Ekonomi
Biaya Avtur Naik, Cathay Pacific Pangkas Penerbangan hingga Juni 2026

Cathay Pacific kurangi jumlah penerbangan hingga Juni 2026. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Cathay Pacific Airways akan mengurangi jumlah penerbangan penumpang mulai pertengahan Mei hingga akhir Juni 2026 menyusul lonjakan biaya bahan bakar jet akibat konflik di Timur Tengah.
Maskapai tersebut menyatakan akan memangkas sekitar 2% dari total penerbangan penumpang terjadwal pada periode 16 Mei hingga 30 Juni 2026. Sementara itu, anak usahanya, HK Express, akan mengurangi sekitar 6% jadwal penerbangan mulai 11 Mei.
Selain pengurangan frekuensi, layanan penerbangan menuju Dubai dan Riyadh juga tetap ditangguhkan hingga akhir Juni.
Baca Juga : Garuda Indonesia, Bukan Lagi Maskapai Penerbangan Bintang 5
CEO Cathay Pacific Ronald Lam mengatakan lonjakan harga avtur dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, yang turut mengganggu lalu lintas penerbangan di wilayah tersebut.
“Situasi ini berdampak pada kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar,” ujarnya.
Meski demikian, Cathay Pacific tetap menargetkan peningkatan kapasitas penumpang hingga 10% sepanjang 2026, didorong oleh tingginya permintaan penerbangan jarak jauh ke Amerika Utara, Eropa, dan Australia.
Baca Juga : Lagi, Kecelakaan Pesawat di Landasan Pacu Bandara Jepang
Pelaku industri menilai tekanan biaya belum akan mereda dalam waktu dekat, meskipun sempat terjadi gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Pasokan bahan bakar jet diperkirakan masih terbatas dan berharga tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Sejumlah analis juga memperkirakan normalisasi baru akan terjadi setelah jalur-jalur strategis, termasuk Selat Hormuz, kembali stabil sepenuhnya.
Setelah periode penyesuaian berakhir pada Juni, Cathay Pacific dan HK Express berencana mengoperasikan kembali seluruh jadwal penerbangan secara normal.
Kebijakan ini mencerminkan tekanan yang masih dihadapi industri penerbangan global di tengah volatilitas harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.***













