. Kita kasih resep saja bagaimana membuat anak bisa bangkit kembali dan meneruskan masa depannya,” katanya.

Kak Seto menjelaskan pentingnya kegiatan psikomotorik sehingga anak-anak bisa bergerak lepas dengan mengeluarkan emosi mereka.

“Intinya ingin mencoba membangkitkan mereka semua, mengelola emosinya supaya tidak terus terbawa perasaan trauma,” kata Kak Seto, saat ditemui di MAN 11, Jakarta, Kamis.

Menurutnya, penting kegiatan ini dilakukan agar anak tidak hanya diam termenung sehingga bisa memunculkan pikiran saat bencana yang pernah dilihat mereka beberapa waktu lalu.

Advertisement

Dengan adanya berkumpul bersama, mereka diharapkan bisa belajar bersosial (social learning) dengan melihat teman-temannya agar bisa tetap bahagia sehingga bisa terpengaruh untuk ikut merasakan. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement